09 November 2009

Rumah Senyum



Dulu kami hidup senang. Hidup lebih dari cukup. Tinggal di rumah mewah lengkap dengan peralatan yang serba luxs. Kemana kami pergi, telah ada mobil keren yang siap mengantar kami kemana kami suka. Tak lupa pula di dampingi oleh seorang supir pribadi. Alangkahnya indahnya hidup waktu itu. Kami serasa tinggal di istana, bak dongeng sebelum tidur. Kami diperlakukan seperti putri raja yang berharga, disayangi, dicintai oleh kedua orang tua. Oh iya, papa kami juga seorang yang hebat. Ia pemimpin di sebuah perusahaan, sekaligus pemiliknya. Sedangkan mama kami adalah seorang ibu rumah tangga yang baik, dia menjaga kami dengan telaten, hingga kami mendapatkan kasih sayang yang berlebih.

Itu dulu, sebelum tanggal 30 September 2009. Sebelum gempa 7,9 SR meluluh lantakkan kebahagiaan kami. Semua yang kami punya hancur berkeping-keping, sama halnya dengan harapan kami. Rumah kami hancur, sekaligus isi di dalamnya. Kini kami tak punya apa-apa selain air mata. Jangankan sebuah mobil, papa saja ikut tertimbun bersama kemewahan di dalam sana.

Kini kami tinggal di sebuah rumah kecil berdinding, atap dan beralaskan terpal warna biru. Rumah Senyum namanya. Rumah yang dibuatkan pemerintah untuk kami. Kami tidak terbiasa dengan hal ini. Tinggal di rumah kecil dan sempit. Tidur ditikar dan berdesak-desakan. Kami hidup dengan belas kasihan orang-orang, namun kami sadar kami tidak sendirian. Masih banyak orang yang mengalami nasib seperti kami.

Bencana gempa yang melanda kota kami, khususnya keluarga kami, membuat kami menyadari bahwa harta dan kekayaan bukanlah milik kami seutuhnya. Itu semua hanya titipan Tuhan. Itu semua bukan segala-galanya. Ketika Tuhan memintanya kembali, kami tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencegahnya. Di mata Tuhan kami hanyalah hamba yang lemah dan kerdil.

Setelah semua yang terjadi, kami menyadari semuanya. Kami yakin, belum terlambat untuk memperbaiki hidup yang telah berantakan. Masih ada waktu untuk Taubat. Bukankah Allah itu Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang?

Kini kami tinggal di rumah senyum yang telah kami permak seindah mungkin. Inilah istana kami kini. Tempat kami memulai hidup baru dan memungut kepingan mimpi yang berserakan. Bersama rumah senyum, kami berharap bisa terus tersenyum buat orang-orang yang memberi kekuatan dan semangat kepada kami.

Di rumah senyum kami memulai harapan dan mewujudkannya.

---


Cerita dari Padang-Pariaman

2 komentar:

Pohonku Sepi Sendiri mengatakan...

nice post :)
semua hal yg kita miliki di dunia ini hanyalah titipan Tuhan.. bahkan hingga orang tua, anak, kekasih atau pacar, istri maupun suami sekalipun.. kewajiban kita hanya menjaga dan memelihara apa yg telah dipercayakan pd Tuhan tersebut sekuat tenaga, semampu kita.. dalam lingkup kebaikan..
thanks ya wit, udah mengingatkannya kembali.. ^^

DESFIRAWITA mengatakan...

@ Pohon :
Hehe...yup,sama-sama :D