20 Januari 2010

Pada Hati Nurani

"Dokter saya mohon, tolong kakak saya. Dia butuh ditangani segera"
"Maaf dik, kami tidak bisa. Anda harus menyelesaikan biaya administrasinya terlebih dahulu, baru setelah itu kami bisa menanganinya"
"Tapi dokter, kakak saya tidak bisa menunggu. Dia butuh pengobatan segera. Saya janji, akan melunasi biaya administrasi ini segera. Saya mohon dokter"
"Maaf dik, kami tidak bisa"

***

Barangkali itu adalah sepenggal percakapan yang aku ingat dari sebuah sinetron di Televisi. Aku tak tahu apakah itu hanya sebuah percakapan untuk mendramatisir keadaan hingga penonton terbuai. Atau itu adalah pengkisahan yang diangkat dari kehidupan nyata. Entahlah yang pasti, bukan hanya sekali ku temukan percakapan yang seperti itu. Seringkali. Dan ujungnya selalu sama, pihak rumah sakit akan menangani pasien setelah membayar biaya administrasi.

Bukan bermaksud untuk menjadi Prita Mulyasari atau pahlawan lainnya, tapi apa demikian yang terjadi kenyataan?

Who knows, yang pernah ku dengar memang pernah seperti itu. Dan miris rasanya mendapati kenyataan itu benar adanya.  Bagaimana tidak, dimana sih hati nurani mereka jika harus mendahului uang daripada nyawa manusia. Apa mereka lupa tujuan awalnya menjadi dokter? Perawat atau sebagainya?

Memang sih, nggak dipungkiri lagi. Menjadi dokter memang merupakan profesi yang menjanjikan bagi banyak orang. Tapi jika tak didasari dengan hati nurani untuk menolong sesama, NIHIL. Dokter bakal jadi profesi terkutuk yang pernah ada.

Yach...tidak bermaksud menyalahkan siapa-siapa. Tapi kembali ke hati nurani kita. Pada kehidupan yang bisa saja berbalik arah suatu saat. Kita tak akan pernah tahu itu. Hanya Tuhan yang tahu.

Bukankah hidup seperti sebuah roda yang berputar. Kadang kita bisa di atas (menginjak), kadang juga di bawah (terinjak).

Dan bukankah hidup seperti sebuah koin undian. Kadang kita bisa tertawa atas kemenangan, tapi detik berikutnya kita hanya bisa tersungkur pasrah, meratapi kekalahan.

Percaya nggak percaya, sepertinya karma memang berlaku.


19 komentar:

Lina mengatakan...

wit, aku pernah ngalamain sendiri tuh yang kayak gitu. waktu itu nganterin adik kelas yang jatuh terantuk batu saat naik gunung. adik kelasku udah parah gitu, tetep aja dicuekin. uhf...kesel. memang sih ada reason dibalik itu,tapi kok ya terlalu ya.

jadi pengen posting tentang ini juga. hehehe.

DESFIRAWITA mengatakan...

ya itu, makanya aku nulis ini. meski nggak ngalami sendiri. tapi sering dengar dari orang2.

hehe...kebiasaan ku nich, nulis yang aneh2 kayak gini. tulis aja pengalaman mu, moga bermanfaat buat orang lain
:P

Syifa Ahira mengatakan...

jaman sekarang uda banyak orang yang kehilangan hati nurani.. liat aja berita2 kriminal di tivi.. ngeri.. ga ada perikemanusiaan sedikitpun..

DESFIRAWITA mengatakan...

yupz, bener.
karna sering nemuin hal2 yang nggak baik kayak gini makanya aku bikin tulisan ini.
yach, melukiskan apa yang terjadi disekitar kita

Freya mengatakan...

yaaaa mau gimana lagi? indonesia emang bobrok. harusnya pemerintah buat peraturan jelas untuk itu.

DESFIRAWITA mengatakan...

betul
biar nggak ada lagi nyawa yang mati sia-sia
hihi...

Bandit Pangaratto™ mengatakan...

ya, karma itu semacam tabur tuai..
itu yg ditabur, itu juga yg dituai...

Laston M Nainggolan mengatakan...

oh ia juga ya.... kiranya para dokter2 indonesia melihat pangkat itu sebagi pelayanan...

salam

DESFIRAWITA mengatakan...

