Tampilkan postingan dengan label Short Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Short Story. Tampilkan semua postingan

19 Juni 2012

Lelaki Berkaos Putih


Taken by
I think that possibly
Maybe I'm falling for you
Yes There's a chance that I've fallen quite hard over you
--Landon Pigg


....lelaki berkaos putih dengan topi bisbol di kepalanya itu sudah mencuri perhatianku sejak 5 menit yang lalu. Sedari tadi ia duduk di kursi itu dengan sebuah laptop di atas meja. Tidak beranjak. Tidak menoleh. Asik memijit-mijit tombol lappynya.

Apa yang dikerjakannya? Aku penasaran. 

Matanya tampak serius menatap layar monitor di depannya. Cool! Begitu para Abegeh bilang kalo melihat wajah kaku bak Rio Dewanto itu. Cool maksudnya dingin apa keren? Mungkin perpaduan keduanya. Seperti halnya dengan perpaduan kaos putih bergambar starbuck dan topi bisbol merah hitam yang dikenakannya. Dia tampak sederhana namun tetap memancarkan daya tarik bak seorang princes charming ala buku-buku dongeng. Well, mungkin dia bukan pangeran tampan dengan kuda putih dan sederet pengawal pribadi dibelakang,  juga bukan aktor hollywood yang diincar paparazi kemanapun pergi. Dia adalah dia. Lelaki berkaos putih yang kulihat sangat menarik dengan kecuekan khas seorang pria.

Anganku terdorong untuk mengamatinya lebih seksama lagi. Mulai dari warna kulitnya yang tidak telalu terang, tidak pula gelap—sampai perkiraan tinggi badannya ketika berdiri. 170 cm mungkin. Ukuran standar untuk seorang cowok asli Indonesia. Cukuplah untuk membuat seorang wanita merasa kagum dan melirik penuh minat.

Apa yang kau kerjakan, hei pangeran berkaos putih?

Aku sungguh penasaran dan ingin melirik isi kepalanya lewat layar monitor itu. Dari penampakan, dia bukan seseorang yang kecanduan jejaring sosial, bukan pula eksekutif muda yang gila kerja bahkan di sebuah kafe beratapkan langit biru seperti ini. Tapi sedari tadi ia asik dengan komputer jinjingnya itu. Aku jadi iri pada tuts-tutsnya, atau pada layar monitornya. Sesekali aku berharap dia menoleh dan mendapatiku sedang menatapnya dan tersenyum. Sayangnya dia masih dengan posisi yang sama ketika pertama kali aku melihatnya—menatap lurus kedepan.

Biasanya aku selalu kesal dengan angkot yang tiap sebentar menepi meski yang berdiri di pinggir jalan itu tidak hendak menyetop, tapi hari ini pengecualian. Harusnya aku berterima kasih kepada sang supir yang agak lama berhenti di depan kafe itu. Di tengah rasa jengkel dan gerutuan kesal, tak sengaja mataku menangkap sosok charmingnya. Satu-satunya pengunjung kafe sehabis magrib berkumandang. Luar biasa indahnya dibawah kerlap-kerlip lampu yang berwarna-warni itu.

Tahukah kau apa yang kupikirkan lelaki berkaos putih? Will i see you again?

Angkutan yang kutumpangi berlahan beranjak dari depan kafe di jalan proklamasi itu. Dan untuk yang terakhir kalinya aku mengagumi lelaki berkaos putih dengan topi bisbol dikepala—mereka-reka, cerita apa yang bisa kutulis untuk mengenang beberapa menit yang menggelikan ini?

Berharap suatu saat dia nyasar ke blogku dan membacanya mesti tak tahu bahwa cerita itu kutulis untuknya....


Padang, 11 Juni 2012
 Pondok bakso di jalan proklamasi  




01 Juni 2012

Kembali (Lagi)


Kembali ke kota ini dengan mengharapkan kamu ada, mungkin hanya sekedar khayalan belaka. Jelas itu bukan sesuatu yang mudah untuk diwujudkan.

6 tahun bukan waktu yang sebentar untuk memberi sebuah jarak. Jeda dengan spasi berkali-kali pun sepertinya sudah terasa melelahkan untuk dibackspace. Mungkin sudah dienter beberapa kali dan lihat! Ada beberapa ruang yang bisa diisi dengan sekian lembar cerita. Kita sudah terlalu lama terpisah dan diantara jeda sudah tersisip ruang. Kita sudah menutup baris masing-masing.

Kembali ke kota ini sesering mungkin adalah hal yang sangat mudah bagiku. Setiap saat aku cukup naik kereta express bertarif 2.500 rupiah yang melintasi perkebunan kelapa, ladang-ladang jagung dan berpetak-petak sawah, membelah sungai-sungai dangkal dengan batu-batu besar didalamnya, aku bisa sampai ditempat ini dengan begitu cepat. Satu setengah jam cukup. Tidak begitu lama memang, tapi cukup membuatku kelelahan karena memikirkan kamu sepanjang jalan. Samar-samar aku seperti melihat kita dimasa lalu, berlari menjauh berlawanan arah laju kereta.

Ya, kembali ke kota ini memang hal yang mudah sekali. Tapi tidak cukup mudah karena kali ini tidak ada kata sehari, dua hari, bahkan sejenak. Aku akan selamanya disini.

Mungkin.

Padang, 25 Oktober 2011





31 Mei 2012

Bukan Sekedar Makan Gratis


Source
I still remember all the memories betwen You and me
I do every crazy thing it just to make me, You happy
#Last Child—Memories of you


…di hari berhujan itu, ada tawa-tawa menggelembung di udara.

Aku, kau, dia, mereka—kita. Sengaja memilih duduk di pojokan dengan meja panjang dan 8 kursi saling berhadapan.  Kita ber -7. Satu bangku kosong di depanku—tanpa penghuni.

Horeee…Ada syukuran lagi hari ini. Traktiran—entah dalam rangka apa. Habis gajian, dapat arisan, atau udah jadian? Ups, ada yang mengenang 4th anniversary dengan sang mantan. Hahaha…sayang sekali harus berakhir. But, what ever dalam rangka apa, yang penting makan gratis.  J

Ini bukan yang pertama. Hari-hari sebelumnya kita juga punya moment yang sama di tempat  berbeda. Seperti travelling dan wisata kuliner setelah bubaran kantor. Atau tradisi syukuran tanpa pernyataan tertulis.

Namun ini bukan tentang makan gratis dan ngumpul-ngumpul praktis. Ini tentang memories. Hal terpenting yang akan kita kenang nanti. Setelah tidak di sini atau ketika tua memaksa pergi.

