22 Februari 2012

Apa targetmu tahun ini?

harapan yang berceceran

Semua orang mulai mempertanyakan targetku tahun ini. Ah, mereka nggak tahu ya? Dari dulu aku nggak punya target. Karena bagiku target itu seperti arah bidikan dan harus tepat sasaran. Kalau tidak, itu bukan target. Jelas itu bukan mauku.

Aku tidak punya target apa-apa. Aku hanya punya harapan yang terlampau besar. Menggebu-gebu. Meletup-letup seperti petasan di malam tahun baru.

Jadi ketika mereka menanyakan harapanku tahun ini, aku hanya bilang "Aku ingin ibuku tersenyum melihat matahari yang tidak lagi menembus atap-atap berjendela itu. Aku ingin ibuku bisa menikmati hujan yang tempiasnya tidak lagi memenuhi lantai rumah yang berlumut itu. Aku hanya ingin ibuku bahagia. Itu saja."

....dan sepertinya ini bukan harapan setahun, dua tahun atau bertahun-tahun. Ini harapan selamanya...



Dialogue

"Akankah kau jatuh cinta pada seseorang lagi? Akankah kau terlibat dalam dengan orang itu, agar hubungan itu tidak terjadi seperti ini lagi?"

"Ya, aku akan menghargai waktu yang ku miliki bersamanya. Aku akan mengatakan apa yang ku mau. Melihat hal buruk tentangnya, tetapi selalu bahagia. Itulah caraku jika suatu hari jatuh cinta lagi."

19 Februari 2012

Aku tahu kau tidak ingin pergi


would say


Kau kemana saja, de. Hampir setahun kau tak hadir disini. Tak tahukah kau banyak yang telah berubah? Kau tertinggal terlalu jauh. Entah episode keberapa sekarang, aku lupa. Yang pasti kau akan terkagum-kagum mendengarkan ceritaku nantinya.

"Apa saja yang berubah disini? Kulihat sama saja. Satu persatu mereka pergi--meninggalkanku. Bisakah tidak mempermasalahkan jika akhirnya aku menginginkannya juga?"

Kau ingin pergi? Ugh, aku tak yakin! Aku tahu isi kepalamu. Abjad-abjad itu tak mengosong dari benakmu. Setiap saat kau selalu berusaha merapikannya satu persatu hingga membentuk kata yang pastinya akan kau kirimkan padaku. Jangan bohong! Aku tahu kau tidak ingin pergi.

"Well, kau benar. Aku hanya kesal dengan mereka yang pergi. Tanpa berpamitan. Tanpa memberi kabar. Kau tahu, aku benci ditinggalkan. Aku benci merasa rindu. Tapi sesekali aku merasa lelah menunggu jemariku merangkai abjad-abjad itu menjadi kata. Sesekali aku merasa putus asa karena tak bisa mengirimkan pesan untukmu. Aku paling benci situasi itu! Lalu apa yang harus aku lakukan?"

Untukku, kau tidak perlu memaksakan diri. Ada kalanya kau harus menepiskan aku sejenak dari pikiranmu. Membuat sesuatu yang pernah ada menjadi seolah tidak pernah terjadi. Aku tidak keberatan. Karena aku tahu, suatu saat kau akan merasa kehilangan. Kau kehilangan kenangan tentang aku. Lalu mulai merindukan kehadiranku disana. Percayalah, saat hari itu terjadi, aku akan datang melepas sesakmu. Bersama-sama kita akan menyusun abjad itu menjadi kata, kalimat, lalu sebuah cerita. Tidak perlu saling mengirim--aku akan membacanya sendiri. Tahukah kau? Cinta itu tak selalu harus di tempat. Tapi ia selalu ada tanpa kau kirimkan undangan apapun. Dia akan selalu disini, sama sepertiku...




Carry Me Home

wanna go home


"Aku merindukanmu. Bisakah datang mengunjungiku?" tanyamu waktu itu. 

Aku bilang, "Aku masih sibuk di sini. Mungkin lain kali."

"Kau berubah."

Sejenak aku menghentikan kesibukanku siang itu. Mencerna-cerna kata-kata yang kau ucapkan. Atau sekedar mengingat-ingat, benarkah aku berubah?

Saat itu mungkin. Tapi andai kau tahu, aku selalu mencari cara agar bisa mengunjungi setiap waktu. Aku selalu mencuri-curi waktu sekedar membalas pesan-pesan yang kau kirimkan. Aku tahu kau tidak menyadari kehadiranku. Aku tahu kau bosan dengan kata-kataku yang itu-itu saja. Aku tahu semuanya, namun kupilih diam--saat itu.

Namun hari ini aku memenuhi janjiku. Perjuanganku melebih batas untuk segera menemuimu--andai kau tahu. Hari ini aku berada disini. Melangkah ragu-ragu memasuki duniamu kembali. Bahkan sekedar mengetuk pintu dan mengucapkan salam pun, gerakanku terasa kaku. Tapi aku tahu, di dalam sana kau sedang terpaku di depan jendela, menghitung waktu--mereka-reka kapan aku datang menemuimu.

Ruangan ini sangat berdebu, dear. Semua yang terlihat tampak usang. Aku bisa melihat kalender lama yang masih terpajang di dinding, juga abjad-abjad yang bercecaran tak berwujud kata. Ruangan ini sudah lama tak berbenah ternyata.

Aku masih melihatmu duduk di sana. Di tempat yang sama ketika terakhir kali aku meninggalkanmu. Tempat harapan-harapan bisa segera kau bisikkan, agar angin membawanya kepadaku. Di depan jendela dengan tingkap yang masih terbuka lebar.

"Aku datang, dear. Angin tidak pernah ingkar janji mengirimkan pesan-pesanmu padaku."

Kau menoleh, sedikit terkejut. Kemudian senyum itu kulihat menerbangkan debu-debu usang yang menyelimuti duniamu.

"Welcome back, dear de!"