24 Mei 2009

tonight with you


Take my hand tonight
Let's not think about tomorrow
Take my hand tonight
We could find some place to go
Cause our hearts are locked forever
And our love will never die
Take my hand tonight
One last time





--Simple Plan-Take My Hand--

dan rasa itupun pergi


seiring deburan ombak menepi, menciumi bibir pantai

Surat Untuk Mishel



Mishel,
Aku ini memang bukan Tomi yang selalu menghujani mu dengan puisi-puisi romantis dan memperlakukan mu dengan sangat manis. Aku juga bukan Nuno yang selalu ada untuk melindungi mu dari setiap apa pun yang akan menyakiti mu. Aku bukan siapa-siapa. Aku hanyalah seorang cowok yang tak terlalu berarti di mata mu. Aku tak bisa berikan apa-apa. Bahkan untuk menghapus tangis mu pun aku tak bisa. Kau pernah bilang kan, aku ini terlalu konyol untuk mendapatkan perhatian mu. Aku tak peduli meski kau menyebut ku sebagai pecundang sekali pun. Jika kau yang mengucapkan, aku rela. 

Aku mencintai mu Mishel, lebih besar dari yang pernah kau sadari. Tak perlu pembuktian apa-apa ku rasa, karna cinta itu  ada di hati ku. Hanya kau yang bisa rasakan ketulusannya. 

Aku tak minta apa-apa dari mu, cukup hanya kau mengetahuinya. Selamat tinggal, Shel. Besok aku akan pergi dan mungkin setelah kembali, aku tak akan menemukan mu lagi di sana. Aku berharap kau selalu bahagia dan jangan pernah tangisi lagi apa yang sudah berlalu....

Lovely,
Bagas

------------------

Aku percaya cinta itu adalah kejujuran. Tak perlu harus memaksakan kehendak untuk memiliki dia yang ku cinta. Bisa mengungkapkannya saja bagi ku itu sudah cukup. Dan yang terpenting, saat aku melepaskannya, aku tahu ia akan lebih berbahagia. Itulah artinya ketulusan cinta. Bukan kah cinta itu membebaskan??

Setelah Hujan Reda

Suatu sore setelah hujan reda, seseorang bertanya pada ku. "Kenapa sih, loe suka banget sama hujan? Kenapa loe suka banget naik ke atap dan memandang langit setelah hujan reda? Apa asiknya coba? Cuma ada dedaunan yang basah juga hawa yang dingin?"

Aku menanggapinya dengan senyum, tidak berkata-kata. Ada yang tidak mereka ketahui tentang hujan. Bagi mereka hujan hanyalah air yang menetes dari langit. Kadang-kadang suatu kesialan bila menemuinya. Hujan hanyalah pembasah dahaga bumi yang kekeringan.

Tapi bagi ku, hujan adalah anugerah. Hujan adalah berkah. Hujan bisa membasuh kesedihan yang ku rasakan, membuang semua sesak yang melekat di dada, kemudian menghayutkannya ke jurang-jurang tak berdasar.

"Kenapa harus hujan sih? Banyak anugerah terindah lainnya yang bisa dinikmati, seperti pemadangan sunset di penghujung senja atau munculnya fajar di pagi hari. Kenapa harus hujan?" lagi-lagi seseorang menanyai ku tentang hujan.

 Semuanya indah, memang sangat indah. Tidak ada satupun ciptaan Tuhan yang cacat, tapi mereka tidak tahu keindahan yang diciptakan hujan. Aku mendesah pelan, mereka tidak mengetahui, sampai kapanpun tak akan bisa mengerti jika aku tidak menjelaskan. Maka dari itu, aku berkata.

"Menatap langit setelah hujan reda itu begitu menyenangkannya. Ada kedamian kau temukan di sana, ada kabut-kabut tipis yang menyentuh batin mu, ada bias-bias pelangi yang menarik bibir mu untuk tersenyum. Kau tak akan pernah tahu itu. Karna sering kali kau hanya mengagumi langit di saat matahari terbenam dan melewatkan saat-saat indah itu. Ketahuilah setelah tangis pasti ada tawa dan setelah hujan pasti ada langit berwarna"

Seseorang terseyum mendengar penjelasan ku. Apa mereka mengerti? Aku berharap demikian dan mereka bisa menyukai langit setelah hujan reda.


--Percakapan di saat menunggu hujan reda--
(ditulis kembali pada : 12 Juli 2008)

Membuang Waktu Berharga

 zero_car@yahoo.com  Available

Hari ini aku melihat nama mu terpajang di contact yahoo messanger ku. Kau sedang online. Ingin rasanya aku menyapa mu, seperti yang biasanya kerap ku lakukan bila menemukan mu sedang online. Tapi kali ini aku mengabaikan mu.

Entahlah kenapa. Belakangan ini aku terus berusaha untuk mengindari mu. Itu ku lakukan, karena aku tak mau mengecewakan diri ku lagi. Aku berusaha menekan perasaan ku untuk tak terus menyukai mu. Itu akan sangat menyakitkan, kendati kau bukan untuk ku. Kau telah memiliki pelabuhan sendiri dan jelas itu bukan aku. Bagi mu, aku ini hanyalah seorang anak kecil. Junior yang baru belajar merangkak. Lucu, menggemaskan dan suatu hiburan yang menyenangkan. Kau berpikir begitu kan? Apakah begitu? Atau aku hanya terlalu berlebihan menyimpulkannya. Ah...sudahlah, apapun pendapat mu itu, yang jelas artinya akan sama. Aku hanyalah sebuah batu kerikil yang akan menyandung perjalanan menuju pelabuhan mu.

Hari ini kau online dan kau menemukan ku. Tapi tak seperti biasanya, kau tidak menyapa ku juga. Apa kau sedang menghindari ku juga? atau kau merasakan apa yang kini ku lakukan pada mu. Ah....semoga saja kau tak berpikiran buruk tentang ku. Aku hanya tak bisa menjembatani perasaan ku kini. Tapi mungkin esok hari, ketika aku sudah bisa melihat kau sebagai penuntut diri ku yang baru belajar merangkak. Ku mohon mengertilah, dan jangan lakukan ini pula pada ku.

Hari ini kau online, kau menemukan ku. Namun kita hanya saling diam. Membuang-buang waktu yang berharga untuk memperbincangkan resah yang menyiksa. Kita membiarkannya berlalu sampai akhirnya kita benar-benar tak memiliki waktu untuk itu.

zero_car@yahoo.com  Invisible

--------