20 Oktober 2009

Jika Kau Kehilangan


Jangan pernah sedih
Karena kau terlalu mencintai ku

Jangan pernah sedih
Karena kau merasa kehilangan aku

Jangan pernah sedih
Karena kau tak sanggup melupakan aku

Maka jangan menangis
Saat aku meninggalkan mu

Dan ingatlah waktu-waktu terbaik yang pernah kita lalui bersama
Maka kau akan bangga karena kau mengenal ku
Karena aku hanyalah batu pijakan bagi mu
Saat kau ingin melompat lebih tinggi

--------------

Kecintaa kamu pada seseorang kadang kala membuat mu menjadi orang paling bodoh sedunia. Kamu rela melakukan apa saja untuk dia, untuk membuatnya selalu menjadi milik mu selamanya. Mencintai seseorang juga merupakan anugerah terindah. Bagi mu dialah segala-galanya. Kebahagiaan maupun harapan.

Namun apa jadinya, jika dia yang kamu cintai tidak bersama mu lagi. Dia pergi meninggalkan mu sesaat atau untuk selama-lamanya. Barangkali kamu akan menjadi orang yang paling sedih dan menderita. Dunia seakan telah berakhir dan hidup seakan tak berarti lagi.

Cinta itu adalah kekuatan. Dan mencintai seseorang seharunya menjadikan mu menjadi orang paling kuat sedunia. Itulah sebabnya orang selalu menyebutkan kalimat "The Power Of Love". Percaya atau tidak, sadar atau tidak, cinta itu mempunyai kekuatan yang mengaliri setiap denyut nafas mu.

---------------

--Kata-kata ini aku kutip dari sampul album sheila on 7 "sephia". Ini kata-kata yang diucapkan ayah Eross. Aku menyukainya dan sangat tersentuh dengannya. Semoga kalian juga--

18 Oktober 2009

Nasib Dedaunan Tua



Aku seumpama dedaunan yang berguguran ketika musim panas tiba
dedaunan yang kering kerontang
terombang ambing oleh deru angin lalu
berlumuran debu-debu jalanan yang pekat
akan segera hancur seiring lenggang langkah sang penguasa dunia
aku tak akan berguna lagi jika hari itu tiba
hanya mengisi bak-bak sampah sang penyapu jalanan
aku akan selalu terbuang
merasa terasing dan tercampakkan

Inilah nasib dedaunan seperti ku
tak berarti apa-apa jika musim panas tiba
hanya membuat kejengkelan para petugas kebersihan
para ibu-ibu dan gadis-gadis yang menyapu halaman rumah

Inilah nasib dedaunan tua seperti ku
tak berarti apa-apa lagi bila tlah berguguran

-----------

15 Oktober 2009

I Just Wanna Feel

"Loe sama bagas aja ya wit, sementara gue sama meta" kata sarah pada ku. Aku hanya mengangkat bahu. "Terserah" jawab ku.

***

Bagas mengendarai motor gedenya semakin kencang. Menyalip kendaraan-kendaraan di depannya. dan terus melaju tanpa canggung Sementara diboncengan, aku hanya duduk manis, menikmati pemandangan kota Bukittinggi yang selalu membuat ku rindu. Merasakan tamparan angin sore yang dingin dan segar.

Aku menikmati semuanya termasuk cowok yang di depan ku. Aku tak tahu awalnya dimana, tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang aneh di sini. Disudut hati ku. Ah, gila memang. Padahal aku baru mengenalnya beberapa jam yang lalu. Dan dia bukan orang yang tepat untuk ku beri rasa. Dia pacar sahabat ku, sarah. Bagaimana mungkin ini bisa ku rasakan.

Aku memperhatikannya dari belakang. Bagas memang tipe cowok yang akan digandrungi siapa saja. Tampan, gentle dan terutama baik. Sarah beruntung bisa memilikinya.

"Kamu temannya sarah waktu kuliah ya?" pertanyaan Bagas mengagetkan ku.

Untung hanya dari belakang, kalo nggak, mungkin ia akan mendapati ku sedang menatapnya. Atau ia bisa merasakannya? Argg...jangan sampai deh.

"Kok diam?" tanya nya lagi. Aku gelagapan. "Iya. Teman kuliahnya, satu jurusan pula" jawab ku akhirnya. Kemudian cowok itu diam. Tak berapa lama ia bertanya lagi "Sering ke Bukittinggi?"

"Nggak juga, tapi kalo lebaran sering sih. Cuma sarahnya aja yang belum pernah ke tempat ku"
"Kok belum pernah? Nggak pernah diajak kali?"
"Sering kok, dia nya aja yang nggak mau. Banyak alasan"
"Ooo..."
"Eh, kamu ajakin dia main ke pariaman dong. Biar dia juga bisa nikmati kota ku. Masa aku mulu yang main ke sini"
"OK deh. Ntar aku ajakin. Ngomong-ngomong rumah kamu dekat mana? Aku dulu sering ke pariaman"
"Aku tinggal di ..........." bla bla bla bla....obrolan pun semakin seru. Aku yang mulanya merasa risih dan malu-malu diboncengin sama pacar teman ku, jadi sedikit lebih santai. Yach...meskipun sedikit ada rasa, paling tidak aku memcoba bersahabat dengan nya.

