22 Mei 2010

Keping Kenangan

Ku pikir semuanya memang benar-benar habis. 7 tahun yang lalu. Terlalu lama bila harus berbunga lagi. Nyatanya, ketika melihat sosoknya senja itu, dada ini berdebar tak menentu. Keping-keping kenangan itu  perlahan menari-nari di otak ku.

7 tahun berlalu, kenapa jadinya harus seperti ini? Apa kau tak tahu, aku berusaha menyembunyikan semua. Aku mengalah, bahkan menghilang dari pandangan mu. Bukan karna aku membenci mu, bukan karna itu, tapi karna aku terlalu mencintai mu.

Kenapa kau harus datang dan mengurai kembali luka yang sudah lama ku balut?

****

21 Mei 2010

Life Is a Choice

Hidup kadang mirip sebuah koin undian. Kadang kita bisa tertawa bahagia, tapi detik berikutnya kita hanya bisa tersungkur lemah dan menangis

Itu adalah penggalan kalimat yang pernah ku baca pada sebuah buku. Sebuah kalimat yang mengambarkan kehidupan ku saat ini.

Ya memang, begitulah hidup. Sama seperti yang pernah terjadi pada ku. Hidup yang seperti dongeng sebelum tidur, hanya bisa ku rasakan sesaat. Sebelum kemudian badai kenyataan menghempaskannya pada kehidupan yang menyakitkan.

Pada usia 5 tahun, aku harus menelan pahitnya kehidupan. Di depan kedua mata ku, aku menyaksikan papa bersanding dengan orang lain. Meskipun tak mengerti, tetapi aku merasakan bahwa papa bukan sepenuhnya milik ku lagi.

Setelah pernikahan papa yang kedua, ibu ku jatuh sakit. Jiwa dan batinnya terguncang. Ku pikir hanya depresi biasa, namun ternyata masalah yang datang bertubi-tubi membuat penyakit itu semakin menggerogotinya. Akhirnya dokter menyarankan untuk membawa ibu ku ke rumah sakit jiwa. Suatu hal yang tak pernah terbayangkan oleh ku sebelumnya.

Pekerjaan ibu yang seorang guru menjadi berantakan. Ia terpaksa harus diistirahatkan dalam jangka waktu yang cukup lama, bahkan sampai saat ini.

Keluarga ku berantakan. Kondisi ekonomi yang awalnya begitu ideal, mendadak menggelincirkan kami dalam kondisi krisis.

Suatu titik kehidupan yang berbalik secara tiba-tiba ini membuat kami semua terpukul. Sekolah ku berantakan, kami lost control. Abang ku bahkan terpaksa beberapa kali pindah sekolah karena seringnya tinggal kelas, begitu juga dengan kakak ku. Dan aku sendiri, dengan umur ku yang masih sangat muda untuk menerima perubahan ini hanya bisa menurut pada takdir yang tengah mempermainkan ku.

Puncak periode drastik dan dramatik ini terjadi pada tahun 1994, menjelang sore hari. Papa meninggalkan kami, pergi ke Jakarta bersama keluarga barunya. Ia pergi meninggalkan kami dalam kemelutan dan tekanan mental yang menampar kami telak. Pada waktu itu aku tidak menangis, sebab hati ku hancur berkeping-keping hingga tak menyisakan setetes air mata pun pada ku.

Kepergian papa yang tiba-tiba membuat ku menjadi gadis yang pemurung, minder bahkan sampai tidak mau ke sekolah selama dua caturwulan. Kakak ku harus rela menjajakan suaranya sebagai penyanyi Organ dari satu pesta ke pesta lain setiap malam, demi mendapatkan uang 15.000 rupiah untuk belanja. Abang ku? Ia menghabiskan waktunya di luar rumah. Kehidupan kami benar-benar hancur.

Setiap malam aku meringkik di bawah kolong tempat tidur ku sendiri, di dalam gelap, gemetaran dan ketakutan. Aku diam, membekap mulut ku sendiri untuk tak bersuara. Aku menahan nafas ku berharap tak ada yang mendengar. Satu-satunya suara yang bisa ku dengar waktu itu hanyalah degupan jantung ku sendiri.

Itu ku lakukan hanya untuk menghindari pria (tetangga) yang setiap malam masuk ke rumah ku secara paksa dan menganiaya ibu ku.