Ada tawa-tawa menggelembung di udara. Ada bahagia di mana-mana. Suatu kebiasaan yang selalu dirindukan ketika tagihan kesehatan menumpuk, payroll gaji yang menunggu diinput, atau dari rasa kesal dengan Miss BB yang tak pernah peka sindiran.

Hahaha…meski berharap untuk bisa melarikan diri dari rutinitas kantor yang menyesakkan, nyatanya tiap pagi kita akan melangkah ke sana—berputar dengan pro kontra yang memusingkan. Dan moment inilah obat kepenatan itu. Kebersamaan dan canda tawa.

Yaaaach, meski terkadang ada yang sedikit galau dan kacau. Berantem dengan pacar karena dikomporin seharian. Biasa, LDR. Cemburu menguras hari. Curiga menjadi-jadi. Haha…atau dengan si dia yang nggak kunjung nembak. Bimbang, mereka-reka hati. Ada juga yang pusing mikirin kredit yang nggak kunjung diverifikasi. But, ajakan makan gratis selalu mendapat sambutan hangat dan cengiran lebar. Siapa sih yang nggak mau diiming-imingi kata GRATIS yang dibold besar-besar? Nobody wants, of course. Jiwa-jiwa galau menepi sejenak. 

Ada perbincangan hangat di sana dengan tema yang tidak terbatas pada satu cerita saja. Gossip harian, tidak pernah tentang selebriti—hanya berkisar dengan orang-orang unik di kantor, bisnis baju, kosmetik dan sepatu cross, politik (yang ringan-ringan saja—seputar pejabat di kantor), cowok-cowok keren (always), cinta dan terutama tak jauh-jauh dari pinjaman dan hutang. Hihihi…Perbincangan kita selalu mengalir kemana-mana. Tidak stuck di satu tempat—tidak membosankan. Kita selalu punya objek untuk ditertawakan atau menjadi objek tertawaan. Selalu dan seperti itu.

Mungkin kita bukan sosialita yang selalu nongkrong di tempat nge-hit tapi bikin dompet terjepit. J-Co, Starbuck, Hardrock, apapun tempat ngopi-ngopi yang biasa dikunjungi sosialita. Paling kaya kita cuma mampir ke Pizza Hut, KFC atau Solaria. Selebihnya warung lesehan dengan atap bambu, tanpa jendela berkelambu.  Ya, kita bukan sosialita dengan semua kemewahannya, wanita karir serba sibuk pun nggak juga.  Kita hanya karyawan biasa dengan keluhan yang itu-itu saja.

Mungkin kita nggak akan selamanya seperti ini. Tapi hari ini, akan selalu menjadi selamanya untuk kita.

Jadi, terima kasih hari ini. Untuk makan gratisnya. Ngumpul praktisnya. Dan hujan yang mengukir memories. I get the happiness with you. Hope this moment will be forever.

By the way, bubaran kantor besok planning kita kemana?


Padang, 30 Mei 2012
Pondok Bakso Mas Pepeng



09 Mei 2012

Reds War

Aku melihat buku itu pertama kali. Tergeletak di atas rak paling pojok yang, well sedikit berdebu kalo boleh jujur. Mungkin jarang tersentuh. Dia terhimpit beberapa buku undang-undang yang sepertinya tidak banyak peminat. Heran. Bagaimana bisa buku itu terselip diantara puluhan buku perundang-undangan dan mengenai hukum lainnya. 


Kasihan. Mungkin salah seorang calon pembeli meninggalkannya begitu saja ketika melihat bacaan yang lebih menarik lainnya. Ya, kemungkinannya seperti itu. 

Memang tidak ada yang menarik dari buku itu sebenarnya. Aku bahkan hampir melewatkannya, jika saja seorang pemuda tidak mengangkat dua buah buku di atasnya.

Langkahku yang hendak beranjak ketika itu, tiba-tiba dipaksa berhenti demi melihat sampul berwarna merah terang yang ada di depannya. Dan tulisan serta logo berwarna merah kuning itu perlahan membuat tanganku terulur. Sekali lagi kukatakan, tidak ada yang menarik dari buku yang sudah sedikit lusuh itu. Namun entah kenapa, pesona merahnya seolah menarikku untuk mendekat. Mengejutkan, aku pun tersenyum demi melihat judul yang dibold tebal itu. 

Tahukah, aku ingat kamu seketika. 

Kamu yang kerap kali ku kirim pesan singkat ketika melihat jadwal pertandingan televisi.

Haha...kamu yang selalu ngotot bahwa klub kesayanganmu itu adalah yang terbaik. Namun nyatanya kau selalu dibuat panas dingin ketika jagoanmu itu kerap kali berhadapan dengan juaraku. Akhirnya pun kau selalu bilang, “Mereka memang rival, tapi dalam hal warna mereka tetaplah sama. Red.” 

Dan aku tertawa mendengar pengakuanmu. 

Aku ingat, kau selalu bilang sangat mengagumi pak tua itu. Sir Alex Ferguson. 

Aku bilang, “Aku menyukai Steven Gerrard! Bagiku dia pemain yang hebat dan juga kapten terbaik.” 

Dan kau tertawa. “StevieG terlalu tinggi untukmu!” 

Kau mengejekku seperti itu. Aku tak marah, malah menjawab “Dari pada Wayne Rooney. Aku nggak suka pria berkepala bulat dan bermuka merah seperti dia!” 

Lagi-lagi kau tertawa—tidak habis-habisnya. 

Mengingat percakapan konyol itu, membuatku merasakan bahwa kau tidak lebih jauh dari sesenti garis yang kubuat di peta yang tergantung di dinding kamarku. Kau terasa begitu dekat. Kenyataan itu membuatku sedikit punya harapan untuk bahagia. Seperti hari ini. Dan buku bersampul merah itulah yang menjadi sumbernya. 

Kau tahu, aku menemukannya di sebuah toko buku loak di pinggir jalan Samudera. Tanpa pikir panjang, aku membelinya tanpa melihat beberapa bagiannya sudah sedikit lusuh dan berkerut. Itu tidak penting. Sebab ku tahu pasti kau juga tidak akan keberatan. 

Aku membungkusnya rapi-rapi dengan sampul bening, kemudian menyimpannya hati-hati diantara ratusan koleksi buku-buku di mini library milikku. Berharap suatu saat bisa menghadiahkannya untukmu. Mungkin sebagai kado ulang tahun. Atau kado pernikahan. Kau pasti suka. Aku yakin itu. 

Karena buku itu berjudul MANCHESTER UNITED.



