Tampilkan postingan dengan label a photo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label a photo. Tampilkan semua postingan
11 Desember 2012
23 September 2012
Catatan Terakhir Tentang Hari Minggu
@Taplau, 17.45
Perjalananku selanjutnya berhenti di pinggir laut jalan samudera. Taplau kami biasa menyebutnya. Tempat kita menghabiskan sore pada masa lalu. Kita. Ya, kita. Aku dan kenanganku.
Matahari berwarna orange, lebih tepatnya kuning keemasan ya? Ombak tidak begitu besar, namun deburannya cukup menggetarkan batinku.
Tepian itu penuh dengan sampah. Tidak ada orang-orang bermain voli pantai seperti halnya di tepi pantai di Pariaman—kampung halamanku. Ah, abrasi mengikis daratan perlahan-lahan.
Oh ya, aku terpaksa menulis dengan buku catatanku kini. Baterai laptopku sudah menunjukkan angka 5%. Sepertinya ia sudah tidak berenergi lagi untuk mengikuti perjalananku yang masih terus berlanjut. Terpaksa ia harus tinggal di dalam ransel pengap itu.
Kali ini aku tidak akan menulis panjang-panjang, hanya menggambarkan apa yang kulihat disekitarku.
Ada pria aneh duduk tak jauh dari sebelahku. Entah turis atau penduduk asli. Penampilannya seperti backpacker. Tapi dia bukan bule. Mungkin seorang petualang.
Aku memesan mie goreng dan sebotol teh dingin. Sambil terus menulis sesekali aku menggulung mie dan menyuapnya ke mulut. Hmmm…hari ini aku mengabaikan kolesterol yang menggila ditubuhku. Tidak apa-apa, kan Ibu dokter? Hari ini saja kok!
Sunset kali ini tidak seperti biasanya. Aku tidak bisa menikmatinya tenggelam dibatas cakrawala. Awan kelabu menenggelamkannya terlebih dahulu. Langit seolah redup. Mungkin akan turun hujan malam nanti. Sebaiknya aku bergegas menelan mie gorengku. Lalu beranjak pulang.
Tidak ada golden sunset hari ini.
Masih Tentang Minggu
@Museum Adityawarman, 14.43
Masih tentang hari minggu.
Setelah makan di warung nasi ampera yang kutak tahu namanya, akhirnya aku melanjutkan perjalananku—mencari tempat yang nyaman untuk menulis.
Sebelumnya aku sempat melintasi jalan Permindo yang orang bilang Malioboronya kota Padang. Aku tak tahu apa benar-benar mirip. Aku belum pernah ke sana, namun punya harapan besar untuk berkunjung kesana. Ya, itu impianku. Datang ke Jogjakarta.
Ada banyak keriuhan disini. Mulai dari penjual sepatu yang bersemangat membujuk para shopaholic, cekikikan muda-mudi yang asik nongkrong maupun berjalan kaki, dan musik-musik asik yang diputar oleh penjual kaset bajakan. Ganggam style dan lagu-lagu Noah sepertinya sedang menjadi hits.
Tiba-tiba terlintas di benakku tempat itu. Tempat yang belakangan sering ditinggalkan dan terlihat sepi. Dengan bersemangat, kulangkahkan kaki menuju tempat itu.
“Selamat datang di Musem Adityawarman! Silahkan mengisi buku tamu.”
Saat memasuki tempat itu seorang pemuda menyapaku dengan hangat. Dengan senyumnya yang ramah, ia mempersilahkanku mengisi buku tamu, meminta identitas serta saran untuk pengembangan museum ini.
“Mungkin promosinya lebih ditingkatkan lagi, Uda. Trus bikin even-even menarik yang bisa dinikmati pengunjung selain melihat-lihat koleksi.”
Selanjutnya akupun berkeliling. Sempat terharu, ternyata masih banyak minat orang-orang berkunjung ke sini--melihat-lihat peninggalan sejarah dan kebudayaan Minangkabau.
Aku sempat memotret beberapa koleksinya dan tugu-tugu simbol perjuangan masa lalu. Oh, aku baru tahu apa kepanjangan PADANG itu. Nanti deh, kuperlihatkan fotonya.
