02 Juni 2010

Bungkam

Aku mencoba mengukur bayang-banyang mu petang itu,
dalam bejana rindu yang ku isi dengan volume yang meluap hingga melebihi kapasitas ruang yang tersedia.
Aku melihat sosok mu menjauh, tampak samar dan letih.
Kau merangkulkan rasa mu rapat-rapat dengan sepotong senyum yang tersungging dengan sinis.
Bodoh.
Kau pikir sudah berapa lama aku mengenal mu?
Sehari...Dua hari...Tidak. Tujuh tahun...!!
Itu bukan waktu yang singkat untuk mengenal mu dengan baik
Aku bahkan dapat membaca arti senyum mu itu.
Senyum yang kau tawarkan dengan kepura-puraan, sekedar menutupi kegalauan yang kau simpan diam-diam.
Mata ku mengikuti bayang mu menghilang di dalam kabut.
Dalam hening. Ku biarkan kau pergi begitu saja. Meski diam-diam, aku mengharapkan kau berbalik dan mendatangi ku dengan ejekan-ejekan khas mu. Itu lebih baik, ketimbang kau membungkam seperti ini.
Nyatanya, lama ku tunggu di situ, kau tak juga kunjung datang. Bahkan untuk sekedar menepiskan gumpalan salju yang memutih di rambut ku.
Tak terasa, kau benar-benar sudah menjauh. Menghilang dari pandangan ku.
Hati ku menjadi sakit sendiri, begitu pengecutkah kau hingga tak mau berbalik meski untuk melambaikan tangan. Aku membenci egois mu itu, tapi aku lebih membenci diri ku yang membiarkan mu pergi begitu saja.
Kau tahu, hati ku membeku tiba-tiba... 

2 komentar:

rid mengatakan...

memang menyakitkan untuk kehilangan. apalagi melepaskan tanpa salam perpisahan..haah :(


-rid-yang juga sedang terkenang

wiwit mengatakan...

@ rid : ya. tp memang begitulah harusnya...hiks..:(