Ps: Ditulis untuk seorang teman yang fans banget pada Klub sepakbola Manchester United. Semoga suka. :)




27 Agustus 2011

Kami

....aku melihatnya melintas di depan gerbang sekolahku waktu itu. Seragam putih abu-abunya masih tampak rapi meski siang sudah beranjak sore. Hari itu dia masih tampak biasa dimataku, meski kerap kali bertemu muka dikantin sekolah. Dia biasa saja. Tidak membuatku tertarik apalagi jatuh cinta. Tidak.

Tapi 8 tahun kemudian, perasaan itu berubah--seiring bertambah dewasanya kami saat ini. Kami bertemu lagi didunia maya setelah sekian tahun. Dia masih seperti biasa. Perasaannya. Perasaanku. Tidak ada yang berubah. Tapi ada yang berbeda. Kami berdua saling mengagumi. Bukan cinta namanya. Hanya sekedar mengagumi pikiran masing-masing. Itu saja.





27 Juni 2011

Funfictif : Special Episode (Disini Untukmu)

This story was adapted from Japanese drama series, Zettai Kareshi (Absolutely Boyfriend).  Setelah kemarin tentang Tenjo Night and Izawa Riiko, giliran Asamoto Soshi. 
Happy reading ^_^ 




Soshi Feeling,

.....aku melihatnya menapaki tangga di depan rumah. Melangkah pelan-pelan menghampiriku. Aku menatap wajahnya dalam-dalam. Dia membisu. 

Tapi aku bisa mendengar hatinya berkata, "Sudah berakhir. Dia sudah pergi dan membawa sebagian hatiku. Maaf"

Aku tahu perasaannya, meski ia tidak berkata-kata. Andai ia tahu, sebagian hatiku juga telah berkeping saat melepasnya ketika itu. Tapi hari ini, melihat kehadirannya di depan pintu, membuatku percaya bahwa bersamanya semua akan baik-baik saja. Untuknya, aku akan bersabar merangkai kepingan-kepingan itu kembali. Menyusunnya menjadi satu untuk kuberikan sepenuhnya kepadanya.


Aku adalah masa depannya, hari esok yang akan menemani perjalannya. Apapun yang terjadi dimasa lalu, aku akan tetap bertahan disampingnya. Meminjamkan bahu. Menyusutkan tangisnya dan membalut lukanya hingga mengering. Aku percaya, dia akan baik-baik saja bersamaku dimasa depan.

Maka dari itu, dengan semua cinta yang aku punya, aku menyambutnya dengan senyuman.


"Selamat datang, Riiko"


THE END 



10 Mei 2011

Funfictif : Last Episode (Memungut Kepingan Kenangan Yang Terlupa)


This story was adapted from Japanese drama series, Zettai Kareshi (Absolutely Boyfriend). I specially dedicate this story to my idol Hayami Mokomochi. Please enjoy ^_^


Tokyo, 50 tahun kemudian.

Ini kali ke 5 ia membaringkanku disini. Memaksaku membisu seraya menatap langit-langit ruangan yang putih dan bersih. Tidak ada satu noda pun membuatnya cela. Sama seperti chip yang berkali-kali ia tanam di kepalaku, selalu kembali dalam keadaan yang kosong.


Ini kali ke 5 mereka membangunkanku dengan paksa, membuatku harus kembali merasakan sesak dari lubang yang seolah menganga di dada—membuatku memandang langit-langit putih itu dan terus-terusan berpikir.

Tak bisakah mereka membiarkanku terlelap selamanya? Rasanya aku sudah tidak berharap untuk terbangun. Tidak tahukah ia, aku takut merasakan sesak itu. Aku tak tenang dengan kehilangan itu.

Aku seperti dihancurkan, tapi tidak benar-benar mati. Kenapa ini bisa terjadi? Apa mereka memprogramku untuk penderitaan ini?

Ah, seandainya aku bisa mengatakan bagaimana rasanya….

*****

“….maaf, aku tidak bisa lagi berada disisimu. Menjagamu. Tapi dimanapun kamu berada, aku berharap kamu selalu berbahagia. Percayalah, semua akan baik-baik saja.”

Ya, saat itu aku katakan, tanpamu aku akan baik-baik saja. Sesaat, aku pun berharap demikian.



Tapi tahukah kau? Sejak aku berjalan memunggungimu, aku menahan air mata agar tidak terjatuh percuma, seperti halnya aku berusaha menahan sebelah hatiku agar tidak ikut terbawa bersamamu. Aku mencoba mengingkarinya berkali-kali. Pura-pura kuat, padahal secara perlahan kenangan itu satu persatu terlepas dari genggamanku. Kepergianmu membawa sebagian dari hati yang kumiliki, hingga meninggalkan lubang yang sangat besar di dadaku. Aku tidak akan pernah baik-baik saja.

Andai saat itu aku berbalik dan mengatakan, “temani aku sesaat lagi”, mungkin kisah itu akan beralur dengan ending yang berbeda. Tapi akhirnya aku tidak mengatakan apa-apa. Hanya terus berjalan tanpa pernah menoleh kembali.

“…erase me from this world”

Itu yang kau katakan sebelum mengucap selamat tinggal. Dan setelahnya, kau benar-benar menghilang. Kenangan itu pun ikut terhapus bersamamu.

Hanya ada kesempatan ke 2, tapi tidak untuk ke 3 kalinya.

“….selamat tidur panjang, Night. I know you really love me, coz you are my absolutely boyfriend. Arigatogozaimasu….”

*****

….aku memaksa kakiku terus melangkah, tanpa tujuan. Hanya ingin berjalan, meraba sesak yang menyekap di dada. Mencari-cari sebuah lubang yang seolah menganga disana.

Seperti ada bagian yang hilang. Ada sesuatu yang tak lengkap. Entahlah apa, aku tidak bisa mengingatnya.

Sesak setiap kali merasakannya bernafas. Seperti memaksa seseorang memunggungiku, menjauh. Seperti menyerahkan seluruh kenangan hanya untuk melihat ia kembali tersenyum. Seperti melepas sesuatu yang paling berharga.

 

Siapakah dia? Benarkah dimasa lalu aku pernah memiliki kenangan itu? Benarkah ia kepingan yang hilang dari lubang menganga ini?

Selalu jawabannya kembali ke sana. Aku tidak tahu. Aku tidak bisa mengingat apa-apa. Tapi kenapa aku terus merasa seperti terbangun dari tidur yang begitu panjang?

Ah, andai sesuatu yang berkelip diatas sana bisa memberi jawab. Bolehkah aku berharap?

*****

….langkahku tiba-tiba terhenti diujung jalan. Membeku disana, mengumpulkan sisa tenaga yang masih aku miliki.

