25 Juli 2011

Adorable


Dari yang pernah kulihat sejauh ini, 
pemandangan terindah adalah,
saat pasangan tua berjalan bersama
(Gretagarco)



Hidup sebagai pasangan adalah seperti percakapan panjang.
Tanpa kata-kata,
takkan ada pengertian.
Emosi takkan dimengerti tanpa dikatakan
(Nietzshe) 

20 Juli 2011

Over and over again

...memang, cerita-cerita itu hanya tinggal draf semu saja, 

tapi tidak akan pernah menjadi sekedar catatan pendek dalam ingatanku,
setengah dari memori itu sudah menjadi candu ketika hati ingin berkisah.
jadi tenang saja, 
aku pasti akan mengulangnya dari awal, 
tanpa lelah...

19 Juli 2011

Questions

Do you have a place where you can actually speak up your mind?
Do you have true friends?
When sad, you hide your tears?
Mess around with your friends?
Force yourself to laugh and pretend nothing's wrong?


14 Juli 2011

Tea Time


ini gelas kesayangan saya. berlabel Sagitarius, hadiah ulang tahun dari seorang teman.
hari ini dia kesepian. tidak ada cemilan sebagai kawan minum teh.
ada yang mau nenemin?

Tentang Berkunjung


Dear Temans,
Saya mungkin belum sempat berkunjung kerumahmu. Mampir sejenak, berlama-lama atau hanya sekedar meninggalkan jejak. Tapi percayalah, saya berusaha menyempatkan waktu untuk datang. Setidaknya dari rumah mungil ini, saya kembali membalas senyum sapa yang engkau tulis untukku.

Ya, lagi-lagi saya mencoba berusaha.

Terima kasih sudah sabar menunggu kehadiranku...

Love,
De


untuk teman-teman bloggers
 dan mereka yang pernah meninggalkan jejak disini. 
Thank you...

12 Juli 2011

Di Surau itu saya belajar

Mushala. Mesjid. Untuk apa dibangun?

Adakah orang yang tega mencuri di tempat seperti itu?
Belakangan saya mulai mengalami hal-hal menyebalkan ketika berniat untuk sholat di Mushala atau mesjid. Bukan karena tempatnya, tapi karena pengurus yang nggak tahu bagaimana "mengurus". 

Bagaimana tidak? Belum aja 1 jam kelar sholat Zuhur, pintu mesjid/mushala sudah tertutup rapat (baru menjelang sholat Ashar dibuka kembali begitu seterusnya). Nggak ada jalan lain untuk masuk ke dalam untuk sholat bahkan sekedar mengambil air untuk wudhu. 

Saya heran? Kenapa bisa seperti itu? Bahkan saking menyebalkannya, saya sampai menitikkan air mata. Miris melihat hal-hal yang seharusnya tidak terjadi malah sering terjadi.

Nggak jarang juga, bahkan saya harus mengantri di depan pintu tempat wudhu laki-laki karena yang perempuan (lagi-lagi) dikunci rapat. Sekali lagi saya heran, untuk apa? Memangnya ada yang mencuri di tempat wudhu?

Saya kerap mengalami hal seperti ini, nggak hanya dengan Mushala di dekat rumah atau tempat kerja, tapi dalam perjalanan saya pun juga mendapatinya. Tak jarang bahkan sangat sering, hal seperti inilah yang membuat orang-orang jadi mudah meninggalkan sholat, meski ini bukan alasan tapi jujur saja memang kenyataan hal seperti ini bisa menjadi pemicu *pengalaman pribadi* :p

Mesjid/Mushala, sekarang bukan lagi tempat persinggahan bagi orang-orang yang membutuhkan tidak hanya untuk menunaikan ibadah tapi juga untuk melepas penat sejenak.

