"Indak ado nasi. Amak ndak batanak" itu yang dikatakan ibuku ketika melihatku tertegun menatap hidangan di balik tudung.
"Baa tu?" tanyaku heran. Tidak biasanya seperti ini. Sesulit apapun kami, tidak pernah nenek membiarkan kami kelaparan seperti ini.
"Ndak ado pitih pambali bareh" begitu jawab ibuku lirih.
Aku membisu mendengar jawabannya. Dadaku sesak. Tanpa berkata apa-apa, aku lantas mencari nenek yang kini tengah bergelung di sofa. Diam-diam aku menatapnya, tampak semakin renta dan sedikit gemetaran.
"Tadi siang lai makan?" kembali aku bertanya pada ibuku yang juga sama halnya dengan nenek. Gemetaran menahan lapar.
"Ndak ado doh. Yang tadi pagi tu se nyo"
Kerongkonganku langsung tercekat mendengarnya. Wajahku memanas. Dadaku semakin sesak. Bahkan senja hampir saja berlalu, tapi mereka rela menahan lapar demi meninggalkan segumpal nasi untuk kumakan sepulang kerja.
Aku tak bisa menahan tangis ketika langkahku bergegas menuju rumah makan. Bayang-bayang menyakitkan di masa lalu kembali menggelinding di depan mataku.
Dulu, setelah ibuku menderita sakit dan papa meninggalkanku, nenek yang menjagaku. Membiayai dan melengkapi kebutuhanku. Termasuk makanku. Setiap Senin ia berjualan pisang ke pasar. Sehabis Subuh ia berangkat dan biasanya pulang sebelum aku berangkat sekolah.
Sebelumnya dia juga sudah menyiapkan sarapan untukku dan kedua kakakku. Segumpal nasi dan sambalado ikan asin. Setiap hari kami (terpaksa) makan itu. Ketika waktu panen kelapa tiba, bolehlah sesekali kami makan enak. Ikan atau tahu goreng.
Kami hanya makan 2 kali sehari dengan porsi yang sangat sedikit. Miris memang, meski begitu kami tidak pernah benar-benar merasa kelaparan. Banyak cemilan yang dibuat nenek untuk pengganjal perut. Ya rebus pisang, ubi kayu bahkan biji palawija. Semua biasa kami makan.
Kami berjuang dari saat-saat tersulit itu. Saat dimana, sesuap nasi terkadang berkuah air mata. Saat aku hanya bisa menggigit jari ketika teman-teman membeli sebatang ice cream. Dalam hati aku selalu berkata, kelak, aku tidak akan membiarkan hal ini terjadi lagi.
Namun sekarang, tanpa sadar aku sudah mengabaikan janji itu. Keterlaluan. Bisa-bisanya aku membiarkan kedua perempuan itu menderita. Seharusnya aku sadar, mereka sudah terlalu renta untuk mengurus semuanya. Seharusnya ini adalah waktu baginya bersenang-senang. Membaca buku, mengaji, sholat, bermain bersama cucu bahkan sudah seharusnya mereka menunaikan ibadah haji.
Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Nenek masih memikirkan mau makan apa? Dapat uang darimana? Bagaimana memperbaiki rumah? Setiap hari hanya ada keresahan. Dan ibu, penyakitnya tidak kunjung sembuh. Seumur hidup dia harus minum obat penenang.
"Ko bareh untuk dimasak bisuak pagi. Bisuak wak bali tambahannyo. Kini wak makan nasi bungkuih se lah dulu" Aku mengangsurkan seliter beras pada ibu dan sebungkus nasi dan lauk.
"Balanjo beko habis pitih kau" gumamnya pelan. Aku menatap lirih pada perempuan itu. Sampai saat ini, mereka masih memikirkan aku, sudah saatnya aku yang memikirkan kebahagian mereka.
"Ndak usah dipikian. Wak baru habis gajian" jawabku sambil melongos menyembunyikan air mata.
Untuk yang kesekian kalinya aku berusaha kuat dengan cobaan yang Tuhan beri padaku. Setidaknya dengan ini, Dia masih terus mengingatkanku untuk berbakti pada orang tua. Bahwa mungkin saat ini aku adalah Ibu Rumah Tangga sekaligus Kepala Keluarga bagi kedua perempuan tuaku.
Aku ikhlas, namun kuatkan aku Ya Allah....
Pariaman, 03 November 2010
Kebisuan dipenghujung senja