Satu hari 5 tahun lalu, 28 April.
Deg.
Jantungku tiba-tiba berhenti ketika melihat dua sosok itu dikejauhan. Bertemu dengan mereka adalah hal yang paling tak ingin kutemui hari itu. Aku lelah sehabis praktek seharian plus capek dengan kegaguan yang membeku diantara kami.
Andai aku bisa memundurkan waktu selangkah saja, aku tidak akan memilih berjalan kaki dijalan itu, naik angkot hijau jurusan bertuliskan Lurus (Ps.Raya - Ps. Baru Kampus UNAND) itu mungkin dengan senang hati akan kunaiki. Sayangnya hari itu aku sedang ingin berlama-lama diluar dan hanya ingin pulang dengan Bus yang full music. Tapi sepertinya waktu menginginkan aku bertemu mereka disini--di jalan Permindo, Padang.
Aku berusaha malangkah sewajar mungkin, berharap bisa berpura-pura tidak melihatnya. Namun....
"Dedek? Lo baru pulang?" sapaan itu akhirnya mengentikan kepura-puraanku. Aku tersenyum.
"Iya nih, tadi banyak kerjaan." jawabku seadanya. Mereka balas tersenyum.
"Kalian dari mana?" tanyaku mencoba basa-basi.
"Nggak ada. Cuma jalan-jalan."
"Oh.."
Lalu jeda. Kegaguan itu merabat lagi. Ah, aku benci situasi ini.
Pandanganku menangkap sebuah kotak dalam pelukannya. Aku tahu persis isi kotak itu apa, dan perlahan mulai mengerti kegugupan itu.
"Ya udah, gue duluan ya" kataku sambil menarik lengan teman disebelahku. Keduanya mengangguk cepat. "OK!" jawabnya tanpa beban.
Setelahnya kami berjalan menuju arah berlawanan. Sejenak aku sempat menoleh ke belakang, mereka berlalu--memunggungiku.
Ada sesak terasa ketika itu, sebisa mungkin aku menahan air mata biar tak tumpah begitu saja. Sayangnya ketika tubuhku mulai nyaman dengan salah satu bangku bus di dekat jendela, aku tidak bisa lagi membendung tangis itu. Jadi beginilah akhirnya? Terabaikan.
Sejenak kubiarkan ia meleleh begitu saja. Melepas semua sesak yang menyekap. Namun kemudian aku sempat menangkap lirikan sang supir dari kaca spion. Malu-malu aku menyusut air mata dengan ujung lengan bajuku. Seharusnya tidak disini.
Bus melaju dengan cepat meninggalkan jalan itu. Aku melogokkan muka ke jendela, membiarkan angin menerbangkan kesedihan yang terasa. Sayup-sayup aku bisa mendengar music up beat dari speaker bus, begitu bersemangat dan menghentak. Aku mengulum senyum, seolah berterima kasih kepada sang supir yang sudah menghiburku.
....sesaat kesedihan itu terlupakan.