Kenapa? Lagi-lagi aku seperti diseret kekuatan tak terlihat untuk datang ke tempat ini. Ke tempat dimana bangku tua yang menghadap laut dan bangunan pencakar langit diseberangnya itu bergeming. Aku seperti melihat dua orang berjabat tangan disana, lalu berbalik dan saling memunggungi. Seperti pertemuan yang harus diakhiri dengan perpisahan.


Siapa mereka? Apakah bayangan itu juga kepingan yang hilang ini? Ah, semua terlihat samara-samar kini.

Aku berjalan mendekati bangku tua itu perlahan. Kali ini ia tidak sendiri. Ada seseorang menemaninya. Wanita tua bermata indah.

Aku melihatnya mendongak pada langit, memejamkan mata dan berbisik lirih, “andai ada kesempatan ke 3. Aku ingin bertemu lagi dengannya ditempat ini.”

Aku menatapnya tak berkedip. Dibalik keriput wajahnya yang tua, aku bisa melihat kelembutan yang begitu besar. Senyum yang begitu hangat terpancar dari matanya. Dia, seperti tidak asing bagiku. Tapi, aku tidak bisa mengingat apa-apa.

Ia membuka matanya perlahan dan merapatkan syal yang menyangkut dilehernya—menepis hawa di bulan Desember yang terasa beku.

Perlahan ia mengangkat wajahnya dan menemukanku berdiri didepannya.

Sesaat, hanya kebisuan yang berbicara. Aku dan dia saling memandang. Sesaat, hanya desir angin dan riak air yang mengisi kebisuan ditempat itu, saling bercengkrama—memberi salam.


Aku dan dia tak bergerak. Sampai akhirnya ia tersenyum dan berkata, “Aku tahu, kamu akan selalu datang kepadaku, Night”

Aku tidak berkata-kata. Hanya membisu menikmati kehangatan yang tiba-tiba menjalar ketika ia mendekat dan memelukku.

Dan meski tak ada data yang memunculkan namanya dalam memoriku, tapi aku tahu dia bagian paling penting yang selama ini aku cari-cari….

*****

….wanita tua itu merebahkan kepalanya dibahuku, merangkulkan sebelah tangannya dan menggenggam jemariku erat-erat—seperti tak ingin terpisahkan lagi.

Aku melihatnya tersenyum. Senyum yang membuat dadaku terasa hangat, membuat sesak itu seolah terlepas.

Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang menggenang di mataku. Aku merabanya, terasa basah. Apakah ini yang dinamakan air mata? Apakah aku juga diprogram untuk menangis?


Aku menatap wanita tua itu dalam-dalam. Dia meracau. Seperti menceritakan kembali kenangan masa lalu yang terlupa. Ada aku di dalamnya. Tapi tidak bisa mengingat apa-apa. Yang aku ingat, pertemuanku dengannya seolah menambal bagian kosong di dadaku. Seperti mengembalikan sesuatu pada tempatnya. Terasa hangat, tidak lagi kesepian.


Aku dan dia masih duduk seperti itu untuk beberapa saat. Suaranya mulai melemah, lama-lama makin menghilang dan akhirnya terkulai lemah disampingku.

Aku tak melakukan apa-apa, hanya bertahan menopangnya. Aku tidak ingin lagi meninggalkannya atau memaksanya meninggalkanku. Hanya ingin berada disisinya, memungut kepingan kenangan itu—menyimpannya untuk yang terakhir kalinya.


Ya, ini adalah kesempatan ke 3. Last episode sebelum semuanya benar-benar berakhir.

Aku mempererat genggamanku dijemarinya, menyandarkan kepala bersamanya. Sekali lagi aku merasakan butiran itu menyentuh pipiku. Aku menangis untuk yang ke 3 kalinya.

Jadi beginilah rasanya mencintai. Terasa hangat dan menenangkan. Aku bahagia pernah merasakannya.

Sekarang aku tahu, aku memang terlahir untuk mengatakan bahwa aku mencintainya, Karena aku adalah kekasih sejatinya. Absolutely boyfriend.

 

“I love you, Izawa Riiko…”

….itulah kepingan terakhir yang aku temukan untuk melengkapi akhir episode pencarian ini.

Dan cerita pun berakhir dengan Happy Ending….

 

^_^      ^_^      ^_^

Akhirnyaaaa...gw bisa bikin ending sendiri bw si Tenjo Night. Kasihan kalo harus dia terus yang mengalah. Hiks..hiks...gw jadi ikutan nangis setiap kali ingat kedua endingnya. Sadiiiiiiiis... :(

Tapi Drama Series ini bikin kita sadar ya, klo cinta itu nggak bisa buat main-main, apalagi hanya untuk coba-coba. Karena kalo Robot dah jatuh cinta bisa kacaaaaaaau semua program. hehehe...

So, hargailah cinta yang ada disampingmu. Karena, klo dia dah nggak ada hanya akan ada penyesalan. 

Love is the start of every miracle.

10 Februari 2010

Naik-Naik Ke Puncak Gunung


"Tahun baru sekarang kita ngapain nich, wit? Do somethings new yuk?"
"Ngapain"
"Naik gunung"
"Gila loe ya, mana izin mak gue. Nggak ah"
"Oh...come on wit. Mana sih jiwa petualangan loe? Loe belum bisa dibilang petualang sejati kalo belum pernah naik gunung!!"
"Oh ya?"
"Hu...uh"
"Trus gue mesti ngapain kalo mak gue nggak ngizinin?" dan ide gila itu terlintas juga. "KABUR"

---

Ah...masih beberapa kilometer lagi baru nyampe puncak. Tapi dinginnya udah terasa menggigit. Ini pertama kalinya aku mendaki gunung dan tak pernah menyangka, jalannya bisa sesulit ini. Rasanya semua badan ku sudah menjadi mati rasa, dari kaki sampai kepala. Uff...dingin dan melelahkan.
"Ai, istirahat dulu yuk. Gue capek nich..."
"Yach...elo dari tadi istirahat mulu. Tanggung nich dikit lagi nyampe. Sayang kalo nggak bisa tahun baruan di puncak. Ayoo buruan...kok loe jadi manja gini sich, biasanya kan nggak?"
"Tahu nich ai, badan gue lemes banget"
"Ya udah, kita istirahat dulu. Tapi janji ya, ini yang terakhir"
"Ya deh"

