02 Februari 2010

Catatan dalam kenangan

Bandung, 15 Oktober 2008

Pagi itu, ketika mentari belumlah sempurna menepis pekatnya kabut, masih basahnya dedaunan oleh tetesan embun, dan belumlah sempurna pikiran ku bangun dari kantuk yang sangat mendera, kau memilih pergi.

Kau pergi tanpa memberi alasan apa-apa. Hanya cukup berkata, "Aku akan pergi. Lupakan aku", setelah itu kau berbalik dan meninggalkan ku dengan kebisuan pagi.

Pagi itu, aku seperti terbangun dari mimpi buruk, dan ketika membuka mata, kau sudah tak ada. Kau pergi meninggalkan ku sendiri. Ditengah dinginnya titik-titik embun, di dalam kabut, di pagi itu.

Bandung, 25 Oktober 2008

Kau tahu, apa yang terjari di sini setelah kau pergi?
Ugh..kau mungkin tak akan pernah tahu
Karna kau telah mati
Sama dengan hati ku kini
Kau meninggalkan ku ditengah kebisuan pagi
Dan sampai saat ini kebisuan itu masih memeluk ku erat
Barang kali esok hari
Atau lusa
Entahlah
Mungkin sampai kau kembali

Bandung, 30 Oktober 2008

Entah sudah berapa lama aku berada di sini. Menunggu mu, dijalan tempat kita biasa bertemu. Kau tahu, tempat itu masih sama seperti terakhir kau meninggalkannya. Bangku itu masih kosong, dan kini aku mendudukinya sendiri tanpa kau disamping ku.

Kau ingat jalanan itu? jalan yang selalu ku ributkan, karna banyaknya dedaunan berserakan? Ternyata ia juga masih sama. Belum ada seseorang yang berbaik hati membersihkannya. Barang kali mereka juga sependapat dengan mu, melawati jalan itu seperti berkunjung ke eropa sana, kita musim gugur tiba. Waktu itu aku menertawakan mu, imajinasi mu boleh juga.

Lalu sambil bergandengan tangan, kita akan berjalan pulang dan bercengkrama dengan khayalan-khayalan kita.

Aki tengah menunggu mu di sini. Tidak sendiri lagi. Ada hujan yang mencumbu kulit ku. Aku kedinginan, tapi belum sedingin hati ku yang beku, setelah kau pergi.

Bandung, 10 November 2008
Mereka membawa ku pergi dari sini, lebih tepatnya memaksa. Pergi dari mu dan kenangan tentang mu. Tapi mereka tak pernah tahu, setelah kau pergi, sebagian hidup ku telah ikut bersama mu. Tidak ada yang berubah disini, tidak sebelum kau kembali.

Padang, 14 Maret 2009

Seperti biasa, wanita itu tersenyum pada ku. Memamerkan barisan giginya yang putih. Memperlihatkan senyum yang seolah-olah bersahabat. Aku tak membalas. Hanya menatapnya nanar. Lalu seperti biasa, wanita itu akan bercerita, tentang banyak hal yang tak ku peduli. Aku tahu, ia hanya berusaha membuat ku bicara, seperti biasa.

Itu tak akan terjadi. Aku masih menyimpan kebisuan pagi itu. Pagi yang berkabut. Pagi disaat kau pergi meninggalkan ku.



--My imagination--

13 komentar:

Syifa Ahira mengatakan...

apa ini cerita tentangmu wit?

ieyaz mengatakan...

Ceritanya bikin mellowww ihh..
hikz..hikz..

pelangi anak mengatakan...

PENANTIAN YANG TAK MENGENAL WAKTU, TEMPAT DAN TIADA BERUJUNG.

DESFIRAWITA mengatakan...

@ syfa :
hehe...penasaran?
hm..gimana ya?
*sok misterius*

@ ieyaz :
iya nich, aku lagi pengen mellow, biar siang ini jadi adem
:p

@ pelangi anak :
penantian yang pajang yach..

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

wah, siapakah dia? sediih banget nih.

DESFIRAWITA mengatakan...

@ mbak fanny :
hai..hai...siapa dia?
kayak kuis aja
:D

Sari mengatakan...

Mirip diary :D

DESFIRAWITA mengatakan...

makanya dikasih label diary, sar

Rizky2009 mengatakan...

wah masih bisa di ingat2 yah hari2 yang dilalui, aq aja kadang lupa

Rava mengatakan...

True Story ??
Hmmm... kamu emang misterius koq wit..membuat pembaca bertanya".. Apa ? dan Siapa ? Karna itu pula aku jadi ketagihan ngikutin cerita"nya ;)

DESFIRAWITA mengatakan...

@ rizky :
hehe...itulah gunanya diary, tapi nggak semua ingat kok, yang diingat itu yang penuh kenangan aja

@ rava :
hahaha...misterius??
nggak juga kok, aku ini bisa juga kok blak-blakan, tapi emang, kalo bikin cerita itu yang bikin orang penasaran, biar asik
hihi...

Pohonku Sepi Sendiri mengatakan...

aah, sebuah cerita tentang kabut pagi dan kepergian..
pas buat menggambarkan tentang kisah kehilangan wit..

*pohon terkenang

DESFIRAWITA mengatakan...

terkenang siapa, po?
jangan bilang pohon pernah kehilangan seseorang ditengah kabut dipagi hari?