Ada beberapa pemuda bermain gitar di depanku. Serta beberapa pasang muda-mudi duduk tak jauh dari tempatku berada. Aku tidak merasa iri lagi dengan kesendirianku. Kata orang hidup itu untuk dinikmati, baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama. Jadi aku hanya melirik mereka sesekali sambil ikut bersenandung bersama.
Sebelum menulis lagi, kusempatkan mencek e-mail dan inbox facebookku. Dan ternyata banyak pemberitahuan. Baik itu sekedar permintaan pertemanan maupun komen-komen status. Mataku berhenti pada kalimat-kalimat yang dituliskan temanku dibawah cerita yang kupublish beberapa jam yang lalu. Satu persatu air mataku tumpah. Finally. Mendung itu akhirnya menjadi hujan. Ternyata langit masih menyimpan warna-warni pelangi yang sudah kulupa seperti apa bentuknya. Aku tersenyum. Untuk kesekian kalinya merasa lega. Beban dikepalaku terbang entah kemana.
“You’re never walk alone, de.”
Hahaha…ada pesta di gereja dekat museum. Backsoundnya terdengar sampai ke sini. Mungkin pernikahan atau acara-acara lainnya yang aku tidak tahu. Yang kudengar banyak lagu-lagu batak dinyanyikan. Aku tak mengerti, yang kumengerti ada gelembung-gelembung bahagia di udara—menemani perjalananku.
Masih ditemani petikan gitar pemuda diseberangku, aku membayangkan wajah-wajah teman lama. Anak-anak UKS yang dulu sering menghabiskan malam-malam bersamaku. Memetik gitar, memandang bintang-bintang dan makan ikan bakar bersama. Teringat juga dengan acara bakar-bakarnya yang berantakan karena salah satu dari kami kerasukan makhluk halus. Apa kabar kalian? Masihkan ingat momen-momen penuh kenangan itu? Rindu kalian sangat.
“Dek, bisa ambilkan fotonya?”
Hahaha…aku baru saja meminta seseorang untuk memotretku. Still narsis. Look! Ada gadis-gadis mencoba berpose ala chibi-chibu. Nice. Dan itu, ada bapak narsis yang minta difotokan anaknya yang mungkin masih berusia 5 tahun. So funny. Dan mereka, pasangan serasi itu. “Ingat hari ini ya, beb.” Hahaha….ada bahagia dimana-mana.
Banyak kenangan yang berpendar di sini. Di sudut rumah adat itu, di taman, di sela-sela rangkiang, di dekat pelaminan, atau bersama penjual sate dan makanan lainnya. Di sini juga, di bawah pohon kelapa tempat aku dan ransel serta laptopku yang sedang menulis tentang kenangan.
Hari Mingguku kali ini luar biasa. Aku tidak pernah merasa sepuas ini setelah menulis. Sampai sesore ini langkahku tidak bisa dihentikan jemariku masih sama gesitnya dengan angkutan yang lalu lalang di jalanan sana. Aku bertemu banyak manusia. Berpasang-pasang kekasih, sekumpulan muda-mudi, penjaja makanan, pengemis, pengamen jalanan, para pencari kerja, shopaholic, pemburu momen dan sebagainya.
Aku disini memperhatikan mereka satu persatu, mencoba mereka-reka isi kepalanya, menggambarkan apa yang ada di mimpinya atau sekedar membantu mereka mengekspresikan apa yang tak bisa dimengerti oleh orang lain.
Aku di sini melihat, mendengar dan merasakan bahwa ada banyak bahagia bertebaran di sekitarku—andai aku mau sedikit saja lebih dekat. Tidak ada yang benar-benar sendiri sebenarnya—andai aku mau mengakui. Dalam hidup terkadang kita mencari penyalahan sendiri atas apa yang tidak kita mengerti. Menyalahkan perasaan. Menyalahkan keadaan. Menyalahkan kesendirian.
Benarkan, tidak ada yang salah dalam ke-abnormalanku?
….dan mungkin untuk itulah hari ini Tuhan menggerakkan langkah dan pikiranku—berkelana ketempat-tempat di mana aku bisa belajar dari hal-hal sederhana.
Lain kali aku akan berjalan tanpa terburu-buru. Aku akan lihat sekeliling. Barangkali ada yang bisa kupelajari darinya.