Saya lantas teringat dengan Surau kecil yang ada di samping rumah saya (sekarang sudah runtuh). Dulu, para penjual ikan keliling sering singgah disana untuk sholat dan istirahat sejenak. Meski hanya surau kecil, dulunya merupakan tempat anak-anak belajar mengaji yang diajar oleh nenek buyut saya. 

Seiring waktu, surau itu mengalami pelapukan. Satu persatu tiang dan atapnya mulai rusak. Meski demikian, tempat itu masih kerap disinggahi oleh penjual ikan keliling. Karena meski itu dulunya surau milik pribadi (karena didirikan oleh keluarga saya), tapi tempat itu selalu terbuka untuk siapa saja. Kami tidak pernah menutup rapat pintunya apalagi mengunci. Meski hanya ada tikar pandan kecil tergantung disudut ruangan, tapi selalu bisa menjadi alas ketika kami sujud. 

Surau kecil itu selalu membuat saya damai. Membuat saya bahagia ketika melihat orang-orang singgah dan bersujud disana. Setidaknya, kebiasaan orang-orang itu mengajarkan saya satu hal, bahwa dalam hidup, kita butuh beberapa saat untuk melepas lelah. Butuh sebuah tempat untuk menyandarkan kepenatan hati, yaitu kepada Allah SWT.

Sekarang, surau itu tidak ada lagi. Dan saya tidak pernah lagi melihat orang-orang dalam perjalanan singgah disana pun penjual ikan keliling itu. 

Seiring waktu, semua melapuk. Begitu juga dengan pandangan orang-orang tentang arti pentingnya sebuah rumah ibadah. 

11 Juli 2011

Mengabjad kenangan. Semoga tidak satupun yang terlewat

Dear Bee,
Pernahkah kau membaca catatan #28 hari? Sebuah catatan yang meninggalkan jejak yang acak tapi saling berkisah. Aku sedang melakukannya kini. Dengan redup cahaya senter, ditemani lagu-lagu ten2five. Malam ini.
Sendiri.

Pernahkah kau baca? Jika belum, kuharap suatu hari aku bisa menecritakan kepadamu bagaimana kisahnya. Ya, suatu hari, aku, kamu--kita, akan duduk bersama. Bercerita lagi.

*****

Dear De,
Aku pernah mendengar dan melihatnya walau sekilas. Tapi benar, aku sama sekali belum pernah membacanya. Aku begitu ingin. 

Nanti. Ya, semoga selalu ada kesempatan dan hari esok....

*****

Dear Bee,
I Miss us, and all the things we've accidentally missed.
*****

Dear De,
Me too... and let the stories tell ho much we're missing.

*****

Dear Bee, 
Ya. Karena kenangan ternyata terlalu sedih ketika hanya diingat seorang diri. Semoga suatu saat aku bisa memenuhi janji untuk membagi kisah itu bersamamu. 

Semoga.

*****

Dear De,
Ya. I wish, de. Karena hanya kenangan itu yang kita punya.

Semoga....


*****

Beberapa waktu yang lalu, tanpa sengaja saya menemukan catatan #28 hari untuk selamanya dari sebuah dokumen scribd. Penasaran saya mem-print dan baru semalam sempat untuk membacanya. Briliant. Catatan itu benar-benar bagus. Dalam dan penuh kata-kata indah. Saya sampai berulang-ulang membaca saking terpesonanya.

Kemudian saya ingat, saya dulunya juga pernah melakukan hal yang sama bersama teman. Saling berkirim puisi melalui sms, sambung menyambung dan berkisah. Hahaha...saya bahkan menyalin sms-sms itu kedalam buku harian saya. Semalam, sehabis membaca catatan itu, saya kembali membongkar memori lama itu. Diary usang yang sudah lusuh, terhimpit kertas-kertas coretan tangan saya. Berdebu.

Saya ingat pindora itu. Dan ingat dengan janji saya untuk menyelesaikan Novel November Rain yang hampir setahun terbengkalai. 

