29 Agustus 2009

Berhentilah Sejenak



Sudahlah hati
cukup hari ini
jangan biarkan terus mengalir
biarkan ia berhenti
sejenak
sekedar menarik nafas kelegaan

sudahlah hati
biarkan sampai disini
jangan teruskan
tutup jendela dan hening

sudahlah hati...

Penyair Tanpa Rasa




Aku adalah penyair tanpa rasa
rasa ku hanya satu
getir
itu saja cukup
cukup untuk melukiskan semua warna
namun tak berbingkai
tak apa
karna hanya aku yang memilikinya
sudahlah
kau tak perlu bicara
cukup baca dan nikmati cerita ku

Merah Putih


Siang ini
aku memandang Merah Putih
yang masih berkibar bangga dihadapan ku

angin menguraikan helainya
melambai dan bergoyang

senyum ku tersungging
Indonesia ku masih Merdeka

Fajar



Fajar...
Ku panggil ia demikian
tak berbentuk
tak bertulang
ia hanya warna
kuning
ku beri ia warna itu
ia suka--aku yakin itu

Fajar...
ia ungkapan ku
inspirasi ku
tiada jemu
tiada mengeluh

Tapi...
kini ia menghilang
tiba-tiba
atau karna aku tak lagi mempedulikannya
ia lari dari mimpi ku
kemudian mengambil rasa ku
jauh..
jauh..
dan semakin jauh dari genggaman ku...

Rapuh




Terasing

Tersingkirkan

Lalu mati,

Kemudian musnah...



--Selalu menunggu dalam harap yang terbatas---

Menakhlukkan Waktu


Kita mempunyai sepasang tangan
Untuk mengenggam sebuah waktu
Sanggupkah?
Try...seharusnya begitu
Apa kau bisa?
Aku bisa--kenapa tidak
Aku adalah si penakhluk waktu itu
Kau mau?
Ikutilah--aku akan menuntun mu
Ayo berikan tangan mu

Lonely



Siang berarak
Harusnya indah
Tapi sepi
Sepi dan hening
Tak bergerak
Tak bernafas
Diam
Angin menderu lambat....



Kotak Mimpi Rawit

Kemarin aku baru saja menulis sebuah cerita. Ku beri judul "KOTAK MIMPI RAWIT". Entahlah dari mana aku mendapat ilham itu. Semua melintas dengan tiba-tiba di otak kecil ku. Tanpa rencana dan tanpa salam pembuka. Selalu begitu yang terjadi pada ku. Spontan dan tak menuntut apa-apa. Lalu jika kau bertanya, kata RAWIT dari mana pula aku mendapatkannya? Aku akan menjawabnya dengan tertawa. Rawit. Tentu saja kata aneh itu terlalu mencolok dan pantas untuk dipertanyakan.

Begini. Menjawab rasa penasaran mu, biarlah ku uraikan sedikit kisahnya. Lagi, aku tertawa sebelum memulai cerita itu.

Pada suatu hari aku membuka layar fesbuk ku, kau tahu kan tempat itu tengah mencandui siapapun kini. Nah, akupun demikian. Ditempat itu aku berkenalan dengan seorang cowok yang munurut ku cukup "sableng". Yach, kau tahulah arti kata dikutip itu? Tidak arti sesungguhnya. Lewat perkenalan itu, aku kemudian mengetahui bahwa ia adalah salah seorang senior ku semasa kuliah. Aku ingat, pernah mendengar namanya cukup populer dimata sebagian teman-teman ku. Tapi aku tak pernah benar-benar melihatnya. Oh, barangkali pernah cuma tidak mengingatnya. Tak penting juga kan. Tapi kali ini penting, aku berusaha mengingatnya namun tak berhasil. Ingatan ku tak cukup tajam untuk itu. Tak penting juga kan membicarakan itu, mengingat aku kini sedang menceritakan kisah kata RAWIT itu.

