09 November 2009

Gara-Gara Sebungkus Djarum Black


"Wiiiiit...."
"Apaan sih, pake teriak-teriak? Gue nggak budek tahu!!"
"Hehe...adik ku yang manis, help me dong?"
"Hm...giliran minta tolong aja, loe bilang gue manis. Coba kalo nggak, loe kate gue kelinci. Dasar, kuda nil"
"Jangan gitu dong honey, gue kan cuma minta tolong. Masa' sama abang sendiri pelit"
"Bosan gue sama bujukan loe. Udah, sekarang loe mau apa?"
"Hehehe...tolong beliin rokok dong. Stock rokok gue habis nich!!"
"Ogah. Kenapa nggak suruh Bian aja sih, gue males. Lagian, kalo sehari nggak ngerokok kenapa sih?"
"Wah, nggak bisa dong sayang. Hidup gue pasti bakalan hampa. Kalo si Bian, udah ngorok dari tadi kalee. Loe aja ya yang beliin, ntar kalo gue ke padang, gue beliin Martabak Kubang deh, mau ya..."
"No. Gue anti sogokan, apalagi KKN. Loe beli sendiri deh"
"Oh, kalo nggak mau ya udah, Ipod Nano nya nggak jadi gue kasih. Gimana? Impas kan?"
"Iih...curang loe. Ya udah, mana duitnya!!!"
"Nih, gue kasih Rp 10.000,-. Kalo lebih buat loe aja, kalo kurang itu nggak mungkin. Nama rokoknya Djarum Black. Ingat ya, Djarum Black, warnanya hitam"
"Iya gue tahu, loe kira gue buta warna ya, kalo black ya jelas aja hitam"
"Pinter"
---

"Bang, beli rokok Djarum Blacknya 1 bungkus dong?"
"Yang menthol atau yang biasa?"
Ups...ni cowok cakep banget. Anak siapa ya? Kok baru lihat sekarang.
"......"
"Kok bengong?"
"Habisnya kamu ganteng banget sih...!!!" Ups...keceplosan. Pasti muka ku merah banget ya. Malu-maluin banget, nich mulut kok ya ember banget. Sadar kalo dirinya dikagumi, cowok itu malah semakin pamer, kali ini sebuah lesung pipi mengucap sapa pada diri ku yang terpana. Sial. Tahu diri banget diri banget si abang rokok bikin gue klepek-klepek.
"Halloo..."
"Eh, iya. Kenapa?"
"Haha...kamu mau Djarum Black Menthol atau yang Djarum Black aja?"
"Oh...ada banyak Djarum Black ya? Hm...kalo gitu yang Menthol aja kali ya? Biar si kuda nil adem sekalian"
"Yang kamu maksud kuda nil siapa?"
"Oh...itu abang gue. Dia gede, kayak kuda nil. Hehe.."
"Oo..gitu ya"
"Yupz..ya sudah, nih duitnya. Aku pergi dulu ya"
"Sering-sering mampir ya?"
"Pasti". Ya iyalah abang ganteng, pasti banyak alasan yang akan ku buat biar bisa ketemu sama diri mu. Akhirnya aku pulang dengan senyum-senyum tak menentu. Thanks kuda nil, loe baik banget sih, nyuruh gue beli rokok.
 --

"Loh, kenapa balik lagi?"
"Aku lupa sesuatu"
"Apa?"
"Nanyain nama kamu?"
"Oooh...kirain. Hahaha...lucu deh kamu. Perkenalkan nama ku Ivan. Kamu?"
"Aku wiwit"
"Oh...Hmm...wit, ntar malam aku boleh main ke rumah kamu?"
"Nggg...ngapain?"
"Ya sekedar silaturahmi. Boleh kan?"
"Hahaha...ya boleh lah. Hehehe... ya sudah sampai ntar malam. Bye"
"Bye"
Weleh...weleh...sengsara membawa nikmat ternyata. Gara-gara sebungkus Djarum Black, gue dapat gebetan baru. Kereeen...Ini kah yang namanya love at first sigh?