 ---

Gila, aku nggak pernah menyangka kalo di dalam hutan  juga bisa jadi pasar malam. Hari ini aku melihatnya. Tenda-tenda ditegakkan dan makhluk bernama manusia yang mengaku sebagai petualang sejati inipun siap untuk berhenti sejenak. Tempat itu bernama Pasangrahan (kalo nggak salah sih). Tempat dimana para pendaki gunung biasa beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ke puncak Gunung Merapi. Disana kamu bisa nikmati nikmatnya jagung bakar, seduhan kopi panas atau mie rebus yang bisa menghangatkan badan yang tengah kedinginan. Kalo numpang duduk diperapian aja juga boleh. Dijamin gratis, secara yang bikin api unggunnya harus kamu sendiri. Hehehe...
 "Ai, gue lapar nich? Suhu yang dingin bikin perut gue lapar mulu"
"Ya udah, loe rebus aja tu mie. Atau kalo malas, beli aja di sono banyak tuh"
"Yach...elo yang bikinin dong. Gue capek banget lho"
"Sorry ye darling, gue mau cari rokok dulu. Daag...selamat makan". Itulah si ainan teman ku. Nggak berperasaan dan nggak ada rasa kasihan. Masa' temennya yang manis ini malah dicuekin. Ntar kalo dilariin sama makhluk penghuni hutan gimana? Hiii...amit-amit. Jangan sampai deh. Mengalah. Akhirnya aku harus bikin mie sendiri. Hmm...nikmat juga, lumayan buat nambah energi tuk sampai di puncak.
"Loe dari tadi keasikan ngerokok deh. Apa nggak capek? Kan elo mesti mendaki? Gila loe ya, nyari penyakit aja"
"Wiwit sayang, ngerokok tu adalah sesuatu yang menyenangkan buat seorang cowok. Kalo nggak ngerokok hidup jadi hampa. Apalagi kalo dengan suasana yang dingin kayak gini. Rokok tu menjadi kebutuhan banget"
"Hmm...lagak lo"
Tapi memang kebiasaan cowok yang satu itu bikin heran. Apa enaknya sih ngerokok? Yach, daripada mikir-mikir, akhirnya nekat deh. "Bro, gw boleh nyoba nggak?"
"Nyoba apaan? Rokok? Nggak-nggak, nggak boleh. Loe tu cewek"
"Lah, apa salahnya sih? Kan cewek juga manusia?"
"Gw juga tahu kalee. Tapi suer, rokok tu berbahaya buat cewek, bisa bikin mandul tahu nggak loe. Kan ada ditulis di labelnya"
"Lah, trus kalo buat cowok kan bisa impoten juga? Trus kenapa loe masih ngerokok?" Tanya ku makin heran pada teman ku yang bloon ini. Si Ainan langsung merenung, tampangnya yang udah mengkerut makin kelihatan jeleknya. Hihi..
"Itulah satu hal yang nggak bisa gw temukan alasannya. Kenapa ya?" Lanjutnya lagi.
"Alah...bilang aja udah kecanduan. Itu aja susah banget sih" Akhirnya aku menyudahi percakapan yang bodoh ini, hasilnya akan tetap sama, si ainan mana mungkin mengizinkan cewek ngerokok di depannya, apalagi diri ku yang sahabat karibnya.

---


Akhirnya  Pukul 00.00 WIB tepat disaat pergantian tahun 2002 ke 2003, aku sampai di puncak gunung merapi. Siapa sangka, aku yang dulunya hanya setia menatap puncaknya setiap pagi dan ketika hujan reda, kini telah berada dipuncaknya. Menakhlukkan hutan-hutannya yang rimbun, menakhlukkan jurang-jurangnya, menakhlukan cadasnya dan yang terpenting menakhlukan lelah yang kadang membuat perjalan terhenti dan menyerah.

Ini adalah pengalaman terindah bagi ku, pengalaman pertama mendaki gunung yang nggak mungkin  bisa ku lupa seumur hidup, pengalaman yang membuat semua cewek-cewek di sekolah menjadi iri. Dan ini adalah tahun baru terindah dalam hidup ku, hadiah perjuangan di awal tahun yang layak untuk ku bangga kan. 

It's me, wanita keras kepala yang nggak puas dengan satu pengalaman saja.



--Memory, 01-01-03, Puncak Gunung Merapi--

09 November 2009

Gara-Gara Sebungkus Djarum Black


"Wiiiiit...."
"Apaan sih, pake teriak-teriak? Gue nggak budek tahu!!"
"Hehe...adik ku yang manis, help me dong?"
"Hm...giliran minta tolong aja, loe bilang gue manis. Coba kalo nggak, loe kate gue kelinci. Dasar, kuda nil"
"Jangan gitu dong honey, gue kan cuma minta tolong. Masa' sama abang sendiri pelit"
"Bosan gue sama bujukan loe. Udah, sekarang loe mau apa?"
"Hehehe...tolong beliin rokok dong. Stock rokok gue habis nich!!"
"Ogah. Kenapa nggak suruh Bian aja sih, gue males. Lagian, kalo sehari nggak ngerokok kenapa sih?"
"Wah, nggak bisa dong sayang. Hidup gue pasti bakalan hampa. Kalo si Bian, udah ngorok dari tadi kalee. Loe aja ya yang beliin, ntar kalo gue ke padang, gue beliin Martabak Kubang deh, mau ya..."
"No. Gue anti sogokan, apalagi KKN. Loe beli sendiri deh"
"Oh, kalo nggak mau ya udah, Ipod Nano nya nggak jadi gue kasih. Gimana? Impas kan?"
"Iih...curang loe. Ya udah, mana duitnya!!!"
"Nih, gue kasih Rp 10.000,-. Kalo lebih buat loe aja, kalo kurang itu nggak mungkin. Nama rokoknya Djarum Black. Ingat ya, Djarum Black, warnanya hitam"
"Iya gue tahu, loe kira gue buta warna ya, kalo black ya jelas aja hitam"
"Pinter"
---

"Bang, beli rokok Djarum Blacknya 1 bungkus dong?"
"Yang menthol atau yang biasa?"
Ups...ni cowok cakep banget. Anak siapa ya? Kok baru lihat sekarang.
"......"
"Kok bengong?"
"Habisnya kamu ganteng banget sih...!!!" Ups...keceplosan. Pasti muka ku merah banget ya. Malu-maluin banget, nich mulut kok ya ember banget. Sadar kalo dirinya dikagumi, cowok itu malah semakin pamer, kali ini sebuah lesung pipi mengucap sapa pada diri ku yang terpana. Sial. Tahu diri banget diri banget si abang rokok bikin gue klepek-klepek.
"Halloo..."
"Eh, iya. Kenapa?"
"Haha...kamu mau Djarum Black Menthol atau yang Djarum Black aja?"
"Oh...ada banyak Djarum Black ya? Hm...kalo gitu yang Menthol aja kali ya? Biar si kuda nil adem sekalian"
"Yang kamu maksud kuda nil siapa?"
"Oh...itu abang gue. Dia gede, kayak kuda nil. Hehe.."
"Oo..gitu ya"
"Yupz..ya sudah, nih duitnya. Aku pergi dulu ya"
"Sering-sering mampir ya?"
"Pasti". Ya iyalah abang ganteng, pasti banyak alasan yang akan ku buat biar bisa ketemu sama diri mu. Akhirnya aku pulang dengan senyum-senyum tak menentu. Thanks kuda nil, loe baik banget sih, nyuruh gue beli rokok.
 --

