
Hidup kadang mirip sebuah koin undian. Kadang kita bisa tertawa bahagia, tapi detik berikutnya kita hanya bisa tersungkur lemah dan menangis
Itu adalah penggalan kalimat yang pernah ku baca pada sebuah buku. Sebuah kalimat yang mengambarkan kehidupan ku saat ini.
Ya memang, begitulah hidup. Sama seperti yang pernah terjadi pada ku. Hidup yang seperti dongeng sebelum tidur, hanya bisa ku rasakan sesaat. Sebelum kemudian badai kenyataan menghempaskannya pada kehidupan yang menyakitkan.
Pada usia 5 tahun, aku harus menelan pahitnya kehidupan. Di depan kedua mata ku, aku menyaksikan papa bersanding dengan orang lain. Meskipun tak mengerti, tetapi aku merasakan bahwa papa bukan sepenuhnya milik ku lagi.
Setelah pernikahan papa yang kedua, ibu ku jatuh sakit. Jiwa dan batinnya terguncang. Ku pikir hanya depresi biasa, namun ternyata masalah yang datang bertubi-tubi membuat penyakit itu semakin menggerogotinya. Akhirnya dokter menyarankan untuk membawa ibu ku ke rumah sakit jiwa. Suatu hal yang tak pernah terbayangkan oleh ku sebelumnya.
Pekerjaan ibu yang seorang guru menjadi berantakan. Ia terpaksa harus diistirahatkan dalam jangka waktu yang cukup lama, bahkan sampai saat ini.
Keluarga ku berantakan. Kondisi ekonomi yang awalnya begitu ideal, mendadak menggelincirkan kami dalam kondisi krisis.
Suatu titik kehidupan yang berbalik secara tiba-tiba ini membuat kami semua terpukul. Sekolah ku berantakan, kami lost control. Abang ku bahkan terpaksa beberapa kali pindah sekolah karena seringnya tinggal kelas, begitu juga dengan kakak ku. Dan aku sendiri, dengan umur ku yang masih sangat muda untuk menerima perubahan ini hanya bisa menurut pada takdir yang tengah mempermainkan ku.
Puncak periode drastik dan dramatik ini terjadi pada tahun 1994, menjelang sore hari. Papa meninggalkan kami, pergi ke Jakarta bersama keluarga barunya. Ia pergi meninggalkan kami dalam kemelutan dan tekanan mental yang menampar kami telak. Pada waktu itu aku tidak menangis, sebab hati ku hancur berkeping-keping hingga tak menyisakan setetes air mata pun pada ku.
Kepergian papa yang tiba-tiba membuat ku menjadi gadis yang pemurung, minder bahkan sampai tidak mau ke sekolah selama dua caturwulan. Kakak ku harus rela menjajakan suaranya sebagai penyanyi Organ dari satu pesta ke pesta lain setiap malam, demi mendapatkan uang 15.000 rupiah untuk belanja. Abang ku? Ia menghabiskan waktunya di luar rumah. Kehidupan kami benar-benar hancur.
Setiap malam aku meringkik di bawah kolong tempat tidur ku sendiri, di dalam gelap, gemetaran dan ketakutan. Aku diam, membekap mulut ku sendiri untuk tak bersuara. Aku menahan nafas ku berharap tak ada yang mendengar. Satu-satunya suara yang bisa ku dengar waktu itu hanyalah degupan jantung ku sendiri.
Itu ku lakukan hanya untuk menghindari pria (tetangga) yang setiap malam masuk ke rumah ku secara paksa dan menganiaya ibu ku.
Aku tahu, pria itu tidak mencari ku. Ia hanya “mengamankan” ibu agar tak mengganggu tidurnya. Satu-satunya cara, dengan menyakiti ibu ku. Ibu kesakitan. Jeritannya terasa menyayat-nyayat jantung ku. Aku menangis dalam gelap. Luka rasanya.
Ingin rasanya aku melindungi ibu, mengejar pria itu dan memukulnya dengan apapun yang bisa ku dapat. Aku ingin ia berhenti menyakiti ibu ku. Tapi waktu itu aku masih teramat kecil dan ketakutan masih menggantui ku. Yang ku lakukan hanya diam dalam gelap. Terisak tertahan.
