22 Juli 2009

Asem Manisnya Cinta Pertama

 Andaikan ku dapat 
Mengungkapkan perasaan ku 
Hingga membuat kau percaya …..

Ku matikan suara D’cinnamons yang berteriak di telinga ku. Liriknya membawa ku terhanyut ke dalam sebuah kisah masa lalu. ALL ABOUT LOVE. Kisah cinta waktu SMP.

CINTA. Satu kata, kumpulan lima huruf yang bisa bikin orang bahagia sekaligus menderita. Memang begitulah yang ku rasakan. Bahagia dapat menyukai seseorang yang istimewa namun rasanya terlalu berat ku pendam karena dia tak mengetahui.

Jimmy. Ya, dia teman ku waktu SMP sekaligus cinta pertama ku. Dia cowok baik, sederhana namun mempesona. Kami sudah lama berteman. Kira-kira dua tahun dan selama itu pula aku memendam perasaan padanya.

Yang namanya The First Love itu memang gila ya. Apa-apa yang dikerjakan selalu “Ingat Kamu”. Semua hal terasa serba salah. Ya..begitu juga dengan ku. Setiap memikirkan Jimmy, dada ku merasa bergemuruh, seolah-olah dimanapun dan kemanapun aku pergi senyum dan wajahnya memenuhi ruang pikiran ku. Indah…begitu indahnya. Namun, kadang kala terasa sesak memendam sendirian. Walau tlah ku coba berbagi dengan sahabat-sahabat ku, tetapi itu tidak cukup jika Jimmy sendiri tidak mengetahui.

“Ha…loe suka Jimmy, Pril? Serius loe? Jimmy tahu?” teriak Mia histeris saat ku ceritakan perasaan ku. 
“Ssttt.. jangan kenceng-kenceng dong. Bawel banget sih mulut loe. Gue kan malu kalo sampe yang lain dengar” 
“Iya..iya. Tapi sejak kapan? Loe kok baru cerita?” 
“Udah 2 tahun, Mi. Sejak kita kelas 1. Waktu itu gue sering ngelihat dia lewat di depan kelas kita dan gue juga kagum karena dia pintar. Buntutnya gue naksir deh” 
“Udah 2 tahun kok loe baru cerita sekarang? Kemaren-kemaren waktu kelas 2 kan loe sekelas sama dia. Loe ngelakuin apa aja? Loe bilang sama dia perasaan loe?” 
“Sorry Mia. Gue gak maksud nyembunyiin dari loe. Tapi gue takut aja diketawain. Ya gak lah, Mi. Gue gak bilang sama dia. Gue kan malu. Gue gak ada apa-apanya sama temen-temen cewek yang lain. Loe kan tahu, kelas unggul. Anak-anaknya pada pintar dan cantik-cantik. Gue minder Mi” 
“Ampun deh gue, Pril. Loe dari dulu memang gak pernah berubah ya. Selalu gak pernah menghargai kemampuan loe sendiri”

Ya, kadang-kadang ku coba beranikan diri untuk jujur mengenai perasaan ku padanya. Namun, saat itu juga aku merasa takut, malu dan sebagainya. Semua bercampur menjadi satu. Parno memang, tapi itu wajar bagi seorang cewek apalagi buat seorang anak SMP seperti ku. Aku merasa lelah dan sedih, ternyata semua perhatian yang ku berikan tidak membuat Jimmy mengerti bahwa aku menyukainya. Dalam rasa frustasi yang ku alami, aku menerima cinta Feri dan akhirnya kami pun jadian.

Aku tak tahu kenapa bisa jadian sama Feri. Padahal aku tak mencintainya sama sekali. Bagi ku Feri hanyalah pelarian karena cuma dia yang mau jujur terhadap perasaannya.

3 bulan sudah kami jadian, selama itu ku coba berusaha untuk menyukainya. Namun tetap saja perasaan ku ke Jimmy tidak pernah berubah. Aku menyerah. Aku tak bisa pacaran dengan Feri sementara pikiran ku masih terus dibayang-bayangi oleh Jimmy. Aku memilih, lebih baik sendiri daripada harus melukai Feri.