Aku tahu, pria itu tidak mencari ku. Ia hanya “mengamankan” ibu agar tak mengganggu tidurnya. Satu-satunya cara, dengan menyakiti ibu ku. Ibu kesakitan. Jeritannya terasa menyayat-nyayat jantung ku. Aku menangis dalam gelap. Luka rasanya.

Ingin rasanya aku melindungi ibu, mengejar pria itu dan memukulnya dengan apapun yang bisa ku dapat. Aku ingin ia berhenti menyakiti ibu ku. Tapi waktu itu aku masih teramat kecil dan ketakutan masih menggantui ku. Yang ku lakukan hanya diam dalam gelap. Terisak tertahan.

Pernah juga suatu malam, aku berpelukan bersama kakak, dalam gelap ketakutan dan saling bertangisan. Pria itu mengejar papa dan ingin membunuhnya. Setelah tak berhasil, ia malah menyakiti ibu ku.

Aku menangis dalam pelukan kakak. Satu-satunya pelukan yang pernah ku dapat darinya. Kami hanya diam, hati kami sama-sama terluka.

Setelah peristiwa itu, kakak tidak pernah lagi tinggal di rumah. Setiap malam, aku melewatkan masa-masa berat itu sendirian.

Waktu itu, aku sangat benci malam hari. Aku selalu berharap tak akan pernah ada malam. Aku hanya ingin pagi, dimana aku bisa menghabiskan waktu ku hanya di sekolah. Kenyataan, malam selalu datang. Dan aku selalu dihantui ketakukan karenanya.

Setiap malam, aku selalu berdoa agar hujan turun, lebat. Biar aku bisa tidur di kasur ku sendiri, bukan di bawah kolong tempat tidur. Biar aku bisa tidur nyeyak tanpa terbangun oleh jeritan kesakitan ibu. Atau ketika musim ujian tiba, aku bisa konsentrasi belajar.

Aku tak pernah belajar di rumah, hanya di sekolah, itupun tidak dengan konsentrasi. Karena setiap kali aku ingin konsentrasi belajar, ibu ku muncul di sekolah. Melempari sekolah dengan apa saja yang ia dapat. Teman-teman mentertawakannya. Mereka bilang AKU ANAK ORANG GILA. Malu, sedih dan sakit rasanya. Akibatnya aku jadi sering berkelahi di sekolah. Mereka boleh mentertawakan ku, tapi jangan ibu ku.

Syukurnya, tidak semua penderitaan yang Tuhan berikan pada ku. Dibalik itu semua, Dia berikan aku otak yang cerdas. Hingga setiap caturwulan aku bisa menghadiahkan senyum dan kebanggaan pada mereka yang menyayangi ku.

Aku ini ibarat yatim piatu. Tidak ada ayah dan juga ibu. Tidak ada yang akan membela sekaligus menasehati ku. Aku belajar sendiri dari penderitaan yang ku alami. Belajar kuat dan tegar.

Beruntung aku masih mempunyai nenek dan teman-teman yang selalu mau berbagi suka duka dengan ku. Mereka menjadikan aku kuat bertahan. Meskipun nenek sudah sangat renta untuk menjaga ku, tapi kasihnya tidak ikut menua dengannya. Ia orang yang sangat kuat, padahal aku tahu jiwanya juga ikut terguncang sama seperti ibu ku. Hanya saja, nenek lebih bisa mengendalikan pikiran warasnya.

Banyak hal yang sudah aku lalui ketika masih kecil, aku pernah berjualan kue keliling kampung, pernah jualan es di sekolah, dan yang paling menyedihkan aku pernah menjadi pembantu, demi mendapatkan 300 perak untuk belanja sekolah esok hari. Semua itu memang sangat menyakitkan, tapi tidak cukup mematahkan tekad ku untuk terus sekolah.

Tahun 1997, aku lulus SD dengan NEM yang memuaskan, paling tinggi di sekolah ku. Aku masuk SMP Negeri dan lulus tahun 2000 dengan prestasi yang membanggakan juga. Dengan mudah aku diterima di Sekolah Menengah favorit di Kota Pariaman. Tapi kakak lebih menyarankan aku untuk masuk Sekolah Kejuruan. Meski rasanya berat, namun ku ikuti juga. Aku pun masuk Sekolah Kejuruan dengan mudah.

Benar kata ungkapan, hidup itu seperti roda, ia akan terus berputar, kadang di atas, kadang dibawah.