Pernah juga suatu malam, aku berpelukan bersama kakak, dalam gelap ketakutan dan saling bertangisan. Pria itu mengejar papa dan ingin membunuhnya. Setelah tak berhasil, ia malah menyakiti ibu ku.
Aku menangis dalam pelukan kakak. Satu-satunya pelukan yang pernah ku dapat darinya. Kami hanya diam, hati kami sama-sama terluka.
Setelah peristiwa itu, kakak tidak pernah lagi tinggal di rumah. Setiap malam, aku melewatkan masa-masa berat itu sendirian.
Waktu itu, aku sangat benci malam hari. Aku selalu berharap tak akan pernah ada malam. Aku hanya ingin pagi, dimana aku bisa menghabiskan waktu ku hanya di sekolah. Kenyataan, malam selalu datang. Dan aku selalu dihantui ketakukan karenanya.
Setiap malam, aku selalu berdoa agar hujan turun, lebat. Biar aku bisa tidur di kasur ku sendiri, bukan di bawah kolong tempat tidur. Biar aku bisa tidur nyeyak tanpa terbangun oleh jeritan kesakitan ibu. Atau ketika musim ujian tiba, aku bisa konsentrasi belajar.
Aku tak pernah belajar di rumah, hanya di sekolah, itupun tidak dengan konsentrasi. Karena setiap kali aku ingin konsentrasi belajar, ibu ku muncul di sekolah. Melempari sekolah dengan apa saja yang ia dapat. Teman-teman mentertawakannya. Mereka bilang AKU ANAK ORANG GILA. Malu, sedih dan sakit rasanya. Akibatnya aku jadi sering berkelahi di sekolah. Mereka boleh mentertawakan ku, tapi jangan ibu ku.
Syukurnya, tidak semua penderitaan yang Tuhan berikan pada ku. Dibalik itu semua, Dia berikan aku otak yang cerdas. Hingga setiap caturwulan aku bisa menghadiahkan senyum dan kebanggaan pada mereka yang menyayangi ku.
Aku ini ibarat yatim piatu. Tidak ada ayah dan juga ibu. Tidak ada yang akan membela sekaligus menasehati ku. Aku belajar sendiri dari penderitaan yang ku alami. Belajar kuat dan tegar.
Beruntung aku masih mempunyai nenek dan teman-teman yang selalu mau berbagi suka duka dengan ku. Mereka menjadikan aku kuat bertahan. Meskipun nenek sudah sangat renta untuk menjaga ku, tapi kasihnya tidak ikut menua dengannya. Ia orang yang sangat kuat, padahal aku tahu jiwanya juga ikut terguncang sama seperti ibu ku. Hanya saja, nenek lebih bisa mengendalikan pikiran warasnya.
Banyak hal yang sudah aku lalui ketika masih kecil, aku pernah berjualan kue keliling kampung, pernah jualan es di sekolah, dan yang paling menyedihkan aku pernah menjadi pembantu, demi mendapatkan 300 perak untuk belanja sekolah esok hari. Semua itu memang sangat menyakitkan, tapi tidak cukup mematahkan tekad ku untuk terus sekolah.
Tahun 1997, aku lulus SD dengan NEM yang memuaskan, paling tinggi di sekolah ku. Aku masuk SMP Negeri dan lulus tahun 2000 dengan prestasi yang membanggakan juga. Dengan mudah aku diterima di Sekolah Menengah favorit di Kota Pariaman. Tapi kakak lebih menyarankan aku untuk masuk Sekolah Kejuruan. Meski rasanya berat, namun ku ikuti juga. Aku pun masuk Sekolah Kejuruan dengan mudah.
Benar kata ungkapan, hidup itu seperti roda, ia akan terus berputar, kadang di atas, kadang dibawah.