"Loh, kenapa balik lagi?"
"Aku lupa sesuatu"
"Apa?"
"Nanyain nama kamu?"
"Oooh...kirain. Hahaha...lucu deh kamu. Perkenalkan nama ku Ivan. Kamu?"
"Aku wiwit"
"Oh...Hmm...wit, ntar malam aku boleh main ke rumah kamu?"
"Nggg...ngapain?"
"Ya sekedar silaturahmi. Boleh kan?"
"Hahaha...ya boleh lah. Hehehe... ya sudah sampai ntar malam. Bye"
"Bye"
Weleh...weleh...sengsara membawa nikmat ternyata. Gara-gara sebungkus Djarum Black, gue dapat gebetan baru. Kereeen...Ini kah yang namanya love at first sigh?

----



14 September 2009

Ketika Aku Menangis

Kadang kala kita merasa bahwa takdir terlalu kejam untuk kita. Disaat tengah berjuang menghadapi suatu masalah, kita malah terperangkap dalam problem lain. Seperti lingkaran setan yang tak pernah berkesudahan. Aku pernah mengalaminya, sama seperti manusia-manusia lainnya. Aku pernah bertemu dengan masa-masa sulit itu, tapi aku bisa melewatinya dengan kekuatan dan keyakinan ku.  
***
Saat aku bangun dipagi hari, aku menemukan orang-orang menangis disekeliling ku. Aku tak mengerti apa yang mereka tangisi, karna aku merasa baik-baik saja. Ku coba bangun dari tidur ku, dan memandang wajah mereka satu persatu dengan perasaan heran. Kemudian salah seorang dari mereka mengatakan pada ku bahwa ayah dan ibu ku mengalami kecelakaan dan telah dipanggil Tuhan. Saat itu aku tak mengerti apa arti dipanggil Tuhan karna umur ku baru 5 tahun, tapi aku merasakan bahwa itu pertanda bahwa aku tak bisa bertemu dengan orang tua ku lagi. Dengan bingung ku tatap orang disekeliling ku, wajah mereka menyiratkan kesedihan. Aku tak tahu apa yang aku lakukan kemudian, aku hanya mengikuti mereka membawa ku ke sebuah ruangan Dan disana ku lihat ayah dan ibu ku tengah berbaring berselimutkan kain putih. Mereka membuka selimut itu dan ku lihat wajah kedua orang tua ku tidur dengan tenang sambil menyunggingkan sedikit senyuman. Aku hanya diam. Mungkin begini kalau seseorang dipanggil tuhan, berselimutkan kain putih, pikir ku saat itu. Detik berikutnya, mereka membawa ayah dan ibu ku ke sebuah tempat dan di sana ku lihat ada lubang ditanah. Mereka memasukkan ayah dan ibu ku ke dalam lubang itu, kemudian menutupnya dengan tanah. Kembali aku hanya diam melihatnya. Aku tidak menangis, tapi aku tahu bahwa aku akan merindukan mereka. Ketika aku menaburkan bunga-bunga merah di atas tanah itu, aku merasakan ada sebutir mutiara jatuh dari mata ku. Apa itu, aku tak tahu. Kemudian aku menyadarinya, akhirnya aku menagis. Mereka memeluk ku erat dan membawa ku pergi.
***
2 tahun setelah kejadian itu, ku lihat bibi mun menangis. Entah mengapa belakangan aku merasa orang-orang disekeliling ku selalu menangis, mungkin sebuah hobby baru, gumam ku. Namun tak urung juga ku tanyakan pada nya "Bibi mun, kenapa menangis?" tanya ku polos. Bibi mun, memandangku sedih kemudian menjawab "Sekarang kamu sudah yatim piatu, anak ku". "Yatim piatu itu apa, bi?" tanya ku lagi. "Kamu tidak punya ayah dan ibu lagi" jawabnya sambil menangis. Aku mengangguk pelan. "Aku tahu, ayah ibu ku telah dipanggil Tuhan. Tapi aku kan punya bibi mun" sahut ku sambil terseyum padanya. "Jangan menangis lagi bi mun" lanjut ku menyeka air matanya. Bi mun (mencoba) tersenyum. "Sebentar lagi, bibi juga akan menyusul ayah dan ibu mu. Kamu akan tinggal di panti asuhan, sayang" jawabnya sedih. "Panti asuhan? Oh, aku tahu. Tempat yang banyak teman-teman itu kan?" tanya ku gembira. Bi mun mengangguk lemah. "Kenapa bibi sedih, aku disana akan banyak teman dan tidak kesepian lagi. Sudahlah bi mun" kata ku meyakinkannya. Ia memelukku erat, tangisnya tumbah dipangkuan ku. 2 hari setelah percakapan itu, bibi mun akhirnya benar-benar pergi menyusul ayah dan ibu ku. Di hari pemakamannya, aku menangis untuk yang kedua kalinya. Kemudian seseorang mengantarkan ku ke panti asuhan. Tempat dimana aku bisa menemukan banyak orang yang senasib dengan ku. Saat pertama datang, mereka menyambut ku dengan senyuman.Senyuman yang belakangan jarang sekali ku dapat kan. Seyum polos dan penuh ketulusan. Aku merasakan kedamaian yang luar biasa. Air mata ku kembali jatuh, kali ini ku biarkan sampai benar-benar menganak sungai. Tidak seperti biasanya, selalu ku tahan agar orang-orang disekeliling ku tidak mengkhawatirkan keadaan ku. Kali ini aku benar-benar menangis, dan akhirnya terdiam dengan penuh kelegaan. Aku baru tahu, ternyata sebuah tangisan bisa melegakan semua keresahan. Ternyata menangis juga diperlukan untuk menumpahkan semua kesedihan. Aku merasakan kebahagiaan ketika aku menangis. Air mata ku tak terbuang sia-sia. Bukankah ada langit cerah setelah hujan reda?
***
Beranjak dewasa, aku kembali mengingat kejadian-kejadian pahit dalam hidup ku. Memahami setiap kisah yang tercipta. dan aku menyadari bahwa tuhan menyayangi ku lebih besar dari yang ku tahu. Ia mengambil kedua orang tua ku, mengambil bibi ku, kemudian bunda pengurus panti, dan kini ia mengambil kedua kaki ku. Teramat pedih memang. Ujian yang sangat berat. Tapi kemudian aku tahu bahwa itu adalah bentuk kasih-Nya terhadap ku. Ia tidak hanya menghadiahi ku dengan kepedihan tapi juga memberikan ku kekuatan dalam menghadapi setiap cobaan itu. Setelah berjuang dengan semua penderitaan itu, akhirnya Ia mengembalikan kebahagiaan ku dengan mengizinkan ku menulis cerita ini. Ini adalah kebahagiaan ku, berbagi kekuatan dengan orang-orang lain. Aku tahu, diluar sana masih banyak orang-orang yang bernasib sial seperti ku, bahkan lebih parah. Tapi aku tahu mereka kuat, sangat kuat, lebih dari yang mereka sadari. Aku ingin meyakini mereka. Inilah bentuk perjuangan ku, kebahagiaan ku.  