@ bandit :
yupz...anda benar
hehe...

@ laston :
nah, ntu dia masalahnya yang bikin banyak nyawa terabaikan

Sari mengatakan...

Itulah hidup...
Kita ga pernah tahu, apa yang bakal terjadi 5 menit kemudian... :)

Pohonku Sepi Sendiri mengatakan...

yup, hati nurani.. kok lama kelamaan sepertinya terkikis sedikit demi sedikit tanpa kita sendiri sadari ya..

anazkia mengatakan...

Dan ketika sinetron itu sampai kenegri tetangga, membuat aib saja, sehingga menimbulkan tanya, 'Betulkah birokrasinya seperti itu...???" Wallahu'alam.

DESFIRAWITA mengatakan...

@ Sari :
Setuju,
hidup kadang juga misterius
:p

@ Pohon :
betul, dan sayanganya kita nggak menyadarinya
seringkali kita mengabaikannya hanya demi kebahagiaan semata

puff..heran

@ anazkia :
entahlah kita nggak tahu,
hanya saja perlu renungan pada hati kita, bagaimana dengan ku? apa aku masih menyimpan nurani itu?

ina mengatakan...

hemmm... skarang jamannya "ADA UANG ADA BARANG"

seperti itulah...

"ADA UANG, BARU AKU TANGANI"
dokter, seandainya pun engkau tahu perasaan kami,...

hikz....

Rava mengatakan...

Kaya nya udah banyak yang lupa tujuan utama nya deh...
seorang dokter bertugas menyelamatkan nyawa seseorang bukan malah 'nge-duitin' nyawa orang.

Aku setuju wit..
Karma pasti berlaku, hidup tak selamanya berada diatas, dan keberuntungan tak selamanya berpihak pada kita.

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

bener, Des. hidup memang spt itu. kadang kejam banget ya.

laurentina mengatakan...

Hm..nampaknya saya harus komentar untuk yang satu ini.

Pada dasarnya ada dua macam pasien, yaitu pasien gawat dan pasien tidak gawat. Gawat adalah keadaan di mana pertolongan harus diberikan dalam hitungan detik, atau akan menimbulkan kematian. Nah, yang menentukan kondisi gawat ini adalah dokter atau perawat, bukan keluarga pasien.

Dewasa ini, banyak sekali rumah sakit yang kesulitan menolong pasien secepat mungkin karena rumah sakit sendiri tidak punya cukup stok obat untuk menalangi kebutuhan itu. Maka solusi yang diambil haruslah keluarga pasiennya dulu yang bayar administrasinya, baru ditolong. Ini untuk mengikat hukum supaya keluarga memenuhi kewajibannya membayar tarif jasa medis yang ditentukan. Sebab banyak sekali pasien yang datang dalam keadaan sakit lalu kabur setelah ditolong.

Tentu saja tidak semua kasus harus "bayar di muka, ditolong belakangan". Untuk kasus-kasus gawat yang mengancam nyawa dalam hitungan detik, pasien harus ditolong saat itu juga tanpa menghiraukan biaya administrasi. Sekali lagi, yang berhak menentukan pasien itu terancam kematian atau tidak, hanya dokter dan perawat.

Begitu lho, Mbak Desfirawita.

SeNjA mengatakan...

ya itulah kehidupan mba, alhamdulilah aku gak pernah mengalami tapi aku ykn itu sangat berat.

seharusnya para dokter lebih menggunakan hati nuraninya,tapi jaman ini ?? masih adakah...? aku masih berharap ada ....

DESFIRAWITA mengatakan...

@ ina :
hehe...kayak lagu ada uang abang sayang, nggak ada uang abang ku tendang
hihi...

@ rava & mbak fanny :
yupz, begitulah hidup

@ laurentina :
salam kenal lauren,
kadang nggak semua orang bisa memahami isi kepala org lain, tujuan dan peraturan orang lain. makanya banyak sekali kesalahpaman yang terjadi.
nah, penjelasan yang seperti ini lah yang diperlukan.
kalo kyk gini kan asik, orang jadi bisa ngerti.

hmm..makasih ya udah mau baca n kasih comment yang membangun.
sering2 aja kayak gini, kan kita jadi bisa sharing.

thanks a lot ya
:p

@ senja:
yups, semoga saja masih ada orang yang berhati nurani