Seorang bocah duduk di tangga rumahnya yang senyap. Ia menatap senja yang memudar jingga menjadi gelap. Burung-burung bersiliweran terbang di atas sana, beranjak pulang ke sarang. Angannya terbang melayang seiring kepakan sayap sang burung. Ia terperanjat ketika tiba-tiba seorang perempuan tua memegang pundaknya halus.
"Sudah senja, kenapa kau tak masuk dan tutup pintu ini. Tak baik Magrib begini melamun di depan pintu" ujar perempuan tua itu. Alif menatapnya sebentar, kemudian beralih pada jalan yang mulai senyap. Pandangannya berhenti disana untuk beberapa saat. Sebelum akhirnya ia menarik nafas pelan dan menghempaskannya kuat-kuat.
"Kenapa ibu belum juga pulang?" tanyanya lirih, seolah bertanya pada diri sendiri. Sang perempuan hanya menatapnya sayu, tidak hendak menjawab pertanyaan itu. Alif menoleh pada perempuan itu, lalu seolah mengerti ia pun kembali menunduk diam.
Perlahan ia pun beranjak dari tangga rumah itu, masuk ke dalam diikuti sang perempuan tua. Ia menutup pintu itu rapat-rapat, seolah tak ada seorang pun yang ditunggunya lagi untuk pulang. Begitu juga dengan hatinya. Mungkin sudah saatnya ia harus belajar, bahwa mungkin ibu tak akan kembali pulang.
Harapannya pun memburan, seiring beranjaknya senja menjadi malam...
*****
--Tercipta tiba-tiba--