22 Juli 2009

Asem Manisnya Cinta Pertama

 Andaikan ku dapat 
Mengungkapkan perasaan ku 
Hingga membuat kau percaya …..

Ku matikan suara D’cinnamons yang berteriak di telinga ku. Liriknya membawa ku terhanyut ke dalam sebuah kisah masa lalu. ALL ABOUT LOVE. Kisah cinta waktu SMP.

CINTA. Satu kata, kumpulan lima huruf yang bisa bikin orang bahagia sekaligus menderita. Memang begitulah yang ku rasakan. Bahagia dapat menyukai seseorang yang istimewa namun rasanya terlalu berat ku pendam karena dia tak mengetahui.

Jimmy. Ya, dia teman ku waktu SMP sekaligus cinta pertama ku. Dia cowok baik, sederhana namun mempesona. Kami sudah lama berteman. Kira-kira dua tahun dan selama itu pula aku memendam perasaan padanya.

Yang namanya The First Love itu memang gila ya. Apa-apa yang dikerjakan selalu “Ingat Kamu”. Semua hal terasa serba salah. Ya..begitu juga dengan ku. Setiap memikirkan Jimmy, dada ku merasa bergemuruh, seolah-olah dimanapun dan kemanapun aku pergi senyum dan wajahnya memenuhi ruang pikiran ku. Indah…begitu indahnya. Namun, kadang kala terasa sesak memendam sendirian. Walau tlah ku coba berbagi dengan sahabat-sahabat ku, tetapi itu tidak cukup jika Jimmy sendiri tidak mengetahui.

“Ha…loe suka Jimmy, Pril? Serius loe? Jimmy tahu?” teriak Mia histeris saat ku ceritakan perasaan ku. 
“Ssttt.. jangan kenceng-kenceng dong. Bawel banget sih mulut loe. Gue kan malu kalo sampe yang lain dengar” 
“Iya..iya. Tapi sejak kapan? Loe kok baru cerita?” 
“Udah 2 tahun, Mi. Sejak kita kelas 1. Waktu itu gue sering ngelihat dia lewat di depan kelas kita dan gue juga kagum karena dia pintar. Buntutnya gue naksir deh” 
“Udah 2 tahun kok loe baru cerita sekarang? Kemaren-kemaren waktu kelas 2 kan loe sekelas sama dia. Loe ngelakuin apa aja? Loe bilang sama dia perasaan loe?” 
“Sorry Mia. Gue gak maksud nyembunyiin dari loe. Tapi gue takut aja diketawain. Ya gak lah, Mi. Gue gak bilang sama dia. Gue kan malu. Gue gak ada apa-apanya sama temen-temen cewek yang lain. Loe kan tahu, kelas unggul. Anak-anaknya pada pintar dan cantik-cantik. Gue minder Mi” 
“Ampun deh gue, Pril. Loe dari dulu memang gak pernah berubah ya. Selalu gak pernah menghargai kemampuan loe sendiri”

Ya, kadang-kadang ku coba beranikan diri untuk jujur mengenai perasaan ku padanya. Namun, saat itu juga aku merasa takut, malu dan sebagainya. Semua bercampur menjadi satu. Parno memang, tapi itu wajar bagi seorang cewek apalagi buat seorang anak SMP seperti ku. Aku merasa lelah dan sedih, ternyata semua perhatian yang ku berikan tidak membuat Jimmy mengerti bahwa aku menyukainya. Dalam rasa frustasi yang ku alami, aku menerima cinta Feri dan akhirnya kami pun jadian.

Aku tak tahu kenapa bisa jadian sama Feri. Padahal aku tak mencintainya sama sekali. Bagi ku Feri hanyalah pelarian karena cuma dia yang mau jujur terhadap perasaannya.

3 bulan sudah kami jadian, selama itu ku coba berusaha untuk menyukainya. Namun tetap saja perasaan ku ke Jimmy tidak pernah berubah. Aku menyerah. Aku tak bisa pacaran dengan Feri sementara pikiran ku masih terus dibayang-bayangi oleh Jimmy. Aku memilih, lebih baik sendiri daripada harus melukai Feri.

“Maafin gue ya, Fer. Gue udah jadiin loe pelampiasan” 
“Gue ngerti kok. Dan gue juga tahu loe udah berusaha buat ngasih perasaan ke gue. Tapi yang namanya hati itu gak pernah bohong. Kalo gak suka kenapa mesti dipaksain. Gue merasa beruntung pernah milikin loe. 3 bulan ni loe udah jadiin hari-hari gue indah.” 
“Makasih ya Fer. Loe bisa ngertiin gue. Tapi kita masih bisa jadi sahabat kan? Gue gak mau setelah putus, kita malah jadi musuh. Gimapun juga, loe tu pacar pertama gue. Pastilah sangat berarti buat gue” 
“Hahaha...April, loe tu lucu banget ya. Ya gak lah. Gue gak sebanci itu kali” 
“Emang loe bukan banci. Kalo gak gitu mana mau loe jujur sama gue tentang perasaan loe” 
“Gue cuma mau bersikap adil sama hati gue. Kenapa gue harus nyembunyiinnya, toh kalo diungkapin lebih lega kan. Waktu itu gue udah siap lho kalo loe nolak gue. Tapi ternyata sebaliknya” 
“Iya. Yang ada dipikiran gue waktu itu, mungkin aja gue bisa ngasih perasaan yang sama ke loe. Tapi ternyata gue masih belum bisa” 
“Udahlah Pril. Gue ngertiiiii banget. Satu hal yang mesti loe tahu, berusahalah untuk selalu jujur meskipun kadang kala itu malah menyakitkan”

Semenjak putus dari Feri, aku merasa lega. Aku tak lagi harus memaksakan hati ku untuk mencintai orang yang tak ingin ku cintai. Ku biarkan diri ku bebas tanpa harus mendustai perasaan ku dan sedikit demi sedikit aku mulai belajar bahwa meskipun Jimmy tak mengetahi perasaan ku, paling tidak aku merasa bahagia karena dapat mencintai seseorang.

