25 Juni 2014

SOAL TOLONG MENOLONG, BIARKAN NURANI YANG BICARA

Ini hanya segelintir kisah yang terjadi dijalanan—ketika kita mau melihat sekitar dan berkenalan dengan orang asing. Bisa jadi ia akan berlalu dengan cepat tanpa meninggalkan apa-apa, atau malah ia akan mewariskan pelajaran berharga bagi hidup kita.

Semoga bisa mengambil hikmahnya.

*****

Cuaca di luar masih menyengat meski waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Geliat pedagang kaki lima kembali memenuhi jalan sekitar Permindo sampai Pasar Raya. Tenda-tenda terpasang berjejer bahkan sampai memenuhi badan jalan hingga merampas hak pejalan kaki. Sorak-sorei pedagang kaki lima sahut bersahutan, menambah ramainya suasana. Para pembeli berebutan memilih baju-baju murah yang ditawarkan. Banyak yang mengeluh, banyak juga yang menikmati pemandangan tersebut. Yang pasti, beginilah kehidupan rakyat yang sering disebut “jelata”.

Sejenak saya ikut larut dalam suasana itu sebelum akhirnya berlalu. Rocky Plaza adalah tujuan utama saya, namun tidak untuk berbelanja atau cuci mata. Hanya numpang singgah di bilik ATM. Beberapa detik saya di sana untuk menguras tabungan sebelum akhirnya keluar dengan kening mengkerut (cukup tahu aja lah tandanya apa).

Dari sana saya mampir ke beberapa tempat untuk membeli jus wortel dan beberapa potong black forest. Kemudian saya memutuskan untuk pulang, karena lama-lama main di pasar bisa menyebabkan gangguan jiwa karena ngebet pengen beli apa aja sementara duit cekak banget. Hahaha…

Sebelum naik angkot saya menyempatkan diri lagi mampir ke penjual pisang panggang dan lompong sagu, sambil menunggu pesanan melirik lagi ke penjual tahu isi. Karena lapar plus ngiler serta napsu akhirnya saya beli semuanya. Lalu dengan senyum puas saya akhirnya pulang naik angkot.

Saat baru saja mendudukkan diri di dalam angkot, ketika seorang nenek di depan saya lantas berkata.

“…paruik amak sakik. Alun makan dari pagi lai.” (perut nenek sakit, belum makan dari pagi).

Saya menatap nenek itu sejenak, lantas tanpa banyak kata memberikan sebungkus pisang panggang yang saya idam-idamkan tadi. Nenek itu menerima dengan senyum dan mengucapkan banyak terima kasih. Lantas ia memakannya dengan cepat.

Saya terenyuh melihatnya. Beberapa penumpang memperhatikan kami dan memandangi nenek dengan curiga.

Saya maklum. Bahkan saya pun mengakui sedikit merasa curiga dengan si nenek. Jaman sekarang banyak sekali modus seseorang untuk mendapatkan belas kasihan. Tidak cukup dengan menipu, bahkan rela menjual kekurangan dirinya untuk mendapatkan uang.

Saya maklum. Saya pun juga ingat pernah ditegur seorang teman.

“…lo baik banget sih. Orang kayak gitu lo kasihani. Mengiba-iba biar dikasih duit. Mana ada orang yang tahan nggak makan. Mana ada orang yang nggak punya duit hari gini…”

Kadang, saya ikut terpengaruh dengan perkataan yang seperti itu. Namun saya tidak dapat menghindarkan diri bahwa rasa iba lebih besar dari kecurigaan saya. Ini soal nurani. Perihal tolong menolong, biarkan nurani yang bicara.

Hal itu yang saya rasakan kepada si nenek.

“…amak tadi pai ka rumah kawan mamintak hutang. Kironyo inyo ndak ado. Amak pai dari pagi lai. Alun makan setek alah e lai. Tadi tajatuah di tolong dek anak sikola. Pitih duo ribu nyo untuak ongkos oto.” (nenek tadi ke rumah teman untuk meminta hutang. Ternyata dia tidak ada. Nenek pergi dari pagi. Belum makan sama sekali. Tadi sempat terjatuh lalu ditolong sama anak sekolahan. Duit cuma punya dua ribu untuk bayar angkot), ujar si nenek terbata-bata.

Saya mendengar ceritanya dengan prihatin.

“Baa kok amak pai sorang se? Anak amak ndak ado?” (kenapa nenek pergi sendiri? Anak nenek nggak ada?) tanya saya penasaran.

“Lai ado anak amak. Tapi jauah di Pakanbaru. Amak tingga sorang. (anak nenek ada. Tapi jauh di Pekanbaru. Nenek tinggal sendiri.)

“Kok amak ndak dibawok dek anak amak? Tu makan amak baa? Sia yang masak? (kok nenek nggak dibawa sama anak nenek? Trus makan gimana? Siapa yang masak?).