“Maafin gue ya, Fer. Gue udah jadiin loe pelampiasan” 
“Gue ngerti kok. Dan gue juga tahu loe udah berusaha buat ngasih perasaan ke gue. Tapi yang namanya hati itu gak pernah bohong. Kalo gak suka kenapa mesti dipaksain. Gue merasa beruntung pernah milikin loe. 3 bulan ni loe udah jadiin hari-hari gue indah.” 
“Makasih ya Fer. Loe bisa ngertiin gue. Tapi kita masih bisa jadi sahabat kan? Gue gak mau setelah putus, kita malah jadi musuh. Gimapun juga, loe tu pacar pertama gue. Pastilah sangat berarti buat gue” 
“Hahaha...April, loe tu lucu banget ya. Ya gak lah. Gue gak sebanci itu kali” 
“Emang loe bukan banci. Kalo gak gitu mana mau loe jujur sama gue tentang perasaan loe” 
“Gue cuma mau bersikap adil sama hati gue. Kenapa gue harus nyembunyiinnya, toh kalo diungkapin lebih lega kan. Waktu itu gue udah siap lho kalo loe nolak gue. Tapi ternyata sebaliknya” 
“Iya. Yang ada dipikiran gue waktu itu, mungkin aja gue bisa ngasih perasaan yang sama ke loe. Tapi ternyata gue masih belum bisa” 
“Udahlah Pril. Gue ngertiiiii banget. Satu hal yang mesti loe tahu, berusahalah untuk selalu jujur meskipun kadang kala itu malah menyakitkan”

Semenjak putus dari Feri, aku merasa lega. Aku tak lagi harus memaksakan hati ku untuk mencintai orang yang tak ingin ku cintai. Ku biarkan diri ku bebas tanpa harus mendustai perasaan ku dan sedikit demi sedikit aku mulai belajar bahwa meskipun Jimmy tak mengetahi perasaan ku, paling tidak aku merasa bahagia karena dapat mencintai seseorang.

* * *

2 tahun berlalu. Sekarang aku kelas 3 SMP dan sebentar lagi ujian akhir. Aku sempat kecewa saat kenaikan kelas, karena nilai ujian ku jauh merosot dan aku tak lagi di kelas unggul. Artinya aku tak sekelas lagi dengan Jimmy. Aku sedih. Dan yang paling membuat ku sedih, Jimmy tak mengacuhkan ku lagi. Dia seolah-olah tak pernah mengenal ku dan merasa tak pernah dekat dengan ku. Padahal aku tahu dan aku merasakan Jimmy juga punya perasaan yang sama dengan ku. Malah dia sering ke Gep sedang mencuri-curi pandang pada ku. Tapi entahlah…apa yang membuatnya begitu, aku tak tahu.

Meskipun aku dan Jimmy tak lagi sekelas, namun aku masih sering memperhatikan dia meskipun dari jauh. Dan disuatu hari, disaat hari Valentine aku memutuskan untuk mengatakan perasaan ku padanya lewat sebuah gelang berukir namanya yang ku titipkan pada Anto teman sekelas kami dulu.

“Jim, ada titipan buat loe, nih” 
“Dari siapa?” 
“Aprilia” 
“April? dalam rangka apa?” 
“Masa’ sih loe gak tahu. Gak usah bohongin hati deh, gue tahu dulu loe sempat dekat sama dia. Udah loe terima aja...lagian ini titipan gak ada maksud apa-apa kok. Dia cuma pengen loe terima ini aja” 
“Sorry, Nto. Gue gak bisa. Loe balikin ke April lagi ya” 
“Wah…gila loe ya. Loe gak ngehargain perasaan cewek banget sih. Loe nyakitin dia kalo balikin ini, Sob” 
“Gue tahu. Tapi sorry gue bener-bener gak bisa”

* * *

Penolakan Jimmy membuat ku shock. Semua tembok keberanian yang aku bangun, akhirnya berantakan lagi. Yang membuat ku lebih kecewa, dia mengembalikan gelang ku. Itu sama saja menaruh arang dimuka ku. Aku bener-bener malu dan kecewa.