----



Rumah Senyum



Dulu kami hidup senang. Hidup lebih dari cukup. Tinggal di rumah mewah lengkap dengan peralatan yang serba luxs. Kemana kami pergi, telah ada mobil keren yang siap mengantar kami kemana kami suka. Tak lupa pula di dampingi oleh seorang supir pribadi. Alangkahnya indahnya hidup waktu itu. Kami serasa tinggal di istana, bak dongeng sebelum tidur. Kami diperlakukan seperti putri raja yang berharga, disayangi, dicintai oleh kedua orang tua. Oh iya, papa kami juga seorang yang hebat. Ia pemimpin di sebuah perusahaan, sekaligus pemiliknya. Sedangkan mama kami adalah seorang ibu rumah tangga yang baik, dia menjaga kami dengan telaten, hingga kami mendapatkan kasih sayang yang berlebih.

Itu dulu, sebelum tanggal 30 September 2009. Sebelum gempa 7,9 SR meluluh lantakkan kebahagiaan kami. Semua yang kami punya hancur berkeping-keping, sama halnya dengan harapan kami. Rumah kami hancur, sekaligus isi di dalamnya. Kini kami tak punya apa-apa selain air mata. Jangankan sebuah mobil, papa saja ikut tertimbun bersama kemewahan di dalam sana.

Kini kami tinggal di sebuah rumah kecil berdinding, atap dan beralaskan terpal warna biru. Rumah Senyum namanya. Rumah yang dibuatkan pemerintah untuk kami. Kami tidak terbiasa dengan hal ini. Tinggal di rumah kecil dan sempit. Tidur ditikar dan berdesak-desakan. Kami hidup dengan belas kasihan orang-orang, namun kami sadar kami tidak sendirian. Masih banyak orang yang mengalami nasib seperti kami.

Bencana gempa yang melanda kota kami, khususnya keluarga kami, membuat kami menyadari bahwa harta dan kekayaan bukanlah milik kami seutuhnya. Itu semua hanya titipan Tuhan. Itu semua bukan segala-galanya. Ketika Tuhan memintanya kembali, kami tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencegahnya. Di mata Tuhan kami hanyalah hamba yang lemah dan kerdil.

Setelah semua yang terjadi, kami menyadari semuanya. Kami yakin, belum terlambat untuk memperbaiki hidup yang telah berantakan. Masih ada waktu untuk Taubat. Bukankah Allah itu Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang?

Kini kami tinggal di rumah senyum yang telah kami permak seindah mungkin. Inilah istana kami kini. Tempat kami memulai hidup baru dan memungut kepingan mimpi yang berserakan. Bersama rumah senyum, kami berharap bisa terus tersenyum buat orang-orang yang memberi kekuatan dan semangat kepada kami.

Di rumah senyum kami memulai harapan dan mewujudkannya.

---


Cerita dari Padang-Pariaman

05 November 2009

Itu Aku Dulu


Percaya nggak sih, bahwa perasaan itu bisa merubah apa pun. Aku percaya, karna aku pernah mengalaminya.

Berawal dari kisah 6 tahun lalu, ketika aku menginjakkan kaki dibangku kuliah. Waktu itu aku tiba-tiba saja  menjadi orang yang mungkin jika diingat saat ini, tak akan percaya bahwa itu adalah aku. Aku memasuki kampus dengan gaya dan ciri ku sendiri.

Berambut pendek, nyaris lima senti saja dari kulit kepala. Teman-teman bilang, aku manis dengan rambut pendek itu, sedangkan aku malah menyebutnya keren. Ciri khas ku. Aku tak suka disebut manis, cantik apalagi feminin. Entah kenapa aku demikian, padahal aku ini seorang cewek tulen, bukan bencong, bukan juga lesbian. Aku hanya tak suka, itu saja alasan ku. Belakangan aku baru menyadari bahwa aku tak suka dikatakan feminin, karna cewek yang demikian lebih mengarah ke manja atau lemah. Aku paling benci dikatakan lemah apalagi manja. Meskipun aku ini anak bungsu, tapi kemandirian dan keras kepala lebih melekat pada ku ketimbang si bontot yang cari perhatian. Aku lebih suka mereka menyebut ku tomboi atau cewek energic. Dulu, cewek yang seperti diri ku itu lebih menonjol dari yang lainnya. Apalagi ia merupakan orang yang tak asal bergaya saja. Termasuk aku.