Aku juga mengalaminya. Tak selamanya hidup ku penuh dengan penderitaan. Buktinya lambat-lambat, roda kehidupan itu mulai merangkak naik. Di masa ini, kondisi keuangan keluarga ku mulai membaik. Abang ku setelah beberapa kali tidak lulus tes tenaga kerja ke Jepang, ia akhirnya memutuskan bekerja sebagai tukang mas, sedangkan kakak, ia rela tidak jadi melanjutkan kuliah dan memutuskan untuk menikah muda. Itu ia lakukan agar tidak memberatkan keluarga. Uang pensiunan ibu juga sudah mulai cair, dan aku bisa melanjutkan sekolah tanpa harus terbeban biaya.

Aku lulus Sekolah Menengah Kejuruan tahun 2003 dan langsung mendaftar di Universitas Favorit ku mengambil jurusan Manajemen. Sayangnya keberuntungan tidak berpihak kepada ku. Aku gagal, namun tidak menyerah. Akhirnya dengan semua prestasi yang ku punya, aku diterima di Universitas Andalas, fakultas Politeknik, jurusan Administrasi Niaga.

Aku hijrah dari Pariaman ke Padang, meninggalkan ibu dan nenek yang semakin renta. Mungkin ini sangat berat, tak ada yang menjaga mereka lagi sepeninggal ku kuliah. Tapi aku tahu Tuhan akan selalu menjaga mereka.

Kehidupan yang keras di masa kecil, ternyata membuahkan mental yang baik pada ku. Ia membentuk ku menjadi orang yang mandiri, kuat dan tegar. Hidup mengajarkan ku banyak hal, yaitu mensyukuri hidup itu sendiri.

Akhirnya aku lulus Universitas tahun 2006 dan diwisuda tanggal 16 September 2006 dengan gelar Ahli Madya. Tak seorang pun keluarga yang mendampingi ku saat itu, sedih rasanya. Tapi rasanya bangga, bisa melalui ini semua meski tanpa orang tua.

Setelah hampir 10 tahun terabaikan, Tahun 2007 ibu kembali masuk rumah sakit jiwa. Ia dirawat di sana selama setahun. Tepat saat itu, aku mendapat tawaran kerja di sebuah perusahaan Finance sebagai staff keuangan. Sayangnya, aku ditempatkan di luar kota yang jauh dari kota ku. Keluarga memberikan pilihan yang sulit untuk ku. Antara merawat ibu yang baru sembuh atau bekerja dan membiarkannya teraniaya oleh sakitnya lagi. Dilema rasanya harus memilih antara berbakti dan cita-cita. Tapi aku memutuskan untuk menjaga ibu dan menolak tawaran itu.

Awal tahun 2008 aku diterima kerja sebagai staf Tata Usaha di sebuah lembaga pendidikan di kota ku, sayangnya pertengahan tahun itu pula lembaga itu bangkrut dan aku di PHK. Namun diakhir tahun itu juga, aku ditawarkan untuk bekerja sebagai operator computer di sebuah warung internet. Aku menerima pekerjaan itu sampai mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Sayangnya, sampai saat ini aku belum mendapatkannya.

Teman-teman sering bilang bahwa aku ini sarjana bodoh, hanya terpaku di tempat dan tidak mau mengejar cita-cita. Namun aku sudah biasa dengan kata-kata itu. Aku tidak malu dengan pekerjaan ku kini. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dan aku tidak harus menjabarkan apa-apa. Yang terpenting aku bisa mensyukuri kehidupan yang Tuhan hadiahkan untuk ku.

Bagi ku, hidup itu bukan tentang harta dan kekayaan. Hidup itu adalah perjuangan mencari kebahagiaan. Hidup itu adalah pilihan. Dan yang terpenting, hidup itu pensyukuran terhadap Tuhan. Seberat apapun cobaan yang sedang dihadapi, percayalah diantaranya pasti ada kemudahan yang diberikan Tuhan. Bukankah Tuhan tidak akan menguji hamba Nya di luar batas kemampuannya?

Bagi ku, daripada mengutuki nasib yang belum lagi berpihak, lebih baik aku belajar ikhlas untuk menjalaninya. Karena hidup itu terus berlajut dan aku tidak ingin tertinggal olehnya….[]



(Sudah diikut sertakan dalam LOMBA CIPTA KARYA INSPIRATIF TITIK BALIK LEUTIKA PUBLISHER, 2010)

14 Mei 2010

Maaf Aku Pergi


Mengapa kau memilih bungkam? Padahal kita sudah berjanji untuk saling bicara. Tahu kah kau, tanpa sadar aku telah jatuh cinta pada mu. Mungkin untuk yang ke dua kalinya. Entahlah, apa di masa lalu aku pernah mengatakannya pada mu?