Saya sedang berusaha mendata kenangan itu lagi. Merinci dan mengabjadkannya menjadi cerita. Semoga tidak satupun yang terlewat....

09 Juli 2011

Eien No Ai



Jinsei wa subarashii date
Anata to de aeta kara
Isshoni anata to futari
Eien no ai o
kehidupan ini indah,
karena aku bisa bertemu kamu
berdua bersamamu
forever love

Award and 10 things about me

Hiks...hiks.. terharu atas kebaikan hati Mbak Enno yang dengan senang hati membingkiskan sebuah Award kepada saya. Sungguh, air mata saya sempat meleleh tak tertahankan. Hahaha..*lebay*. 

Setelah diflashback lagi, ternyata sudah 1 tahun lebih saya tidak mendapat Award. Hiks....(terakhir tanggal 11 Juni 2010) dooh..kelamaan ya? Nah, makanya saya sungguh-sungguh bersemangat menerima Award ini. Seandainya saja ada Red Carpetnya, saya pasti pake gaun yang paling bagus deh. Hihi...Tapi sayang, PR yang diberikan bikin saya bingung. 10 hal tentang saya? Apaaaaaaa yaaaa? *mikir*


  1. Masih jomblo. Halah. *promosi*
  2. Moody banget. Kalo mood lagi bagus, okeeeh diajak ngapain aja asik-asik aja. Tapi kalo udah bad mood, jauh-jauh deh. Daripada kena sasaran tembak. *nggak mau kan?*
  3. Hobby makan. Dalam 2 jam bisa beberapa kali. Apalagi kalo sambelnya enak. Ngemilnya jangan lupa, paling suka ngemil beraneka jenis kerupuk. hahahaha...
  4. Males mandi plus keramas. Apalagi kalo pulangnya sudah kemalaman. Saya paling nggak tahan sama dingin. Soalnya badan bisa kram tiba-tiba and jadi sering kebelet. Kata temen, saya terkena penyakit rematik. *Duh, serasa udah tua banget deh*
  5. Aneh bin ajaib. Bisa tiba-tiba nangis, eh bisa juga mendadak ketawa. *sinting kali ya*
  6. Kata orang saya ini jutek. Padahal muka yang dari lahir emang sadis banget kelihatan. *bukan salah bunda mengandung*
  7. Paling benci sama orang lelet apalagi loadingnya lama.Terutama buat kaum cowok nih. Yang tipe begini jauh-jauh deh dari saya. Hhihi...*kejaaam*
  8. Kelas VI SD udah ngerasain yang namanya jatuh cinta. Sama sohib lagi. Sayangnya terlibat cinta segitiga. *doooh...bener nggak sih namanya cinta?*
  9. Mudah suka sama cowok. Apalagi pinter, ganteng and bersahabat. Makin gila lagi kalo tu cowok bisa mainin alat musik, nyanyi and nyiptain lagu. Aaaaah....siapun pasti bakal terpikat ya? *jadi kangen AD* :p
  10. Baru aja "normal". Maksudnya apa coba? Gini nih, saya ini dulunya tomboi habis. Suka pake celana gombrong dan rambut pendek. Nggak suka pake kaos ngepas, apalagi jins ngepas yang sampe kelihatan pantatnya kemana-mana. Makanya, teman-teman sering bilangin, "elu cowok apa cewek sih?" Asli, awalnya saya asik-asik aja ditanyain gitu, tapi lama-lama kok nggak ngenakin banget ya. Kayak saya ini nggak normal aja. Malah dulunya, mereka suka ngejadiin saya kelinci percobaan. Ya pakein make up lah, dicukurin alisnya lah, disuruh pake high heels lah, pokok e semua pada heran plus ngiri. Secara badan saya kan kecil, mungil, imut, kulitnya sawo mateng, bersih lagi. Lah, siapa yang nggak ngiri, didandanin feminin ato tomboi sekalipun cocok-cocok aja, hanya saja saya yang nggak suka di dandani. Jins gombrong dan sedikit robek di lutut, ransel, sepatu kets, rambut cepak, kemeja kotak-kotak. Dengan dandanan kayak gitu,  harusnya saya berada di Jurusan Teknik, sayangnya takdir membelokkan jalan saya ke Administrasi Niaga. *Tuhan memang baik*.  Tapi yang namanya perempuan, tetap aja naluri kewanitaannya muncul, apalagi kalo sedang jatuh cinta. Apapun bakal dilakuin demi sang pujaan tercinta. Akhirnya tahun 2004 saya sadar dan kembali ke jalan yang benar. Jatuh cinta kepada Tomku membuat saya berubah sekian puluh derajat. ^_^
Nah, saudara-saudara. Jadi begitulah 10 hal tentang saya. 10 hal yang kesemuanya bercerita tentang "keanehan" saya. Sttttt...jangan bilang-bilang ya. Ini hanya jadi rahasia kita aja lho...hihihi...