Hei, apa kabarmu senja? Masihkah kau menyimpan golden sunset untukku? Tunggu, aku akan mengabadikanmu disana.
“….teruslah berjalan, de.”
Tentang Hari Minggu
@Lapangan Imam Bonjol, Padang. 11.13
Hai, apa kabarmu siang ini? Di sana masih pagi tentunya ya? Pagiku tidak sebaik biasanya. Rasa jenuhku mengalami titik puncaknya. Aku terpaksa meninggalkan semua kepenatan itu di rumah. Aku meninggalkan cucian yang menumpuk di sudut kamar mandi. Piring-piring kotor di depan pintu. Setrikaan yang mengeriting seperti sampah di atas kasur.
Aku melarikan diri akhirnya setelah dari kemarin kutahan untuk tidak menghilang. Oh ya, Ibu kos akhirnya mengundangku untuk datang ke upacara pernikahan putrinya 2 jam sebelum acara dilangsungkan. (apa karena merasa tersindir sebelumnya?).
Aku terpaksa bohong pada keluarga untuk tidak pulang karena kuliah, juga pada teman-teman kos yang berharap bisa pergi bersama ke acara pernikahan itu. Aku memang tidak kuliah hari ini, karena jadwal kuliahku baru dimulai minggu depan.
Sebenarnya aku ingin pulang, tapi aku tak tahu ada kekuatan apa yang menahahan langkahku di sini. Sebagian hatiku terasa kosong. Rasanya ingin menangis tapi tak bisa dan akupun tak tahu bagimana bisa dan karena apa?
Tidak ada yang mau kuajak karokean apalagi sekedar menemaniku melarikan diri. Mereka sudah ada acara masing-masing. Janji dengan seseorang. Huh, aku iri. Aku lupa, kapan terakhir kali aku membuat janji berhari minggu dengan seseorang (yang spesial mungkin?). Apa kabar mingguku yang selalu habis tanpa disadari? Sekali disadari, Senin pun sudah menyapa. Kali ini aku mencoba mengingat-ingat, apa yang pernah terjadi dengan minggu-mingguku selama ini.
Baru-baru ini ada satu kata asing yang mengakrabiku. “ABNORMAL”. Apa karena perasaanku yang tidak menentu? Atau karena aku terlalu mendramatisir keadaan? Mungkin aku sedang tidak waras dan ketidakwarasan itu membuat hidupku lebih tenang.
Aku memperhatikan wajah-wajah orang di sekitarku. Di angkot, ada wajah letih sehabis berbelanja di pasar. Wajah cemas mahasiswa yang mungkin terlambat kelas minggu. Lalu wajah tenang tanpa beban. Lalu apa yang mereka lihat dari diriku? Wajah galau ala abege, kah? Atau wajah linglung seorang yang abnormal.
Aku menyusuri jalan-jalan kenangan tempat aku biasa melarikan diri—menghabiskan waktu dengan kesendirian.
Aku melintasi kantor pos. Masih ada orang-orang yang tak menyerah dan tak berhenti untuk berharap. Hampir setahun yang lalu, aku masih menjadi bagian dari mereka, bersyukur, masa-masa sulit itu sudah lewat.
Menyusuri jalanan teduh di sekitar SMA Don Bosco. Aku ingin mengunjungi taman bacaan kecil di depannya. Koleksi-koleksi bapak tua itu membuatku terkagum-kagum. Aku merasa beruntung seseorang pernah memperkenalkan tempat itu padaku. Sayangnya, tempat itu tidak terisi lagi. Entah kemana taman bacaan itu perginya. Pindah ataukah benar-benar mati. Atau terjadi sesuatu pada si bapak tua?
“Kau catat saja, buku apa yang mau kau pinjam?”
“Tanpa jaminan, pak?”
“Jaminan? Ah, sudahlah. Aku percaya padamu”
Aku ingat percakapan kami waktu itu. Hanya dilandasi rasa percaya, aku bisa membawa setumpuk bacaan pulang.
Tidak ada tempat itu lagi sama halnya dengan Perpustakaan Daerah yang kini menjadi puing-puing tak berbentuk. Tidak ada tempat lagi yang nyaman untuk melarikan diri.