Menjadi anak baru di Universitas tentulah banyak sekali perjuangan untuk meraih ketenaran, dikarenakan banyak sekali komunitas atau orang-orang yang bertujuan sama. Namun tidak begitu dengan ku, dengan satu penampilan yang unik saja aku sudah menjadi pusat perhatian. Bangga juga sih, ketika kamu lewat orang-orang bilang "wow" atau "keren".

Berambut pendek dengan poni yang selalu dibikin ke depan, seperti halnya Vic Zhou atau Aaron carter, Celana jeans gombrong yang sobek dilutut, kaos dan kemeja kotak-kotak, sepatu bermerek All Star atau sepatu Nike kesukaan ku. Plus ransel hitam yang selalu nangkring di punggung ku saban Senin sampai Sabtu. Aku heran, apa yang menarik. Penampilan ku malah nyaris seperti pemain basket profesional atau pendaki ulung yang nyasar ke kampus. Ironisnya lagi, dengan penampilan seperti itu aku malah memasuki Jurusan yang komunitasnya kebanyakan kaun Feminis. Administrasi Niaga. Lucu banget ya, padahal orang-orang sering mengira ku mengambil Jurusan Teknik atau sastra.

Namun inilah aku. Aku tak peduli apa kata mereka tentang ku. Menjadi diri sendiri, itu adalah prinsip ku. Tapi anehnya dengan penampilan ku yang cuek dan apa adanya ini, orang-orang jadi lebih cepat mengenal ku, ditambah lagi aku bukanlah orang yang suka berdiam diri dengan hanya menerima kuliah dan pulang. Aku termasuk aktivis di kampus. Tapi bukan untuk demonstrasi-demonstrasi, seperti pandangan orang-orang pada mahasiswa. Aku lebih memilih seni ketimbang yang lainnya. Pengennya sih mau ngambil UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) Pramuka, seperti jaman SMA dulu atau Kelompok Pecinta Alam (KPA), kabarnya KPA di kampus ku adalah yang No 1 di Sumbar. Tapi rasanya aku sudah bosan keluar masuk hutan. Kondisi kesehatan ku tak sebaik dulu. Tulang-tulang ku sudah keropos, itu alasan terbaik ku. Akhirnya aku mengambil UKM Seni. Maksud hati pengen jadi pemain band. Pernah juga bermimpi bikin sebuah band, tapi sayang aku nggak bisa pegang salah satu alat musik pun, kecuali gitar. Itupun cuma 1 atau 2 lagu yang dapat betul, lebihnya cuma main asal coz aku juga nggak hafal dengan kunci-kunci gitar. Aku cuma bisa nyanyi dan kata orang suara ku cukup bagus, hanya saja aku jarang unjuk gigi, kecuali kalau ada yang minta.

Di UKM-Seni aku juga termasuk idola, sebab aku adalah anggota yang loyal dan sangat berdedikasi, makanya mereka selalu mengandalkan ku dalam hal apa pun. Kepengurusan, kepanitiaan atau dalam kegiatan apa pun.

Mereka menyukai ku, karna aku simple, cuek dan apa adanya. Aku tak terlalu peduli pada hal-hal yang remeh temeh. Yach...semacam genk-genkan gitulah. Aku hanya punya teman dekat namun anti Genk. Kalo aku suka jalan dengan mereka, ya sudah let's go. Tak perlu ada kesepakatan dulu gimana-gimananya. Bagiku hidup itu tak cukup untuk dinikmati hanya dengan satu orang. Lebih rame lebih seru.