Thanks mbak Enno. Awardnya juga keren ^_^

07 Juli 2011

Negara Romantis

Ada beberapa negara di dunia yang terkenal dengan sebutan negara romantis...


HOLLAND : Hope our love last and never dies
Siapa yang nggak kenal dengan negara ini. Salah satu negara yang pernah menjajah Indonesia selama berabad-abad. Saya tidak pernah lupa akan hal itu, sama halnya saya tidak pernah melupakan kincir angin yang menjadi ciri khas negara tersebut selain keukenhof (taman bunga tulip) tentunya. 

ITALY : I Trust and love you
Nah, negara satu ini semua orang pastinya tahu ya? Negara yang memiliki banyak tokoh seperti Paus, Sophia Loren, Leonardo da Vinci, Marcopolo, Gucci, dan masih banyak lagi. Memiliki julukan sebagai "negeri Pizza", dan merupakan produsen ratusan jenis keju.
LIBYA : Love is beautiful, you also
Negara ini terletak di Afrika Utara, berbatasan dengan Laut Tengah, Mesir di sebelah timur, Sudan di tenggara, Chad dan Niger di selatan serta Aljazair dan Tunisia di sebelah barat. Ibu kota negaranya adalah Tripoli. Terdapat tiga seksi tradisional, yaitu Tripolitania, Fezzan, dan Cyrenaica.




FRANCE : Friendship remain and never come to end
Kalo dah dengar nama negara ini disebut apa yang pertama kali melintas dipikiranmu? Pastinya Paris dan Menara Eiffel ya? hehe...*udah ketahuan* 


Nah, tanpa berbasa-basi berikut saya kasih view-view yang ada di negara tersebut :



Hayooo...dari kesemua tempat-tempat romantis diatas, tempat mana yang bakal kamu kunjungi buat honeymoon? 

Hehe...Kalo saya mah mau ke Musee Du Louvere, soalnya sudah tertarik sewaktu Dan Brown menulis The Davinci Code dengan berlatar tempat ini. Bagus ya? Selain itu saya juga tertarik pingin ke Venice and  Holland. Soalnya disana bisa main air. Menjelajah bersama Gondola. Hahaha... *dreams*...


Ah....andai ada sebuah kota di Indonesia yang punya semua tempat-tempat asik kayak gini....*LOLz*



Hasil SMS "aneh" dari seorang teman.
Thank you....

Saya akan kembali

Waktu itu dibulan Februari 2008. Saya ingat bulan itu. Saya harus terkurung dirumah bercat putih itu selama sebulan penuh. Harus merelakan waktu bertemu teman-teman bahkan merelakan tawaran-tawaran pekerjaan demi merawat ibu di rumah. Waktu itu beliau baru keluar dari rumah sakit setelah 1 tahun harus dirawat di rumah sakit jiwa. 

