11 Januari 2010

Satu Malam 15 Tahun Yang Lalu

Satu malam 15 tahun yang lalu.
Aku meringkik dibawah kolong tempat tidur ku sendiri, di dalam gelap, gemetaran dan ketakutan. Aku diam, membekap mulut ku sendiri untuk tak bersuara. Aku menahan nafas ku berharap ia tak mendengar. Satu-satu nya yang bisa ku dengar waktu itu hanyalah degupan jantung ku sendiri.

Aku tahu, pria itu tidak mencari ku. Ia hanya "mengamankan" ibu agar tak mengganggu tidurnya. Satu-satunya cara, dengan menyakiti ibu ku. Ibu kesakitan. Jeritannya terasa menyayat-nyayat jantung ku. Aku menangis dalam gelap itu. Luka rasanya.

Ingin aku melindungi ibu ku, mengejar pria itu dan memukulnya dengan apapun yang bisa ku dapat. Aku ingin ia berhenti menyakiti ibu. Tapi waktu itu aku masih kecil dan ketakutan masih menghantui ku.

Yang ku lakukan hanya diam dalam gelap. Terisak tertahan. Lalu menanamkan dendam di hati ku.

Aku benci pria itu, aku benci mereka yang telah menyakiti ibu ku.

***

Satu Malam 15 Tahun yang lalu
Aku berpelukan bersama kakak, dalam gelap ketakutan dan saling bertangisan. Pria itu mengejar papa ku dan ingin membunuhnya. Setelah tak berhasil, ia malah menyakiti ibu ku.

Aku menangis dalam pelukan kakak. Satu-satunya pelukan yang pernah ku dapat darinya. Kami hanya diam, tanpa tahu bahwa hati kami sama-sama terluka. Hati kami menaruh dendam pada orang yang sama.

Aku benci pria itu, aku benci padanya yang telah membuat papa pergi. 

***

Satu malam 15 tahun yang lalu
Waktu itu aku denci malam hari. Aku selalu berharap tak akan pernah ada malam. Aku hanya ingin pagi, dimana aku bisa menghabiskan waktu ku hanya di sekolah. Kenyataan, malam selalu datang. Dan aku selalu dihantui ketakukan karnanya.

Setiap malam, aku selalu berdoa agar hujan turun. Lebat. Biar aku bisa tidur di kasur ku sendiri, bukan di bawah kolong tempat tidur. Biar aku bisa tidur nyenyak tanpa terbangun oleh jeritan kesakitan ibu. Atau ketika musim ujian tiba, aku bisa konsentrasi belajar. Selama aku memakai seragam merah putih itu, aku merasa tak pernah belajar. Beruntung aku dianugerahi otak yang cemerlang. Jadi, kakak tak perlu malu menjemput rafor ku ke sekolah.

Setiap malam, aku selalu berharap agar ibu bisa tenang. Agar aku tak merasa sesak lagi. Jujur, aku lelah menyembunyikan tangis ini. Sangat lelah, hingga pernah menyalahkan Tuhan. Rasanya sungguh tak adil jika ini terjadi pada ku.

Aku pernah marah pada Tuhan, hingga tak mau sholat bertahun-tahun, tak mau membaca Al-Quran, sampai-sampai aku menjadi buta akan huruf Arab. Tapi nyatanya, setiap malam aku terus meminta hujan pada-Nya.

Sungguh, aku benci pada malam-malam 15 tahun yang lalu. Dan selalu berharap malam-malam itu tak akan pernah terjadi lagi. Aku hanya bisa berharap, kenyataannya malam-malam itu tak pernah enyah dari kehidupan ku. Ia terus mengantui ku bahkan sampai 15 tahun kemudian.

***


--True story : di suatu malam--

19 komentar:

Rava mengatakan...

'Pria itu'....
Whos that guys ?
aku jadi penasaran wit...
Apa motifnya dan apa hubungannya dengan keluargamu..

Seti@wan Dirgant@Ra mengatakan...

Aku jadi terenyuh membaca kisahnya Des...
Moga nggak terjadi lagi... dan Tetaplah memohon kepada-Nya sehingga kenangan itu berangsur hilang.

Pohonku Sepi Sendiri mengatakan...

ada apakah dgn malam 15 tahun yg lalu?
ah, bagaimanapun yg terjadi.. sepahit apapun, malam itu pastinya mrp bagian penting dari sejarah seorg wiwit.. mungkin memang takkan terlupakan dan memang jgn sampe kita melupakan sejarah..
tapi, semoga hal itu takkan mengganggumu lagi wit dan malah akan menjadi satu hal yg mendewasakanmu..

yans'dalamjeda' mengatakan...