Aku suka keramaian, karna dengan begitu aku bisa melupakan semua masalah yang terus menjerat. Seperti lingkaran setan yang tak berkesudahan. Namun kadang kala aku juga butuh privacy. Menyendiri dan merenungkan semua hal yang terjadi. Ketika hujan turun, setelah hujan reda, saat malam atau waktu dimana semua mata masih terpejam. Hanya aku yang terjaga. Saat itulah aku membutuhkan kesendirian. Kadang tidak juga, seringkali keadaan mengubahnya. Karna hidup hari ini dan esok tak selalu sama dengan yang kemarin.

Dulu aku populer, menarik dan disenangi. Itu dulu, ketika aku menginjakkan kaki di kampus Universitas Andalas Padang. Kepopuleran itu cukup lama juga ku nikmati. Sampai akhirnya sisi feminin ku terlihat. Aku mulai mempunyai perasaan yang asing terhadap sesuatu.

Aku menyukai seorang cowok yang bagi ku sangat perfect. Dari situ aku mulai merasa tak nyaman dengan diri ku sendiri. Menjadi asing dengan semua ciri khas yang ku miliki. Dimatanya aku merasa kerdil dan tak berarti apa-apa.

Dia junior ku. Namun belakangan ku tahu ia satu angkatan di atas ku hanya saja ia tak langsung melanjutkan kuliah setelah tamat SMA. Aku menemukannya ketika acara Kemah Bhakti Mahasiswa (KBM) Jurusan. Aku melihat diantara teman-teman seangkatannya, senior-seniornya, atau juga alumni, ia satu-satunya orang yang tak cocok berada di jurusan ini. Ia lebih cocok di Teknik, Hukum, Sastra atau lebih mending Ekonomi ketimbang Administrasi Niaga. Wajahnya memperlihatkan itu, tapi entahlah hati dan keinginannya. Who know's. Tapi ini mungkin inilah yang dinamakan takdir yang kebetulan berpihak pada ku. Dari situ aku mulai memperhatikannya, gerak-geriknya, kebiasaannya sampai dengan cara ia mengisap rokok. Wow, It's so cool. Sampai suatu hari aku mendapati biodatanya di tumpukan peminat UKM-Seni yang baru. Tomi N, itulah namanya. Lahir tanggal 14 Januari 1984, asal sekolah, alamat rumah lengkap dengan nomor telephon dan fotonya (ssttt...diam-diam aku menyimpan foto itu didalam dompet ku, sampai sekarang), tertarik seni bidang musik khususnya gitar. Itu yang tertulis di biodatanya.  Saat itu aku merasa pucuk dicinita ulam pun tiba. Itu lebih dari cukup ketimbang nggak tahu sama sekali.

"Hey..itu tomi yang hip hop itu bukan?"
"Maksud loe?"
"Iya. Loe nggak tahu ya. Dia kan ketua Hip Hop Kota Padang"
Aku terdiam mendengar penjelasannya. Ternyata Tomi bukan cuma menarik, tapi juga sangat populer. Akhirnya aku tahu yang dimaksud hip hop teman ku itu adalah Breakdance. Dia seorang breakers. Aku senang, ternyata aku tidak menyukai cowok yang salah. Ia orang yang penuh inspirasi bagi ku. Sejak Menyukainya, aku menjadi tambah bersemangat kuliah dan juga di seni. Apa pun akan ku lakukan, agar tidak tampak bodoh di depannya. Gila memang ya.

Namun suatu hari aku disadarkan akan satu hal. Tomi menyukai cewek yang feminin, manis, cantik dan seksi. Bukan cewek seperti ku yang tampak kumal dan selengekan. Di depan mata ku, ia menggandeng pacarnya yang semampai dan anggun dengan sangat mesra. Aku merasa seperti di tampar. Tentu saja Tomi menyukai cewek yang seperti itu, ia akan lebih tampak gentleman ketimbang pacaran dengan cewek tomboi.

Down. Itu satu hal yang mustahil bagi ku sebelumnya, tak pernah sekalipun kata itu mampir ke dalam kamus hidup ku. Namun kini kenyataan sebaliknya. Perlahan-lahan aku menjadi orang yang paling calm dan canggung. Aku mulai mengubah penampilan menjadi orang lain. Mencoba berdandan semanis mungkin padahal setiap melihat bayangan ku di kaca perut ku sudah terasa mual. "Aku tampak konyol dan seperti bencong", begitu teriak ku setiap kali teman-teman mendandani ku.