Aku juga mengalaminya. Tak selamanya hidup ku penuh dengan penderitaan. Buktinya lambat-lambat, roda kehidupan itu mulai merangkak naik. Di masa ini, kondisi keuangan keluarga ku mulai membaik. Abang ku setelah beberapa kali tidak lulus tes tenaga kerja ke Jepang, ia akhirnya memutuskan bekerja sebagai tukang mas, sedangkan kakak, ia rela tidak jadi melanjutkan kuliah dan memutuskan untuk menikah muda. Itu ia lakukan agar tidak memberatkan keluarga. Uang pensiunan ibu juga sudah mulai cair, dan aku bisa melanjutkan sekolah tanpa harus terbeban biaya.
Aku lulus Sekolah Menengah Kejuruan tahun 2003 dan langsung mendaftar di Universitas Favorit ku mengambil jurusan Manajemen. Sayangnya keberuntungan tidak berpihak kepada ku. Aku gagal, namun tidak menyerah. Akhirnya dengan semua prestasi yang ku punya, aku diterima di Universitas Andalas, fakultas Politeknik, jurusan Administrasi Niaga.
Aku hijrah dari Pariaman ke Padang, meninggalkan ibu dan nenek yang semakin renta. Mungkin ini sangat berat, tak ada yang menjaga mereka lagi sepeninggal ku kuliah. Tapi aku tahu Tuhan akan selalu menjaga mereka.
Kehidupan yang keras di masa kecil, ternyata membuahkan mental yang baik pada ku. Ia membentuk ku menjadi orang yang mandiri, kuat dan tegar. Hidup mengajarkan ku banyak hal, yaitu mensyukuri hidup itu sendiri.
Akhirnya aku lulus Universitas tahun 2006 dan diwisuda tanggal 16 September 2006 dengan gelar Ahli Madya. Tak seorang pun keluarga yang mendampingi ku saat itu, sedih rasanya. Tapi rasanya bangga, bisa melalui ini semua meski tanpa orang tua.
Setelah hampir 10 tahun terabaikan, Tahun 2007 ibu kembali masuk rumah sakit jiwa. Ia dirawat di sana selama setahun. Tepat saat itu, aku mendapat tawaran kerja di sebuah perusahaan Finance sebagai staff keuangan. Sayangnya, aku ditempatkan di luar kota yang jauh dari kota ku. Keluarga memberikan pilihan yang sulit untuk ku. Antara merawat ibu yang baru sembuh atau bekerja dan membiarkannya teraniaya oleh sakitnya lagi. Dilema rasanya harus memilih antara berbakti dan cita-cita. Tapi aku memutuskan untuk menjaga ibu dan menolak tawaran itu.
Awal tahun 2008 aku diterima kerja sebagai staf Tata Usaha di sebuah lembaga pendidikan di kota ku, sayangnya pertengahan tahun itu pula lembaga itu bangkrut dan aku di PHK. Namun diakhir tahun itu juga, aku ditawarkan untuk bekerja sebagai operator computer di sebuah warung internet. Aku menerima pekerjaan itu sampai mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Sayangnya, sampai saat ini aku belum mendapatkannya.
Teman-teman sering bilang bahwa aku ini sarjana bodoh, hanya terpaku di tempat dan tidak mau mengejar cita-cita. Namun aku sudah biasa dengan kata-kata itu. Aku tidak malu dengan pekerjaan ku kini. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dan aku tidak harus menjabarkan apa-apa. Yang terpenting aku bisa mensyukuri kehidupan yang Tuhan hadiahkan untuk ku.
Bagi ku, hidup itu bukan tentang harta dan kekayaan. Hidup itu adalah perjuangan mencari kebahagiaan. Hidup itu adalah pilihan. Dan yang terpenting, hidup itu pensyukuran terhadap Tuhan. Seberat apapun cobaan yang sedang dihadapi, percayalah diantaranya pasti ada kemudahan yang diberikan Tuhan. Bukankah Tuhan tidak akan menguji hamba Nya di luar batas kemampuannya?
Bagi ku, daripada mengutuki nasib yang belum lagi berpihak, lebih baik aku belajar ikhlas untuk menjalaninya. Karena hidup itu terus berlajut dan aku tidak ingin tertinggal olehnya….[]
(Sudah diikut sertakan dalam LOMBA CIPTA KARYA INSPIRATIF TITIK BALIK LEUTIKA PUBLISHER, 2010)