Ach...laki-laki, itulah kenapa saya ga ingin mencintai laki-laki. hehe *kidding, biar ga sedih. satu malam 15 tahun yang lalu, barangkali hanya kisah pahit yang layak kita ambil pelajaran. Kemudian membuangnya dan melupakannya.
Semoga semua kan baik-baik saja.....

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

pria itu siapa? serem banget

Alil mengatakan...

wit...
the past is so dark...

I can't imagine...

laurentina mengatakan...

Beneran nih, Des? Sekarang, is your Mom ok?

DESFIRAWITA mengatakan...

@ rava :
pria itu?
kalo diceritain mungkin nggak bakal percaya, dia masih keluarga kok, tapi itulah kenyataannya

@ setiawan dirgantara:
ya semoga saja kenangan itu tidak menghantui lagi

@ pohon :
benar, aku kuat karna penderitaan yang ku alami bertahun2 yang lalu
karna masa lalu itu, aku menjadi seperti sekarang.
menjadi seseorang yang kuat dan tegar dalam menghadapi apapun


@ yans:
semoga baik-baik saja
makasih sudah membuat ku tersenyum
:D

@ mbak fanny :
memang serem,
dulu aku kalo lihat dia, pasti ngumpet, atau nggak ngambil jalan lain biar nggak papasan.
tapi sekarang, aku adalah musuh baginya.
lucu juga ya, dia malah ngajarin aku untuk nggak takut lagi padanya

@ alil :
dicekam rasa takut, dalam kegelapan
buat seorang anak kecil pastilah bikin trauma, lil.
tapi sekarang wiwit udah nggak takut gelap lagi kok. dia malah menjadi teman wit ketika tidur
:p

@ laurentina :
it's true story.
my mom OK
meski masih sakit, tapi udah jarang yang nyakitinya kayak dulu
dan jangan sampai itu terjadi lagi

Syifa Ahira mengatakan...

moga mama cepet sembuh ya wit..
smoga 'laki-laki' itu mendapat balasan yang pantas olehNya.

Rava mengatakan...

Hmmm...makin penasaran...
Tapi yang lalu biarlah berlalu say..
semoga keluargamu baik" saja dan semoga pria itu ditunjukan jalan yang benar dan mau menebus kesalahannya terdahulu..amiinn...

Yang tegar yah sista!
ur not alone koq..ada kita semua disini yang mensupportmu.. :)

Sari mengatakan...

Kamu pasti perempuan yang tangguh yaa...
Sabar & kuat...
Tetap lah seperti itu...
Tuhan hendak menjadikan kamu manusia yang tegar, DIA tahu kamu mampu mengatasi semuanya, meski mungkin dengan tertatih...
Aku sendiri, blom tentu sanggup menjadi kamu...

DESFIRAWITA mengatakan...

@ rava
amiin...semoga saja ia cepat sadar

@ sari :
yach, kadang kita menjadi kuat setelah mendapat cobaan dulu

DESFIRAWITA mengatakan...

@ syifa ahira:
ya, semoga ibu cepat sembuh
makasih ya buat doanya
:p

Elsa mengatakan...

subhanallah..trauma yang sangat menyakitkan. tak terbayangkan bagaimana rasanya...hingga 15 tahun belum mampu menghapusnya dari ingatan.

subhanallah...
Allah pasti punya sesuatu yang lebih baik suatu saat nanti. hingga kita bisa mengerti hikmahnya.

yang sabar yaa
pasrahkan semuanya ke Allah.
Dia pasti mengganti semua penderitaan dengan rizki yang tak disangka sangka

DESFIRAWITA mengatakan...

@ elsa :
rasanya cobaan itu berkepanjangan
tanpa tahu penghabisannya dimana
kadang lelah
kadang juga merasa tak adil
tapi inilah hidup
kata orang kalo Allah ngasih cobaan, itu karna Dia sayang sama kita.
mudah2an juga pada ku
hanya bisa berharap esok hari akan lebih baik
Amiin...

Moh. Ghufron Cholid mengatakan...

Ada riuh ketakutan dalam jiwamu
Lalu kau mencoba menakhlukkan semua
Dengan doa
Semoga tak lagi bertamu
Kenangan yang mengiris hatimu

DESFIRAWITA mengatakan...

@ Moh. Ghufron cholid :
ya, semoga saja
makasih

Pit mengatakan...

Semua akan baik-baik saja sista.. Believe it.. :)

DESFIRAWITA mengatakan...

@ Pit :
yup, u'r right
i hope it will be ok
:D