Begini. Hmm.....(berusaha mengingat). Ah....Bagaimana mulainya aku lupa, yang jelas gelar itu ia berikan pada ku cuma-cuma, mengingat aku adalah seorang yang simbolik seperti cabe rawit. Entahlah maksudnya begitu (dengan geer aku tertawa). Mungkin saja. Awalnya panggilan itu membuat ku (sedikit) merasa marah, padahal tidak juga. Tapi kemudian aku menyukainya, cukup menarik (pikir ku). Hingga tanpa sengaja aku menulis sebuah cerita, ku beri dengan nama itu. Wah...jangan-jangan dia menjadi ge-er. Tapi biarlah, aku hanya bilang, aku menyukai panggilan itu. Seperti aku menyukai cerita yang ku tulis. Hm...dasar narsis....



milkysmile


--cerita konyol--

Ramadhan Kali Ini


Satu hari tanpa sujud pada Mu Rabb, aku merasa menjadi orang kafir sedunia. Detak nafas ku terasa berhenti, seolah Kau tengah menghukum ku dengan itu. Barangkali tidak juga, aku hanya merasa sangat bersalah hingga merasa demikian. Aku terlalu naif. Padahal aku begitu membutuhkan Mu ya Allah. Ramadhan kali ini sungguh ujian yang berat bagi ku. Apa aku bisa melaluinya?? Ku harap demikian. Dan aku yakin Engkau selalu bersama ku ya Allah...

Menjauhi Rasa


Mencoba menjauh dari rasa.
Itu yang tengah ku lakukan kini. Menepis perasaan untuk tidak mengenal kata rasa. Tahu kah kau artinya? Tentu saja kau tak tahu dan tak akan pernah tahu. Karna rasa ini hanya milik ku. Dan aku berhak untuk itu.

Mencoba menjauh dari rasa.
Ternyata mencoba tak semudah mengucapkannya. Terlalu sulit. Rasa ini terus mendera ku. Karna ia datang tidak dengan keinginan ku. Tahu kah kau kenapa? Karna aku ini seorang manusia. Rasa ini akan selalau datang dan pergi tanpa bisa ku cegah. Tuhan ku telah meniupkan rasa ini pada ku. Aku bisa apa jika Dia telah berkehendak. Jawabannya tentu kau tahu. Aku hanya bisa menghadapinya. Tapi bagaimana caranya? Beberapa dekade hidup telah ku habiskan dengan memiliki rasa. Hanya memilikinya, itupun hanya sepihak. Tapi rasa tidak pernah memahami ku. Ia menyakiti ku bertubi-tubi.

Mencoba menjauh dari rasa.
Barangkali ini lah yang tengah ku pikirkan kini. Entahlah jika esok hari akan berubah. Entahlah.

Semoga....


--Hopeless--


28 Agustus 2009

Belajar Metamorfosis


"Apa kabar mu?" tanya ku pada mu hari ini.
Pertanyaan yang basi memang. Tapi cukup sebagai salam pembuka pembicaraan kita.
"Tidak terlalu baik" jawab mu lirih.
Sangat lirih, hingga nyaris aku tidak mendengarnya. Aku tahu. Kata ku bergumam. Kau tak akan pernah baik-baik saja, setelah penyakit itu merenggut hidup mu. Tapi tidak juga, kau terdengar lebih dewasa. Entalah itu karna efek penyakit mu, atau hanya sebuah metamorfosis dari seorang Rona. Aku tak tahu. Yang ku tahu, kau tampak berbeda. Aku bisa merasakannya.

Setelah itu kita mulai bercerita tentang masa-masa lalu yang pernah kita habiskan bersama. Bukan hanya tentang kita, tapi juga tentang mereka--teman-teman kita. Tidak banyak yang bisa kita ceritakan ternyata, karna memang mereka tak lagi sama. Sebagian dari mereka hilang --menguap. Entahlah dimana atau kemana. Dan akhirnya kita mengembalikan kenangan itu ketempatnya. Cukup hari ini, batin ku. Karna ku tak mau semua kenangan terurai, dan mengorek kenangan pahit yang telah ku kubur mati. Tidak. Cukup hanya disini, tak lebih batas itu.

Kemudian kita melanjutkan percakapan ke masa depan. Melirik langkah, dimana kita memulainya.
"Ku dengar kau jadi guru?" tanya ku meyakinkan.
"Ya. begitulah" jawab mu masih dengan lirih. Entahlah karna kau letih hingga tak bisa mengucap kata dengan lebih jelas. Ku tahu, jelas kau hari ini tak puasa. Tak sanggup, karna kau sedang sakit. Oh tuhan, aku lupa. Kau sedang sakit. Tentu saja itu efek dari sakit mu. Mengapa aku begitu bodoh hingga mempertanyakan lagi. Dasar manusia berpikiran negatif, kutuk ku pada diri sendiri.