Tit...tit.....
Sarah mengklakson kami dengan motornya. "Woi.....loe jangan sampai lupain gue yaaa" katanya sambil tertawa bersama meta kemudian berlalu memacu motornya. Tiba-tiba aku merasa sedih. Aku tahu sarah mengatakan itu sambil bercanda, tapi aku merasakan ada nada tak suka dalam suaranya melihat aku tertawa bersama bagas.

Aku hanya terseyum samar menanggapi ucapannya. Aku tahu, aku ini seorang jomblo sejati. Aku tak pernah pacaran. Bahkan diumur ku yang 23 tahun ini ,tak seorang cowok pun yang mengatakan cinta pada ku.  Orang-orang boleh mengatakan aku wanita kesepian atau sebagainya, tapi aku masih punya rasa, punya hati. Aku tak mungkin merebut pacar sahabat ku sendiri. Aku lebih baik menderita memendam perasaan daripada harus menyakiti sahabat ku.

***

Bus terus melaju meninggalkan kota Bukittinggi menuju Pariaman. Aku terjepit dikursi sebelah sudut dekat jendela. Sementara Meta membaringkan kepalanya ke bahu ku.  Malam semakin beranjak larut, namun kami masih diperjalanan. Masih beberapa kilometer lagi, kami akan sampai. Namun, kondisi yang macet total akan membuat kami terus mendekam dalam bus yang penuh sesak ini.

Ku biarkan jendela bus terbuka lebar. Angin malam berhembus kencang, menampar muka ku yang kelelahan, namun itulah yang ku butuhkan kini. Aku ingin angin itu menerbangkan semua kesedihan yang kurasa kan.

Bus semakin jauh melaju meninggalkan kota Bukittinggi. Membawa diri ku jauh dari kenangan sesaat yang menyakitkan.

------------

Bukittinggi I'm In Love

11 Oktober 2009

Terobsesi Pada Mimpi

Jika kau bertanya tentang aku, maka aku akan menjawab bahwa aku adalah seorang penulis awam. Tiada jera bagi ku bercerita pada dunia tentang apa yang ku pandang di langit dan dibumi. Aku belajar menulis dengan perasaan, dari hati. Ia mengajarkan ku tentang banyak hal, kejujuran dan ungkapkan.

Inilah aku seorang penulis awam yang bahkan tak berpikir apa kau akan suka dengan tulisan ku. Aku tak peduli. Egois memang, tapi inilah aku. Hari ini cukup diri ku yang memahami tulisan ku. Mungkin esok hari aku akan memuaskan mu dengan kehebatan ku. Akan aku pelajari dari orang-orang hebat seperti mu. Dan kau akan melihat, bahwa aku bisa.

Inilah aku, penulis awam yang terobesesi akan mimpi.....

Ruang Sempit Untuk Mu


Di sini aku mungkin hanya mempunyai ruangan yang sempit untuk kita tempati berdua. Tak cukup untuk kau bisa bergerak bebas. Aku hanya mempunyai satu bantal, satu kasur dan satu selimut. Apa itu cukup untuk kita berdua?

Aku akan suka berbagi dengan mu jika kau sudi. Namun, ku pikir kita bahkan tak memerlukan bantal ataupun selimut untuk terlelap. Karna kita akan saling memeluk, tangan kita akan saling merangkul dalam bayangan senja. Dan itu cukup hangat untuk menepiskan angin malam yang menerobos masuk, bahkan lebih panas dari bara api yang berderak di tungku perapian.

Jika kau merasa tak nyaman dan tak terbiasa dengan ruang sempit ini, aku  pun tak keberatan jika kau mengambil semua tempat ku jika kau menginginkan. Aku akan mengalah demi kebahagiaan mu. Karna senyum mu adalah nafas bagi ku. Aku akan setia menunggui mu sampai tertidur sambil membelai setiap helai rambut mu, menyelimuti mu dengan kecupan ku. Cukup romantis kan? Apa kau mau?

Sekali lagi ku katakan, di sini mungkin aku hanya mempunyai ruang sempit untuk berbagi, namun di hati ku, ada banyak ruang kosong yang bisa kau isi dengan apa saja. Semua ruangan itu hanya untuk mu. Apa kau sudi untuk mengisinya??

Namun sepertinya tak semudah itu bagi mu melewati hari yang sempit ini dengan ku. Kau terbiasa bergerak bebas, ruang mu terlalu luas untuk diri mu terbang. Kau terbiasa bersama dengan dunia yang lebar. Jauh dengan dunia ku yang kecil dan sederhana.

Aku tak tahu sampai kapan bisa menyakinkan mu dengan mengoceh tentang ruang sempit ku. Hanya kejujuran yang bisa ku berikan selain CINTA. Ku pikir itu adalah kata terdalam untuk menyakinkan mu.

Terserah apa kau mau menerima ku.....