Hari itu saya merasa sangat bosan. Jenuh. Ponsel butut 1110 milik saya pun terpaksa disita demi menghindari keinginan ibu untuk pulang ke rumah lebih cepat. Meski sudah keluar dari rumah sakit, dia belum sepenuhnya sembuh. Sebulan itu masih percobaan dan ia harus control berkali-kali ke rumah sakit. Saya benar-benar kehilangan contact dengan dunia luar. Bisa dibayangkan betapa membosankannya hidup saya. 

"Kak, mau baca novel nggak?" tanya sepupu menawarkan sebuah bundelan kertas yang dijilid rapi.

Awalnya saya sedikit ragu. Saya tidak melihat sebuah buku ditangannya. Itu hanya sebuah bundelan kertas, bahkan dari judulnya saya bisa lihat itu hanya  tugas sekolah seorang siswi SMU. Tapi demi mengusir rasa bosan, tidak ada salahnya saya membaca bundelan itu. Siapa tahu itu bukan bundelan kertas biasa.

Dan ternyata benar. Saya salah. Seharusnya saya tidak melirik bundelan itu dengan sinis. Seharusnya saya tidak meremehkan bentuknya. Meskipun itu hanya sebuah tugas Bahasa Indonesia dari seorang siswi SMU, nyatanya bundelan itu lah yang menggugah niat saya untuk menulis.

Bundelan itu adalah sebuah novel yang berjudul "Love and Life is a Sacrifice." Saya masih ingat judulnya tapi lupa nama penulisnya, tetapi yang jelas novel itu dipinjam oleh sepupu saya dari perpustakaan SMU Negeri 1 Padang.

Temanya biasa saja, tentang kisah cinta anak remaja dan pengorbanan yang dilakukannya untuk orang yang dicintainya. Ya, sangat umum and biasa banget kan? Secara jaman sekarang "mudah" banget nulis yang kayak begini.

Tapi nggak tahu kenapa, dengan tema yang biasa itu dia menuliskannya dengan cara yang luar biasa. Dari awal sampai akhir, dia bisa mengobok-obok perasaan saya. Bagaimana rasanya first love, cemburu, gugup dan bagaimana rasanya sedih. Sungguh, saya sangat menyukai cara ia bercerita. Tidak membosankan. Saya bahkan membacanya berulang-ulang saking sukanya dengan cerita itu. 

"Kamu berbakat menulis ternyata"

Guru Bahasa Indonesia saya waktu SMP pernah mengatakan itu kepada saya. Pujian yang membuat saya ingin terus membuktikan bahwa saya benar-benar berbakat. Ya, mungkin beliau yang mendorong saya menulis, tapi jauh sebelum itu saya sudah mulai menulis meski hanya dibuku diary dan meski itu hanya sebuah nama saja.

Tapi hari itu, ketika saya selesai membaca lembaran terakhir dan menyusutkan air mata, saya berharap bisa menuliskan sebuah cerita seperti dia. Dan itu bukan harapan biasa saja, pelan tapi pasti harapan itu menjadi sebuah janji dan pemicu bagi saya untuk terus menulis.

"Ini kak Desfirawita (De Rawit) yang nulis buku Anak Kos Gokil itu bukan?"

Setelah bertahun-tahun saya belajar dan terus belajar menulis, dari yang dulunya biasa saja, sekarang bisa menjadi luar biasa dimata saya. Akhirnya setahun belakang, sejak karya saya masuk dalam kompilasi "Anak Kos Gokil" itu, saya kerap mendapatkan pertanyaan, "Ada cerita apa hari ini? Kapan ngeluarin buku lagi?" Saya sampai menangis saking terharunya mendapatkan pertanyaan seperti itu. 

Mungkin sebagian orang mengatakan saya beruntung karena nama saya yang ditulis di cover booknya, tapi menurutnya itu hanya kebetulan dan saya tidak menyangkal itu. Tapi bukankah kebetulan yang indah? Kita tidak tahu, terkadang hidup juga terdiri dari kebetulan-kebetulan yang indah, meski itu semua sudah direncanakan oleh Sang Pencipta. 