* * *

2 tahun berlalu. Sekarang aku kelas 3 SMP dan sebentar lagi ujian akhir. Aku sempat kecewa saat kenaikan kelas, karena nilai ujian ku jauh merosot dan aku tak lagi di kelas unggul. Artinya aku tak sekelas lagi dengan Jimmy. Aku sedih. Dan yang paling membuat ku sedih, Jimmy tak mengacuhkan ku lagi. Dia seolah-olah tak pernah mengenal ku dan merasa tak pernah dekat dengan ku. Padahal aku tahu dan aku merasakan Jimmy juga punya perasaan yang sama dengan ku. Malah dia sering ke Gep sedang mencuri-curi pandang pada ku. Tapi entahlah…apa yang membuatnya begitu, aku tak tahu.

Meskipun aku dan Jimmy tak lagi sekelas, namun aku masih sering memperhatikan dia meskipun dari jauh. Dan disuatu hari, disaat hari Valentine aku memutuskan untuk mengatakan perasaan ku padanya lewat sebuah gelang berukir namanya yang ku titipkan pada Anto teman sekelas kami dulu.

“Jim, ada titipan buat loe, nih” 
“Dari siapa?” 
“Aprilia” 
“April? dalam rangka apa?” 
“Masa’ sih loe gak tahu. Gak usah bohongin hati deh, gue tahu dulu loe sempat dekat sama dia. Udah loe terima aja...lagian ini titipan gak ada maksud apa-apa kok. Dia cuma pengen loe terima ini aja” 
“Sorry, Nto. Gue gak bisa. Loe balikin ke April lagi ya” 
“Wah…gila loe ya. Loe gak ngehargain perasaan cewek banget sih. Loe nyakitin dia kalo balikin ini, Sob” 
“Gue tahu. Tapi sorry gue bener-bener gak bisa”

* * *

Penolakan Jimmy membuat ku shock. Semua tembok keberanian yang aku bangun, akhirnya berantakan lagi. Yang membuat ku lebih kecewa, dia mengembalikan gelang ku. Itu sama saja menaruh arang dimuka ku. Aku bener-bener malu dan kecewa.

Berminggu-minggu aku menyembunyikan diri dari Jimmy dan teman-temannya. Saat istirahat aku tak keluar kelas dan saat pulang aku memilih pulang duluan. Sampai akhirnya aku mendengar kalau Jimmy sudah jadian dengan anak kelas 2 yang cantik. Dan saan itulah aku mengerti bahwa bukan cewek seperti ku lah yang diinginkan Jimmy.

“April, gue kan pernah bilang sama loe. Jujurlah meskipun itu sakit. Sekarang loe udah jujur sama perasaan loe. Dan gue yakin besok-besok semua bakal kembali normal. Loe gak perlu sembunyi seperti ini” 
“Iya, Fer. Tapi gue malu banget” 
“Gue ngerti. Tapi cuek aja lagi, toh setiap orang pasti pernah ngalami hal yang serupa” 
“Iya, Pril. Feri benar. Cuek aja lagi. Sekarang saatnya loe mulai buka hati loe buat yang lain. Yach…mungkin aja buat Feri lagi. Ya gak” 
“Bisa aja loe, Mi. Sekarang gue ngerti, ternyata bukan seperti gue cewek yang disukai Jimmy. Dia lebih cocok sama Imel. Imel lebih cantik dan feminin, berbanding terbalik sama gue. Sekarang pasti Jimmy udah Ill Feel sama gue” 
“Tuh kan, mulai lagi. STOP jadi cewek gak percaya diri. Kita tu masih SMP. Masih banyak waktu buat mencari dan merasakan cinta. Jangan berhenti sampai disini dong. Lupain Jimmy. Mending loe fokus sama nilai-nilai loe yang jeblok. Buktiin kalo lu tu bukan sembarang cewek. Loe tu cewek berisi. Ya kan Fer” 
“Yup. Loe tu unik, Pril. Dan ingat, pada dasarnya semua cewek tu terlahir cantik, kalo gak gitu kenapa para pujangga selalu bilang wanita tu makhluk terindah” 
“Hmm..kalian benar. Makasih ya” 
“Yoi…Itulah gunanya teman”

* * *

Pasca frustasi dari Jimmy, aku mulai bangkit dari keterpurukan ku. Tak lagi murung dan tak lagi menyesali kekurangan ku. Aku kembali rajin dan menjadi cewek yang ceria. Yach…usaha ku gak sia-sia, aku kembali jadi juara kelas. Dan teman-teman mengidolakan ku. Kalo boleh ge-er sih, aku kadang merasakan mata-mata kagum mulai mencuri perhatian ku.

Hm…sengsara memang membawa nikmat ya. Ada aja hikmah dibalik sebuah penderitaan. Saat pembacaan hasil ujian akhir tiba, aku mendapat kejutan yang indah. Aku cewek ke 2 yang mendapatkan NEM tertinggi di sekolah ku. Di lapangan upacara, disaksikan oleh guru-guru dan teman-teman satu sekolah, aku bangga sekali menerima penghargaan kecil itu. Dan selintas, aku juga menerima tatapan kagum dari sosok yang pernah mengisi hati ku. Mia benar. Aku ini bukan sembarang cewek.

Ah…kisah waktu SMP emang terasa unik bagi ku. Itu pertama kalinya aku merasakan perasaan yang menggetarkan seluruh nadi ku, perasaan hangat yang menyentuh palung hati ku. Dan dari kisah cinta itu lah pertama kalinya aku mulai membangun kekuatan ku untuk mempercayai dan menghargai diri sendiri.

Sekarang sudah 7 tahun berlalu dari masa itu. Dan lewat sebuah lagu aku kembali membalik lembaran yang telah berdebu itu. Memungut kepingan yang tertinggal dan membingkainya dalam memory terindah ku …. :)


(Diikutsertakan dalam Lomba Menulis Cerpen Remaja)