Jadi guru. Aku kembali pada kata itu. Kemudian tertawa membayangkan kau jadi guru. Sungguh, sesuatu yang tak terbayangkan sebelumnya untuk ku. Untuk mu juga, kata mu. Aku tahu. Aku telah mengenal dirimu lebih kurang 6 tahun. 3 tahun kita pernah tinggal bersama dan menjadi keluarga. Bagaimana mungkin aku tak mengenalmu. Aku memahami mu lebih dari siapa pun, tapi tak ku ungkapkan karna aku tak begitu yakin.

Akhirnya kita menghabiskan waktu dengan bercerita tentang bagaimana kau memulai metamorfosis mu. Aku begitu tersentuh. Ternyata kau masih sekuat yang dulu. Tentu saja. Bagi ku kau tak pernah sakit. Aku yakin itu. Aku bukan orang yang tak ingin memperhatikan mu, tapi aku selalu melihat mu dari jauh. Ada saatnya aku akan datang menghampiri mu, dan itu hanya di saat kau merasa perlu kehadiran ku. Peduli dengan cara ku sendiri. Dan itulah cara ku. Bukan seperti "mereka" yang selalu disamping mu. Mereka. Ups...aku hampir keluar batas. STOP. Jangan lanjutkan.

Ikhlas....
Itu kata yang keluar dari bibir mu. Kata yang sempat membuat ku terdiam. Ikhlas. Tentu saja. Itu kata yang paling tepat untuk memulai langkah kita. Metamorfosis hidup kita. Dan kita baru saja menyepakatinya--hari ini.
IKhlas...sebenarnya kata itu selalu bersemayam dihati ku. Sekian lama. Tanpa pernah tahu apa artinya. Tanpa pernah tahu, apa aku pernah menjalaninya. Dan kau mengingatkan ku akan hal itu. Ternyata aku pernah--sekali. Saat ini. Saat ketika aku tak mampu meneropong masa depan ku. Kau menghipnotis ku dengan kata itu. Aku tertawa, hanya dalam hati ku. Ternyata kita tak pernah berubah. Selalu ada kesamaan antara kita. Apa kau menyadarinya? Sekian dekade kita habiskan dengan menjalani hidup yang sama, di dunia yang sama. Apa kau bernah berpikir, bahwa kita tak terlalu jauh berbeda. Entahlah. Ku pikir itu tak terlalu penting.

Ikhlas...kata itu tengah mengawali gerak ku kini. Dan aku tahu, aku akan mulai menyimpan kata-kata itu kini. Kata yang sebenarnya terlalu lumrah, namun sangat berarti karna itu keluar dari bibir seorang Rona.

Mengisi cerita-cerita yang kosong, akhirnya kita sampai pada batas waktu. Dimana kita harus menutup cerita lama, meninggalkannya. Belajar metamorfosis itulah yang seharusnya kita lakukan kini. Melakukan suatu perubahan yang mustahil pernah terpikirkan dalam otak masa lalu kita yang amburadul. Lagi-lagi tanpa kata, kita seolah menyepakati itu. Setuju, jawab ku dalam hati. Seharusnya itulah yang terjadi kini. Kita semakin dewasa. Aku, kamu--kita dan semua. Semakin lama bayangan masa lalu semakin jauh tertinggal. Namun bukan berarti kita tak akan pernah menguliknya lagi. Ia akan selalu bersemayam dalam kotak kenangan kita. Pindora--aku sempat ingat kau menyebutnya demikian. Seperti hari ini, kita kembali mengukir cerita dari bayangan masa lalu. Masa lalu adalah batu pijakan dan juga cermin, mustahil ia akan terkubur terlalu dalam.

Sekian waktu berlalu, akhirnya aku mengakhiri percakapan kita. Tapi aku berjanji, kita akan mengulangnya lain waktu. Ku akhiri dengan basa-basi pula.
"Cepat sembuh ya"
"Ya. terima kasih" kata mu lirih.
Aku tertawa. Ah, sebuah penutup yang terlalu datar.