Jadi, meski apapun yang orang katakan tentang saya dan tulisan-tulisan saya, saya tidak akan berhenti menulis. Meski belakangan saya harus berusaha keras merangkai sebuah kata untuk menyapa kalian pada blog ini. 

Ya, saya akan berusaha untuk "kembali". Tunggu saja.... 

Aku tidak tahu caranya

dan bagaimana harus kuceritakan kepadamu, bahwa semua sudah benar-benar berakhir kini.
No back up plan, no second chance.
dan aku harus kembali ke awal, mengeja langkah satu persatu....

sudut kamar,
disuatu malam yang begitu melelahkan


04 Juli 2011

Hari ke 4 di bulan Juli

seperti menengadahkan kepala menatapi langit berbintang dimalam hari, berharap salah satunya akan lebur di depan mata.
seperti berharap pada detik-detik waktu di bulan Juli. Berbisik lirih untuk keajaiban esok hari.
Dear Juli, please be magical...





Saya saat ini sedang berkemas-kemas


Dear temans,
Saya sedang mencari cara untuk betah berlama-lama di rumah kedua ini. Saya sedang mencari cara untuk bisa senyaman mungkin berada disini dan kembali menuliskan cerita-cerita untukmu. Maka dari itu saya minta maaf jika terkadang rumah ini menjadi berantakan. Saya, saat ini sedang berkemas-kemas....


Love,

Past Time


.......5 menit lagi. Begitu mataku mengeja jarum jam yang terpajang diruang tamu. Mendekati angka 12 dadaku semakin sesak. Seperti vonis atas hidupku. Ah, mengapa detik itu terasa lama sekali?

Selamat ulang tahun.

Pesan pendek itu kukirimkan tepat jam 12 malam, 29 April. Hanya itu, setelahnya aku mengunci diri di kamar--mencoba memejamkan mata. 

"Dedek, lo udah tidur? Dek..." Aku mendengar seseorang memanggil. Aku bungkam--bergelung diam-diam.

Aku tahu seharusnya tidak kekanak-kanakan seperti ini. Meski berpura-pura, seharusnya aku bisa bersikap dewasa dan menghadapinya. Sayangnya saat itu tidak tahu bagaimana bersikap. Aku masih belum dewasa. 

*****

Semestinya aku menemuinya pagi itu dan kembali mengucapkan selamat ulang tahun dan berjabat tangan. Namun lagi-lagi keegoisan membuatku ingin cepat melarikan diri dari kos--bergegas menuju kampus sepagi mungkin. 

"Ntar malam nginap dirumah gue yuk? Dah lama kan kita nggak ngerumpi?" ajakan Mona siang itu terasa bagai oase olehku. Tanpa pikir panjang aku mengangguk cepat. Menjauh dari kos-kosan mungkin adalah keputusan yang tepat untuk menenangkan diri. 

Dan malam itupun aku tak pulang--lagi-lagi menghindarinya.

Tapi harus kuakui, saat itu aku memang benar-benar belum dewasa. Rasa cemburu karena terabaikan kembali membuatku sesak. Kesedihan itu malah berubah menjadi kemarahan. Tanpa pikir panjang aku mengirim sebuah pesan ke nomor ponselnya. Kata-kata yang begitu puitis, manis namun mengandung kemarahan dan membuat sedih. 

20 menit kemudian, aku lantas menyesali kebodohan itu. Ungkapanku menyakitinya--membuatnya menangis. Sambungan telponku pun ia putus tanpa kata.

.....sejak saat itu semua berubah.  

03 Juli 2011

Bagaimana Ini?

aku sudah lupa bagaimana caranya menyapa,
aku sudah lupa bagaimana caranya mengawali kata,
bahkan juga lupa bagaimana caranya merangkai kata-kata.
aku....
....mulai gugup bertemu kamu