Lalu akhirnya aku teringat tempat ini. Memang tidak ada buku-buku, tidak ada musik melankolis, tidak ada tempat duduk yang empuk atau karpet yang licin. Hanya ada rumput-rumput hijau tak terawat. Sampah-sampah bertebaran. Ada orang di setiap sudutnya. Sendiri-sendiri. Berpasangan. Ataupun bersama-sama.
Aku sengaja memilih tempat di bawah tiang besar menghadap ke lapangan besar tempat orang-orang bermain bola. Ada sepasang kekasih tidak jauh dari tempatku duduk. Yang kudengar mereka tidak bicara tentang cinta. Hanya bersekedar bicara meski tanpa tema. Apa benar mereka pasangan? Entahlah. Yang kulihat mereka tampak bahagia.
Beberapa kali penjaja kue, menawarkan dagangannya padaku. Telur asin, kacang rebus, bakwan, asinan dan berbagai minuman kaleng.
“Terima kasih, bu. Saya sedang tidak ingin mengemil.”
Aku hanya ingin menulis di sini sembari mendengarkan lagu-lagu favorit dari ponsel genggamku. Ah, sepertinya itu tidak akan bertahan lama. Baterainya sudah memerah.
Aku teringat suara pengamen jalanan tadi. Dengan gitar akustik di tangan, ia memetik dan berdedang tanpa beban. Oh, suaranya begitu tenang begitu juga dengan wajahnya. Tidak kalah tampan dari Ariel yang sedang hangat-hangatnya diperbincangkan. Sepertinya selembar ribuan tidak pantas kuberikan untuknya. Kendati sedikit ia sudah membuat hatiku mulai damai.
Hei, sudah berapa lama aku di sini? Orang-orang sudah mulai menghilang. Lapangan sudah kosong, taman-taman mulai terkena panas, tidak banyak yang lesehan dengan tikar di rumput. Tapi aku masih disini. Masih harus menyelesaikan catatan yang tidak berjudul ini.
Apa kabarmu di siang ini? Sedang menjelajahi kota-kota asing itukah? Apa hari minggumu menyenangkan?
Aku sebenarnya iri padamu. Di kota ini aku hanya bisa berjalan beberapa kilo yang aku mampu. Backpackeran sendiri? Kemana? Apa ada orang yang mengerti bahwa kadang kala seseorang ingin menghabiskan waktunya sendiri—mendatangi tempat-tempat yang indah lalu menikmatinya sendiri. Di sini tidak ada yang seperti itu. Kalau kau sendiri, maka kau terlihat aneh. Kadang aku ingin tak perduli apa yang mereka bicarakan. Tapi nyatanya, aku menyimpan kata-kata itu dalam benakku. Betapa kesepiannya aku.
Aku tidak perduli dengan penampilan. Bahkan dengan umur yang mendekati “tua” pun seolah tidak berarti lagi kini. Masa-masa 17an sudah lewat dan setelah itu, hanya masa-masa ketika kau butuh hidup dan terus berjalan maju.
Hari ini aku memakai stelan yang tidak matching. Temanku bilang, ini terlalu preman. Tapi what ever. Aku hanya ingin mengenakan ini. Celana gunung yang kubeli sebulan yang lalu terasa nyaman dipakai daripada jeans yang kancingnya sudah tanggal karena mamakainya terburu-buru. Beberapa jam yang lalu aku sudah mempersiapkan dress biru bermotif batik di atas kasur. Rencananya akan mengenakannya untuk acara pernikahan anak ibu kos, sayangnya yang kukenakan kali ini malah kaos putih bertuliskan I LOVE PARIAMAN dengan cardigan abu-abu diluarnya. Aku merindukan pulang jadinya.
Tak terasa sudah 4 lembar halaman kuhabiskan. Jarum jam di pergelangan tangankupun mulai merangkak pelan-pelan. Sudah jam 1. Artinya sudah 3 jam aku disini. Orang-orang mulai memperhatikanku. Mulai penasaran dengan apa yang kutulis. Selangkah dua langkah mereka mendekatiku, melirik diam-diam pada laptop dipangkuan. Atau sekedar menatapku bertanya-tanya, “Apa perempuan ini wisatawan yang sedang menuliskan cerita petualangannya? Atau wartawan?”