(Sebuah percakapan pendek dengan seorang sahabat)


Satu Kata Terbaik : Berpisah



Sibuk.
Itu kata yang selalu kau katakan. Apa kau tahu arti kata itu untuk ku? Sakit. Itulah yang bisa ku simpulkan. Aku sakit mendengarnya. Tidak kah kau merasa? Tentu tidak, karena dunia mu tak lagi membuat mu peka akan rasa ku. Semua telah berubah, seperti halnya waktu yang terus berlalu. Apa kau ingat, dulu kita satu. Rasa kita sama. Tak satu pun masalah yang menguntai simpul hati kita. Ia terikat erat. Tersimpul mati. Apa kau ingat?? Tentu saja kau ingat. Hanya sebatas itu. Kau tak akan bisa meraihnya lagi. Satu kata telah memutus simpul kita. Menguntainya menjadi jalur yang panjang. Cukup pula untuk mengubah alur cerita yang pernah kita buat. Keadaan. Kau menyebutnya demikian. Aku tak percaya kau mengucapkan kata itu, tapi itu jua yang kau katakan. Waktu itu aku hanya terseyum sinis. Merasa tak percaya semua akan berubah dengan satu kata itu. Tapi aku salah. Setelah kata itu terlontar dari bibir tipis mu, kau pun berlalu. Dan benar, keadaan telah merubah segalanya.

Cinta.
Setelah sekian lama berlalu, semestinya kau tak perlu mengucapkan kata itu lagi. Aku tak membutuhkanya. Karna hati kita tak lagi satu. Kini hanya ada dingin. Rasa hampa tengah menjerat kita. Semestinya cinta tidak pernah begitu, tapi itulah yang terjadi. Kita tak perlu mengulang yang berlalu. Karna waktu tidak akan pernah sama lagi. Kau mengerti maksud kan? Aku yakin kau mengerti.

Berpisah.
Seharusnya itulah yang kita lakukan ketika kau menyebut kata sibuk. Karna memang semua tak mungkin dirangkai kembali. Simpul itu telah terbuka, terurai menjadi ceceran-ceceran kenangan yang menyakitkan.

Berpisah.
Kini aku mengerti, sebesar apapun keinginan kita untuk bersama, itu semua sudah terlambat. Terlambat untuk menyambungnya kembali. Keadaan telah merubahnya, seperti yang kau katakan.

Mengertilah, seharusnya ini yang terbaik....



16 Agustus 2009

How I Feel


Jangan tanya bagaimana perasaan ku kali ini. Aku sakit, terlalu sakit untuk menunjukkannya. Jangan pernah menanyakan keadaan ku. Karna kau akan tahu jawabannya. Aku berusaha mengerti diri mu, tapi apa kau mengerti aku. Entahlah. Kau terlalu egois untuk mengakuinya. Ah...sudahlah, aku tak ingin kau mempertanyakannya lagi...



--Muak dengan tanya mu--


14 Agustus 2009

Muak

MUAK...itu yang ku rasakan saat kau kembali hadir dalam hidup ku. Aku tak butuh maaf dan tak juga butuh sanjungan. Aku hanya ingin seperti saat ini, saat dimana aku tak merasakan apa-apa. Saat aku bisa terus tertawa tanpa bayang mu menghantui siang ku. Pergi saja dari sisi ku. Karna waktu ku telah habis ku untuk mu. "Cinta Sudah Terlambat". Begitulah tepatnya yang ku simpulkan. Bukan sebuah kalimat yang berusaha ku rangkai untuk memberi mu jawaban. Itu hanyalah tiba-tiba, ketika sebuah suara mensyairkannya di telinga ku. Bagaimana pendapat mu?? Bisa kah kau terima kalimat itu?? Berusahalah mengerti keputusan ku. Akuilah bahwa itu memang kata yang tepat. Kata yang seharusnya menjawab hubungan ini.

MUAK...itu yang terus saja ku kata kan pada hati ku. Mengapa kau tak jua mengerti itu?? Entahlah kau makhluk apa, seperti nya hati mu tak pernah bicara. Setelah kau menyakiti ku, mencampak kan ku tanpa pesan. Kini kau kembali hadir dan tak berusaha menerima jawaban ku. Sekali lagi ku tanya, makhluk apakah dirimu??

MUAK....itu kata yang kini ku teriakkan pada hujan sore ini. Entahlah kau mendengarnya atau tidak. Aku tak peduli. Dan aku juga tak peduli jikakau akan tersakiti, karna mungkin kau tak akan pernah merasa sakit.

MUAK....itulah kata yang ku pilih untuk mengakhiri kisah ini...

07 Agustus 2009

Mati Rasa


Mati rasa. Itu yang ku rasakan saat ini.
Keinginan ku untuk semua hal terbang, menguap entah kemana.
Ku cari-cari disekeliling ku, tak akan pernah lagi ku temui sebuah jawaban.
Hanya ada tanya.
Mungkin kah aku bisa menjawabnya??
Entah lah esok hari.
Tapi tidak hari ini.
Tahu apa sebabnya?
Karna rasa ku telah mati.