“Lai amak di bawoknyo tapi amak ndak dicauahannyo, jadi amak pulang se lai. Makan lai. Karano amak tingga sorang. Ado urang dakek rumah yang maagiah makan taruih. Tadi lai disuruah nyo amak makan mah, tapi amak nio pai lakeh mintak hutang. (nenek pernah diajak sama anak nenek untuk tinggal bersama tapi nenek nggak diurusin, jadi nenek pulang saja. Karena nenek tinggal sendiri, ada orang dekat rumah yang sering memberi makan. Tadi nenek ditawari dulu makan sebelum berangkat, tapi nenek pengen cepat pergi minta hutang.)”

Si nenek bercerita dengan mata berkaca-kaca. Berkali-kali saya melihatnya menggeleng-geleng lalu menarik napas seperti berusaha menabahkan hatinya.

Batin saya tersentuh mendengar ceritanya. Tenggorokan saya tercekat.

Melihat sosok nenek itu, saya lantas teringat dengan nenek saya yang sudah meninggal. Saya ingat ketika nenek saya ditabrak motor dan terjatuh lalu ditinggal begitu saja. Untung ada seorang tukang ojek yang mengenali dan membawanya pulang. Saya teringat juga dengan nenek saya yang sering pergi sendiri untuk menemui anaknya tanpa sepengetahuan kami. Melihat semrautnya Kota Padang saat ini, saya yakin waktu itu nenek saya pernah tersasar, hanya saja ia mungkin bertemu orang baik yang mau menunjukinya jalan pulang atau tujuan.

Saya seperti disadarkan. Mungkin disituasi yang sama, nenek saya juga akan berkicau seperti orang sakit jiwa atau sama mencurigakannya seperti nenek di depan saya. Kalau tidak ada orang baik yang mau membiarkan nuraninya bicara, apalah nasib nenek saya waktu itu.

Terlepas dari jujur atau tidak jujurnya seseorang, pada saat ia meminta, saat itu jugalah pertolongan terjadi dan soal tolong menolong, biarkan saja nurani yang bicara. karena kalau sedikit saja pikiran ikut bicara, keraguan akan memudarkan niat.

Nenek yang duduk di depan saya itu kira-kira berumur 70an. Tubuhnya sedikit bungkuk dan tertatih. Memakai sandal karet berwarna biru dan tas kain berwarna pink.

“…ko amak bawok kain sumbayang mah. Matahuan baa baa dijalan, lai kain untuk disalimuikan (ini nenek bawa kain sholat. Siapa tahu terjadi apa-apa di jalan, ada kain yang bisa menyelimuti).”

Saya tersenyum mendengarnya. Kecurigaan saya hilang seketika.

Seorang cewek di samping si nenek menyelipkan uang lima ribuan ke tangan si nenek dan disambut dengan berkali-kali ucapan terima kasih.

“amak kini ka pulang kama mak? (nenek sekarang mau pulang kemana?)” tanyaku akhirnya.

“amak pulang ka taluak. Naiak oto di pasa tu ndak? Untuang ado pitih untuk ongkos diagian anak tadi tu. (nenek mau pulang ke Teluk Bayur. Naik angkotnya di dekat pasar itu kan? untung ada ongkos dikasih anak tadi).”

Saya kembali tersenyum. Wajah si nenek kali ini tidak selesu tadi. Tapi saya sempat mendengar sendawa si nenek berkali-kali dan saya tahu itu bukan sendawa kekenyangan tapi karena masuk angin belum makan.

Saya lantas mengangsurkan jus yang sedari tadi ragu-ragu ingin saya berikan. Nenek itu menolak, karena ia tidak kuat meminum es. Saya maklum. Lalu saya menggantinya dengan menyelipkan sedikit uang dan sekantong tahu isi yang saya beli tadi. Nenek itu lebih membutuhkan daripada saya.

Dengan mata berkaca-kaca ia mengucapkan terima kasih dan bersyukur.

Tidak lama, ia turun dan berjalan menuju angkot tujuan Teluk Bayur. Kakinya diseret penuh perjuangan. Saya yakin, itu efek dari terjatuhnya tadi.

Dari balik kaca saya memandanginya dengan perasaan sedih. Bagaimana jika yang dijalan itu nenek saya. Atau Ibu saya. Atau Kakak saya. Atau mungkin saya nanti kalau sudah tua. Entahlah apa yang terjadi. Meski saya yakin masih banyak orang baik di dunia ini yang mau menolong, tapi tetap saja perempuan setua itu tidak pantas lagi berada di jalanan. Berjuang untuk mencari sesuap nasi. Berjuang untuk bertahan hidup.

Dalam hati saya hanya berdoa. Doa yang setiap hari saya mohonkan kepada Tuhan untuk nenek saya.

“Ya, Allah. Jika saya tidak bisa membahagiakan nenek di dunia, bahagiakan ia disisi-Mu Ya Allah. Bahagiakan ia dengan cara-Mu. Aamiin…”

Untuk nenek itu, semoga ia selalu bertemu dengan orang baik.
                                                
Padang, 21 Juni 2014

                                                  

1 komentar:

Defa Ramadhani mengatakan...

setuju,kalau dalam tolong menolong itu biarkan hati yang bicara,, :D