Maafkan jika aku memilih pergi. Itu semua ku lakukan karna aku mencintai mu. Kau pernah mengakuinya juga kan?

Selamat tinggal dan sampai jumpa...

****

Pariaman, 11 Mey 2010

13 Mei 2010

Mungkin Harus Begini

Mereka menatap ku dari seberang ruangan, tajam-menunggu jawaban yang akan ku ucapkan. Aku membisu di kursi pesakitan, tempat mereka bisa memandang ku dengan leluasa. Diam. Masih belum ada jawaban yang ku berikan. Atau memberikan alasan yang tepat.

"Bagaimana? Kau setuju?" tanya seseorang dari mereka. Aku melihat kesungguhan di mata itu, tidak lagi sekedar gertakan. Ku pikir memang, waktu ku sudah tidak banyak lagi. Mereka sudah memberikan ku kesempatan beberapa tahun. Nyatanya aku belum mengenalkan seseorang pada mereka. Barangkali ini lah waktunya untuk menyerah, memasrahkan nasib ku pada keadaan yang tak berpihak.

"Kalau itu yang terbaik, apa boleh buat" jawab ku pasrah. Terdengar beberapa dari mereka menarik nafas lega. Sedangkan aku, tarikannya terdengar lelah dan pasrah. 

"Apa kau yakin?"
"Tidak ada alasan untuk menolaknyakan? Toh, kalian sudah memutuskan. Jadi apa yang akan ku yakinkan lagi?' 

Jawaban ku mungkin terdengar marah, ya aku memang marah. Aku marah pada diri sendiri, pada nasib, pada semua hal yang tak bisa ku kendalikan. Aku marah hingga tak sanggup menolong diri ku sendiri.

Aku beranjak dari kursi pesakitan itu. Berlalu dari hadapan mereka, dari gumanan-gumanan yang membuat ku jengkel. Barangkali memang harus seperti ini dan aku harus menerimanya...

****

07 Mei 2010

Hogwart Express in West Sumatra??

Do you believe that? Hogwart Express in West Sumatra. Hehe...Judulnya bikin penasaran bangetkan? Sengaja aku bikin kayak gitu, biar banyak yang protes sekalian penasaran. Hehe..makanya baca ya... :p
Tahu sama kereta yang ini? Pasti tahu lah ya, apalagi buat kamu yang suka sama film Harry Potter.  Ini adalah Hogwart Express, kereta api ajaib yang mengangkut para pelajar antara kota London dan Hogsmeade. Kereta api bermula dari Platform 9¾ stesen kereta api King's Cross.   

Kereta ini adalah jenis kereta yang sudah terkenal. Pantai Barat rel kereta di dataran tinggi Skotlandia menyediakan mesin dan kereta api untuk filmnya. Banyak dari rute yang dilalui dalam film itu adalah sama dengan Yakobit Uap. Kereta ini berangkat dari Fort William dengan pelayanan pulang-pergi ke Mallaig, melewati pemandangan indah di sepanjang jalan.


Nah kalo yang ini tahu?? Pasti nggak banyak yang tahu deh, kecuali penduduk setempat or warga Sumbar pada umumnya. But, nggak semuanya juga yang tahu dengan kereta yang ini. 

Ini adalah kereta api route Padang-Padang Panjang. Sudah sekian lama nggak dipakai, kabarnya route ini akan dibuka kembali. Hanya saja, sampai saat ini belum terlaksana, pasalnya banyak  sekali bencana yang datang di daerah Sumbar, apalagi di daerah sekitar route. Longsor dan jembatan yang ambruk, membuat perbaikan pengoperasian rel kereta api, menjadi terganggu. Tapi tenang saja, masih ada route lain yang bisa dioperasikan, yaitu Padang Panjang - Sawahlunto. So, kereta api yang dinamakan "Mak Itam" ini tetap akan beroperasi. Viewnya nggak kalah menarik kok, melalui route ini kita bisa melihat pemandangan Danau Singkarak yang cantik. Hanya saja, aku nggak dapat fotonya. Ntar deh. ^_*

