05 Februari 2010

Kami Adalah Puisi



Apa kabar hati?
Masihkah ia embun,
merunduk malu dipucuk daun-daun,
Masihkah ia karang?
Berdiri tegar menghadapi gelombang ujian
Apakabar sahabat ku?
Masihkah nama ku selalu hadir di ruang rindu mu?

(Wieke Beliana, 27 Oktober 2009)

 ----------------


Ada sebuah siluet masa lalu yang terlintas malam ini,
ku pandangi tanpa lengah sedetik pun,
indah,
mendatangkan rindu pada sekelumit cerita sendu,
pada sosok mu yang dulu mengejar waktu waktu bersama ku

(Rosiana, 19 Mei 2009)

----------------
 
Ini adalah puisi yang dikirimkan sahabat-sahabat ku. Dulu, kami sering menghabiskan waktu bersama hanya untuk mencari-cari puisi yang bagus dari berbagai sumber, nggak peduli itu puisi yang dikirimkan oleh  seorang cowok pada salah seorang diantara kami, kami tetap akan membaginya bersama-sama. Menuliskannya pada buku diary masing-masing.

Tak peduli juga, jika kami harus membolak-balik buku-buku puisi di sebuah toko buku favorite kami, meski sang pramuniaga menatap kami dengan galak, kami tetap cuek menyalin puisi itu pada handpone. Yach, maklumlah kami adalah mahasiswa kere yang ngekos dengan biaya pas-pasan. Nggak ada uang lebih buat beli buku-buku seperti itu, buat foto copy bahan kuliah aja susah. 

Tapi kami nggak menyerah, masih banyak jalan untuk menambah koleksi puisi-puisi kami. Buktinya makin hari, puisi kami makin bertambah, nggak terkadang juga, ada yang minjamnya buat dikirim ke cowok yang disuka. Kami bukan plagiat, tapi hanya sekedar ingin mengkoleksi saja dan kami juga nggak pernah ngaku-ngaku kalo itu puisi ciptaan kami.

Kami ini ibarat sebuah puisi, dan bait-baitnya adalah rasa yang dimiliki. Kini, kami memang telah berjauhan, ada jarak yang memisahkan kami untuk bersama, tapi rasa kami masih sama, masih seperti puisi-puisi yang kami punya. 

Oh ya, sekarang kami sudah menulis puisi sendiri, tak lagi meminjam puisi orang lain untuk menambah koleksi. Dan puisi yang kami tulis ini, adalah benar-benar rasa yang tercipta secara spontan ketika kami saling merindukan.

Tak peduli terpisah di belahan dunia mana pun, kami tetaplah puisi yang merindukan bait-bait rasa.

Kenangan,
seperti perjalanan yang melelahkan,
bagai musik yang menyakitkan telinga
saat terngiang kembali
melody yang pernah kita lantunkan bersama
tapi aku rindu kenangan itu,
hanya merindu sebatas aku mampu

(Rona Afrianti,    2007)


19 komentar:

Fi mengatakan...

Kadang sesuatau maksud akanlebih bermakna ketika diungkapkan dalam bait2 puisi....

DESFIRAWITA mengatakan...

benar, puisi tu kayak isyarat hati ya, semua kata pasti lebih indah jika dituliskan dengan bentuk apapun, termasuk puisi

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

puisi memang cerminan sanubari.

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

wah, koment dha muncul belum ya? lelet nih inet

Rava mengatakan...

Padahal kalo dipikir" mungkin dulu kita bisa juga ya... cuma kita gak percaya diri aja... hehehe (Mungkin sih...)

aku pengen sekali" dibuatin puisi dunk wit.. ;) kalo aku kurang pandai dalam berpuisi sih.. maklum biasa nyablak... :(

kesehaRian Ra-Kun mengatakan...

puisi itu..
produk pikiran sadar manusia :)

NaiCaNa mengatakan...

puisi itu bagaikan bunga mawar paling indah...

ada PR unutkmu k':
http://www.naicana.com/2010/02/tag-about-yourself.html

Syifa Ahira mengatakan...

paling suka numpahin perasaan lewat puisi..
bisa bebas berekspresi, meski make kata-kata yang susah dimengerti..

kesehaRian Ra-Kun mengatakan...

hi :)
i have an award for you.
please visit http://soulitary-pedestrian.blogspot.com/2010/02/sekedar.html to take it.

cheers :)

Seti@wan Dirgant@ra mengatakan...

Mohon maaf, baru sempat mampir...
templatenya udah ganti toh?
tampilannta tambah elegant.

Henny Y.Wijaya mengatakan...

berarti kompakan ya mbak? semuanya sama-sama suka puisi.

Alil mengatakan...

hobby yang aneh...
ehhehe...
ngoleksi puisi...
sekali-kali, ngoleksi cowok.. gitu lho wit...
ahhahahaa..

*alil ngarang...

ninneta mengatakan...

kalo aku mah bego banget deh kalo dah urusan puisi... hehehehehe

Pohonku Sepi Sendiri mengatakan...

duh, bagus2 bener kata2 puisinya wit..
*ngiler*
pengen bisa bikin yg kaya gitu..

andry sianipar mengatakan...

salam super-
salam hangat dari pulau Bali-
mantab,,, kata katanya sperti bercahaya...

Elsa mengatakan...

puisi... keindahan kata katanya memang untuk dinikmati

terima kasih sudah berbagi kepada kami

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

masih suka dg puisinya. terutama dg kalimat : apa kabar hati?

Desfirawita mengatakan...

@ mbak fanny :
betul mbak, puisi adalah cerminan hati

@ rava :
bikinin puisi?
hihi...aku kalo disuruh buat jg nggak bisa, sringnya cuma tercipta tiba-tiba

@ ra-kun :
setuju banget

@ nai :
gitu ya?
thanks ya bwt PR nya. udah aku kerjain kok

@ setiawan :
hehe...makasih
:D

@ henny :
ya begitulah, kita pernah namain diri kita kayak di film dead poet society

@ alil :
hihi...alil mau aku koleksi?

@ ninneta :
belajar dong bikin puisi, kan bisa dikirim ke teman, pacar or ngebetan

@ pohon :
makasih...
puisi mu juga bagus, po

@ andry :
bercahaya kayak kunang2 kali...hihi

@ elsa :
terimakasih jg udah dicomment

@ mbak fanny :
ya nulis puisi tu, titip salam lho buat, mbak
dia bilang salam kenal

Desfirawita mengatakan...

@ mbak fanny :
betul mbak, puisi adalah cerminan hati

@ rava :
bikinin puisi?
hihi...aku kalo disuruh buat jg nggak bisa, sringnya cuma tercipta tiba-tiba

@ ra-kun :
setuju banget

@ nai :
gitu ya?
thanks ya bwt PR nya. udah aku kerjain kok

@ setiawan :
hehe...makasih
:D

@ henny :
ya begitulah, kita pernah namain diri kita kayak di film dead poet society

@ alil :
hihi...alil mau aku koleksi?

@ ninneta :
belajar dong bikin puisi, kan bisa dikirim ke teman, pacar or ngebetan

@ pohon :
makasih...
puisi mu juga bagus, po

@ andry :
bercahaya kayak kunang2 kali...hihi

@ elsa :
terimakasih jg udah dicomment

@ mbak fanny :
ya nulis puisi tu, titip salam lho buat, mbak
dia bilang salam kenal