28 Oktober 2010

Uluran Tanganku

Lagu ini, mengingatkan kita tentang kehilangan, kepolosan seorang bocah lalu tentang berbagi dengan sesama. Mengingat begitu seringnya terjadi bencana di bumi ibu pertiwi, krisis moral dan lain sebagainya, mendengar lagu ini masih akan terus menyentuh batin kita.



Niat Tulus Berbagi
Ringankan Kisah Pahitmu
ku Mohon Sambut Uluran Tanganku


--pray for indonesia--

Moment 28 Oktober Untuk Ibuku

SOEMPAH PEMOEDA


- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA

- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA

- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA

Djakarta, 28 Oktober 1928

----
Akhirnya hari ini datang lagi. Hari yang menandai persatuan pemuda seluruh nusantara. Hari pengharapan dan batu pijakan perjuangan. Sungguh, datangnya hari ini membuatku terharu. Sama seperti hari-hari ketika merah putih berkibar dengan gagahnya dan perwira-perwira bangsa melangkah tegap mengatur barisan, mengheningkan cipta dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Itulah hari yang air mata haru tak pernah henti mengalir.

Dan kini 28 Oktober 2010, satu dari hari-hari itu berulang. Ada yang berbedaku rasakan ketika hari ini tiba. Disamping ini adalah hari yang indah tapi juga moment terbaik yang akan terus kukenang sampai kapanpun.

Ya. Ini adalah harinya. Wanita perkasa yang kini sudah mulai merenta. Tapi kuingat, perjuangannya tidak ikut menua. Ibuku. Malaikat yang diutus Tuhan untuk menjagaku.

Aku ingat senyumnya menerawang ketika kutanyakan berapa umurnya tadi pagi. 

"56 atau 58 mungkin" jawabnya sambil terus menghitung. 

"58" kataku membantunya mengingat. Dia tertawa. "Benar".

Mungkin orang-orang akan menganggapku aneh atau semacamnya. Tapi memang, aku tidak pernah memberikan pelukan atau ciuman hangat padanya. Semenjak aku kecil, tidak pernah ada kebiasaan seperti itu. Dan, bagi kami tidak masalah. Namun, andai dia tahu, dalam diam aku tulus berdoa untuknya. Doa yang senantiasa diucapkan oleh seorang anak--berharap yang terbaik untuk orang tuanya.

Lalu sebuah bisikkan lirih mengantar moment di pagi ini dengan manisnya.



--Untuk ibuku--

26 Oktober 2010

Kita dan Tuhan

Titik gempa tektonik berkekuatan 7,2 SR di 78 km Barat Daya Pagai Selatan Mentawai sumatera Barat, dengan kedalaman 10 km, Senin (26/10/2010).

Semalam, hujan masih mengguyur dengan lebatnya. Menggigit kulit yang masih terjaga. Kantuk menyerang dan keinginan terindah adalah bergelung dibawah selimut sambil memeluk guling. Itu yang kulakukan semalam, setelah sinetron di TV benar-benar membuatku muak. Tidak ada acara musik, apalagi pertandingan bola. Maka, MP3 di telinga menjadi solusi untuk mengeyahkan rasa bosan.

Khayalan-khayalan tentang sebuah kisah yang akan kutuliskan novelnya masih menari-nari indah dipikiranku, ketika sebuah guncangan tiba-tiba membuatku tersentak. Bila tak mengingat bahwa dinding kamarku sudah tidak bisa diajak berkompromi, aku tidak akan segera berdiri dan bergegas keluar membangunkan ibuku. 

Ya, semalam gempa mengguncang kotaku lagi. 7,2 SR di Mentawai, tepatnya pukul 21.42 Waktu Indonesia Barat. Membuat resah, membuat cemas semua orang, apalagi ketika gempa itu diprediksi berpotensi Tsunami meski pada akhirnya prediksi itu dicabut.

Beberapa menit berlalu, aku kembali asik di depan layar Televisi. Mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi sambil sesekali memasang telinga, kalau-kalau ada yang lewat untuk mengungsi. Namun, sampai aku menemukan Film kesuakaanku, tak ada tanda-tanda panik dari masyarakat seperti yang bisa terjadi. Heran sekaligus bercampur kagum juga, ternyata mereka sudah bisa mengendalikan rasa panik itu dengan sesuatu yang lebih bermanfaat yaitu berdoa sambil was-was juga tentunya atau karena hujan lebat mereka jadi tak bisa keluar rumah? Entahlah.

Waktu sudah semakin beranjak larut ketika BMKG mencabut keterangan berpotensi Tsunami itu, artinya keadaan baik-baik saja, meski memang terjadi Tsunami kecil di Kepulauan Mentawai. 

Entahlah, apa yang terjadi padaku. Sedikitpun tidak ada rasa takut kurasakan. Padahal jika dilihat keadaan rumahku, sangat dimungkinkan kami akan tertimbun disana jika gempa kembali lagi. Entahlah. Bukan karena takabur atau apapun namanya, tapi jujur, hatiku mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Tuhan pasti akan melindungi kami semua. Dan aku sangat percaya itu. Jikapun memang terjadi sesuatu yang tidak disangka-sangka, percayalah itu memang sudah kehendak dari-Nya.

Sudah begitu banyak cobaan yang terjadi dalam hidupku. Kadang sedikit berputus asa dan merasa lelah,  tapi aku bersyukur karna aku sadar itu semua telah membuatku menjadi orang yang kuat dan tegar. Demikian juga dengan bencana-bencanya yang terjadi. Semua membuatku semakin percaya bahwa Tuhan adalah penguasa segala dan kita bukan siapa-siapa tanpanya....


--Gambar Copas disini--

23 Oktober 2010

"Please don't stop the rain," entah kenapa, aku hanya ingin mengatakan itu




If it's gonna be a rainy day
There's nothing we can do to make it change
We can pray for sunny weather
But that won't stop the rain


--what i feel today--

22 Oktober 2010

I Surrender


entah sudah berapa bait kutinggalkan puisi itu
beratus-ratus kata kubiarkan menari-nari,
mengendap begitu saja.
entahlah yang kurasakan kini,
hanya kehampaan,
sewaktu-waktu berbisik lirih
"aku merapat pada senjaMu Tuhan,
memasrahkan diri pada kuasaMu"