Berminggu-minggu aku menyembunyikan diri dari Jimmy dan teman-temannya. Saat istirahat aku tak keluar kelas dan saat pulang aku memilih pulang duluan. Sampai akhirnya aku mendengar kalau Jimmy sudah jadian dengan anak kelas 2 yang cantik. Dan saan itulah aku mengerti bahwa bukan cewek seperti ku lah yang diinginkan Jimmy.

“April, gue kan pernah bilang sama loe. Jujurlah meskipun itu sakit. Sekarang loe udah jujur sama perasaan loe. Dan gue yakin besok-besok semua bakal kembali normal. Loe gak perlu sembunyi seperti ini” 
“Iya, Fer. Tapi gue malu banget” 
“Gue ngerti. Tapi cuek aja lagi, toh setiap orang pasti pernah ngalami hal yang serupa” 
“Iya, Pril. Feri benar. Cuek aja lagi. Sekarang saatnya loe mulai buka hati loe buat yang lain. Yach…mungkin aja buat Feri lagi. Ya gak” 
“Bisa aja loe, Mi. Sekarang gue ngerti, ternyata bukan seperti gue cewek yang disukai Jimmy. Dia lebih cocok sama Imel. Imel lebih cantik dan feminin, berbanding terbalik sama gue. Sekarang pasti Jimmy udah Ill Feel sama gue” 
“Tuh kan, mulai lagi. STOP jadi cewek gak percaya diri. Kita tu masih SMP. Masih banyak waktu buat mencari dan merasakan cinta. Jangan berhenti sampai disini dong. Lupain Jimmy. Mending loe fokus sama nilai-nilai loe yang jeblok. Buktiin kalo lu tu bukan sembarang cewek. Loe tu cewek berisi. Ya kan Fer” 
“Yup. Loe tu unik, Pril. Dan ingat, pada dasarnya semua cewek tu terlahir cantik, kalo gak gitu kenapa para pujangga selalu bilang wanita tu makhluk terindah” 
“Hmm..kalian benar. Makasih ya” 
“Yoi…Itulah gunanya teman”

* * *

Pasca frustasi dari Jimmy, aku mulai bangkit dari keterpurukan ku. Tak lagi murung dan tak lagi menyesali kekurangan ku. Aku kembali rajin dan menjadi cewek yang ceria. Yach…usaha ku gak sia-sia, aku kembali jadi juara kelas. Dan teman-teman mengidolakan ku. Kalo boleh ge-er sih, aku kadang merasakan mata-mata kagum mulai mencuri perhatian ku.

Hm…sengsara memang membawa nikmat ya. Ada aja hikmah dibalik sebuah penderitaan. Saat pembacaan hasil ujian akhir tiba, aku mendapat kejutan yang indah. Aku cewek ke 2 yang mendapatkan NEM tertinggi di sekolah ku. Di lapangan upacara, disaksikan oleh guru-guru dan teman-teman satu sekolah, aku bangga sekali menerima penghargaan kecil itu. Dan selintas, aku juga menerima tatapan kagum dari sosok yang pernah mengisi hati ku. Mia benar. Aku ini bukan sembarang cewek.

Ah…kisah waktu SMP emang terasa unik bagi ku. Itu pertama kalinya aku merasakan perasaan yang menggetarkan seluruh nadi ku, perasaan hangat yang menyentuh palung hati ku. Dan dari kisah cinta itu lah pertama kalinya aku mulai membangun kekuatan ku untuk mempercayai dan menghargai diri sendiri.

Sekarang sudah 7 tahun berlalu dari masa itu. Dan lewat sebuah lagu aku kembali membalik lembaran yang telah berdebu itu. Memungut kepingan yang tertinggal dan membingkainya dalam memory terindah ku …. :)


(Diikutsertakan dalam Lomba Menulis Cerpen Remaja)

2 komentar:

miracle of love mengatakan...

Hi salam kenal...

ceritanya sama persis seperti yang aku alami baru2 ini...
terkadang memang kita bisa kuat setelah ada penderitaan...

Tapi percayalah when the time is due... akan ada rencana indah darin_nya untuk kita.

caiyo

De Rawit mengatakan...

@Miracle of love : ya, u'r right.. :)