Lalu, apa yang membuat ku membandingkannya dengan kereta Harry Potter?? Sebenarnya nggak jauh beda sih. Viewnya sama-sama menarik, diperbukitan nan hijau. Routenya sama-sama menantang, seperti menggantung di awang-awang. Trus sama-sama dikendalikan dengan lokomotif uap. Hanya saja, satu di luar negeri, satu didalam negeri. But, dari sini kita bisa tahu kan, Indonesia punya semuanya, hanya saja belum dipugar dan dimanfaatkan dengan baik. Yach, mudah-mudahan aja ntar. Siapa tahu, daerah ini  beneran bakal jadi tempat syutingnya Harry Potter and Hogwart Expressnya. Secara viewnya memungkinkan banget kan? Hehehe...


Oh iya, kalo kamu penasaran ini daerahnya dimana, baiklah akan aku jelaskan. Hihihi...lagaknya. Ini adalah daerah menjelang pintu gerbang masuk kota Padang Panjang tepatnya di daerah Silaing Bawah terdapat jembatan tinggi. Jembatan tinggi ini merupakan jalur rel kereta api Padang Panjang - Padang.  Jembatan ini dibangun pada zaman penjajahan Belanda dengan ketinggian kurang lebih 20 meter dari atas permukaan jalan raya.  

Dengan kerangka besi baja yang kuat, jembatan ini membentuk setengah lingkaran menghubungkan bukit barisan  di sebelah kanan dan kiri jalan dan berada tepat di atas jalur sungai Batang Anai. Jembatan tinggi ini memiliki keunikan tersendiri karena merupakan satu-satunya rel kereta api di Indonesia yang berbentuk setengah lingkaran, melengkung ke bawah.  

Wow, satu-satunya di Indonesia. Keren nggak tuh?? Biar dikata Sumbar rawan gempa, tapi nggak membuat ku berhenti mencintainya kok. Aku bangga jadi orang Sumbar, orang Minangkabau, dan yang pastinya aku bangga jadi orang Indonesia.

MERDEKA...!!! 

****
Gambar dicopas di sini, di sini

02 Mei 2010

Kata


Aku malu pada mu
sekeping kata yang ku tulis sia-sia
tak berusaha merangkainya menjadi mimpi
yang terbesit ketika pagi membuka mata

Ku hiraukan kepingan hurufnya
tak mengawali yang mana dan akhirnya seperti apa
hanya membiarkan lengah
tersudut begitu saja dalam selembar kertas berdebu

Apa kabar jiwa ku?
sudahkah tak berasa lagi
tuk melirik gerombolan huruf yang biasa menjadi kawan?
Sudahkah lelah begitu saja?
tanpa menyadari bahwa kau baru saja membuang mimpi?
Ah, sudah berapa lama kata itu terabaikan?
Kesepiankah ia??

****

01 Mei 2010

Alif : Menunggu Ibu

Seorang bocah duduk di tangga rumahnya yang senyap. Ia menatap senja yang memudar jingga menjadi gelap. Burung-burung bersiliweran terbang di atas sana, beranjak pulang ke sarang. Angannya terbang melayang seiring kepakan sayap sang burung. Ia terperanjat ketika tiba-tiba seorang perempuan tua memegang pundaknya halus.

"Sudah senja, kenapa kau tak masuk dan tutup pintu ini. Tak baik Magrib begini melamun di depan pintu" ujar perempuan tua itu. Alif menatapnya sebentar, kemudian beralih pada jalan yang mulai senyap. Pandangannya berhenti disana untuk beberapa saat. Sebelum akhirnya ia menarik nafas pelan dan menghempaskannya kuat-kuat.

"Kenapa ibu belum juga pulang?" tanyanya lirih, seolah bertanya pada diri sendiri. Sang perempuan hanya menatapnya sayu, tidak hendak menjawab pertanyaan itu. Alif menoleh pada perempuan itu, lalu seolah mengerti ia pun kembali menunduk diam. 

Perlahan ia pun beranjak dari tangga rumah itu, masuk ke dalam diikuti sang perempuan tua. Ia menutup pintu itu rapat-rapat, seolah tak ada seorang pun yang ditunggunya lagi untuk pulang. Begitu juga dengan hatinya. Mungkin sudah saatnya ia harus belajar, bahwa mungkin ibu tak akan kembali pulang. 

Harapannya pun memburan, seiring beranjaknya senja menjadi malam...

*****


--Tercipta tiba-tiba--