Lama-lama aku menjadi cewek yang terbawa-bawa arus. Suka ngerumpi-ngerumpi nggak jelas, baca-baca puisi romantis, shopping baju-baju feminin, kosmetik, foto-foto. Argghhh... aku semakin menjadi asing dan akhirnya tenggelam di dalamnya. Tak seorangpun yang menemukan ku lagi. Mereka tak akan mengenali aku yang dulu lagi. Mereka melupakan ku begitu saja. Kini dimata mereka, aku hanyalah seorang cewek yang biasa-biasa saja, tak terlalu istimewa apalagi disebut menarik. Itu semua karna perasaan ku pada seorang cowok.

Ah..Gila. Hanya karna sebuah perasaan, semua berubah.

---


P.S. : Hahaha...pasti bingung bacanya ya? Iya emang. Aku bikinnya juga bingung. Tapi curhatan emang bikin bingung kok :p


03 November 2009

This Moment is Perfect


 
 
Seseorang tiba-tiba menawarkan sejuta mimpi pada ku. Semua yang tak pernah terbayangkan oleh dunia ku yang sempit. Cinta, kesetiaan, kebaikan dan kebahagiaan. Semua  begitu tampak sempurna. Merasa tak percaya. Ini pertama kalinya dalam hidup ku. Aku tak mengerti, sungguh-sunggung tak mengerti. Rasanya aku menjadi orang paling bodoh terlihat saat ini. Mulut ku seakan berucap gagu sekedar untuk mengucapkan terima kasih.
 
"Apa kau serius menawarkan semua ini pada ku? Aku bukanlah seorang yang perfect untuk kau berikan mimpi ini. Bagi ku ini seperti dongeng sebelum tidur. Sudahlah, lupakan ini semua. Aku tak sanggup menerimanya?"
"Aku tak punya kata-kata yang lebih indah lagi untuk meyakinkan mu. Seperti halnya aku menyukai mu, aku tak punya alasan. Cinta itu datang dengan tiba-tiba pada ku dan itu tertuju pada mu. Mengerti dan percayalah!!"
 
Aku begitu tersentuh dengan kata-kata mu waktu itu. Untuk pertama kalinya aku merasakan cinta yang lebih tulus dan aku menitikkan air mata karenanya. Bukan air mata sedih namun kebahagiaan. Will U Marry Me?? Itu kata  yang terlontar dari mulut mu akhirnya sambil membawa sebucket mawar merah dan sebuah cincin yang berukir nama kita. Lagi-lagi aku merasa ini seperti mimpi, namun aku bisa merasakan hangat butiran yang mengalir di pipi ku atau lembutnya kecupan mu di kening ku. Aku mengganguk malu-malu dan perlahan sebuah senyuman mengembang di bibir mu.
 
I found a place so safe, not a single tear
The first time in my life and now it’s so clear
Feel calm, I belong, I’m so happy here
It’s so strong and now I let myself be sincere

I wouldn’t change a thing about it
This is the best feeling


This innocence is brilliant
I hope that it will stay
This moment is perfect
Please don’t go away
I need you now
And I’ll hold on to it
Don’t you let it pass you by



Ah...semoga saja ini bukan hanya mimpi. It's so cool.


--Dream's--

02 November 2009

Good Bye !!




Lihat langkahku
Tak lagi ku
Mengingat tentangmu
Tiada beban tersisa
Yang tertanam di jiwa
Rapuhkan cinta
Yang t'lah membeku
Terang t'lah membawaku
Menjauh dan hilang


(Lihat Langkah ku-Peterpan)

---

Tiba-tiba saja aku ingin menuliskan lirik itu di blog. Yach sekedar kau tahu bahwa itu adalah ungkapan perasaan ku kini, pada mu. Kau mengerti maksudnya? Jangan lagi bertindak konyol dan pura-pura tak tahu. Aku sudah lelah. Hanya itu sebagai salam penutup dari ku. Bye!!

---