Ah, mereka mau tahu saja. Ya, aku memang orang asing yang tersesat ke tempat kumuh ini. orang asing yang rela duduk lesehan bersama sampah-sampah penjaja makanan yang tidak bertanggung jawab akan kebersihan. Aku juga wartawan yang sedang menulis cerita untuk dibaca oleh orang-orang yang ingin membacanya.
Hohoho…ada manusia tak tahu malu disini. Seenaknya kencing di antara bunga-bunga yang sedikit rimbun. Hey…kau sebagai seorang lelaki yang sudah matang, di mana malumu? Di mana jiwa kepemimpinanmu? Kenapa memberi contoh yang tidak baik bagi generasi muda yang ada di sini. Nah, itu juga. Di depanku seorang ibu-ibu juga membiarkan anaknya kencing sembarangan padahal tak jauh dari tempatnya ada ruangan dengan tulisan yang dibold tebal, TOILET.
Saya mengerti, kenapa generasi muda sekarang tidak perduli dengan lingkungannya? Kenapa tidak ada rasa malu dan menghormati sesama. Karena tidak ada lagi contoh yang baik yang seharusnya mereka dapatkan. Tidak ada yang mengajarkan kebaikan sedini mungkin. Ah, aku segan, budaya malu sudah menipis di negaraku.
Hei…waktu sepertinya sudah benar-benar beranjak. Perutku mulai terasa lapar. Sebaiknya aku mencari makanan dulu sembari melihat-lihat, mungkin saja ada tempat nyaman lainnya untuk aku melanjutkan catatan tentang minggu ini.
Ya, sudah. Terpaksa kumatikan laptop, memasukkanya ke ransel dan menyampirkannya ke bahu. Ugh, terasa berat dan mengesalkan, penitipan tas itu menyuruhku untuk terus membawanya.
Sampai nanti ya. Aku masih akan menceritakan tentang minggu ini padamu. Tunggu saja, aku sedang lapar.
25 Mei 2012
Awan
Hey...Bisakah berhenti sebentar disini?
Aku ingin bermain-main di awan-awan itu.
Putihnya seperti kapas.
Lembut dan menggemaskan.
Aku ingin memberinya warna. PINK.
Lalu akan ku simpan di kotak makan siangku--untuk kuberikan kepadamu sebagai pengganti Gulali.
Aku yakin, kau pasti akan tersenyum menerimanya :)
Langit, 17 Mei 2012
13 April 2012
Mimpi Itu Nggak Sia-Sia
Dulu mereka selalu bilang pada saya, "jangan mimpi!" atau "jangan terlalu banyak berharap". Nyatanya sekarang, mimpi-mimpi dan harapan yang mereka bilang percuma itu perlahan menjadi kenyataan. Ya, satu persatu. Seperti langkah kaki saya menuju pulang. Menuju suatu tempat. Menuju arah yang lebih baik.
Look, minggu lalu saya baru saja membawa pulang satu mimpi saya. Melihat dunia "luar". :)
Look, minggu lalu saya baru saja membawa pulang satu mimpi saya. Melihat dunia "luar". :)
27 Agustus 2011
a broken heart show
This picture illustrates the situation when you're heartbroken. right?
all images are taken from weheartit.com
14 Juli 2011
21 September 2010
Cerita : Menjaring Senja
Buih-buih menepi, menghanyutkan resah-resah tak bertepi
Nun jauh di sana, pulau-pulau berbaris, menyibak lautku yang membiru
Hatiku seperti bebatuan yang tak gentar menghadang ombak
Lihat! Laut menjaring senja di hadapanku. Warnanya bening dan terang
Senja berjatuhan di hadapanku, membuatku terpaku tanpa bergegas memburunya lalu
Inilah warna hatiku pada waktu itu,
andai kau tahu
langit menyepi di atas kepalaku. membiru hitam tersaput malam yang bergegas datang.
lampu-lampu menyala, terang
dan dia menepikan semua warna yang terlihat
lalu, senjapun berlalu di depan mataku
menyamar jingganya tersaput gelap.
dan akupun harus menyeret langkah memunggungi lautmu...
******
Gambar : Dokumen pribadi
Lokasi : Gandoriah Beach, Kota Pariaman-Sumatera Barat
Langganan:
Postingan (Atom)
















1.jpg)
1.jpg)
1.jpg)













