Tampilkan postingan dengan label Percakapan Kata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Percakapan Kata. Tampilkan semua postingan

30 Mei 2012

Bukan percakapan biasa



Love ain’t the answer, nor is work, 
The truth eludes me so much it hurts 
But I’m still having fun and I guess that’s the key 
I’m a twenty something and I’ll keep being me
--Jamie Cullum-Twenty Something

Inilah perbincangan kita sore ini, tentang JODOH. Haha...sedikit berat memang, tapi itulah yang terlintas dibenak kita barusan.

Aku : Gimana? Udah ketemu soulmate nya?
Dia  : Gak tahu nih.
Aku : Kenapa? Belum "pas kena hatiku"?
Dia  : H2C.
Aku : Dia datang di saat tak terduga. Surpriseeee....
Dia  : Kuatir juga nih?
Aku : Kuatir sama umur?
Dia  : Salah satunya. Takut fitnah. Tapi klo sendirian takut juga.
Aku : Kok fitnah?
Dia  : Takut aja.
Aku : Ya, mo gimana lagi klo belum ketemu. Kan nggak mungkin klo kita ngobral. Jadi biarkan aja kita kyk mutiara tersembunyi. Ntar klo pas kepentok jodoh jadi berharga baget. Hehe...
Dia  : Amiin....
Aku : Udh lebih 1/4 abad nih. Quarter life. Meski kadang mereka2 seperti apa wujudnya, tapi ya Allah punya rahasia. Dia pasti kasih yg terbaik. "...wanita baik2 untuk laki-laki baik2.." begitu kata Al-Qur'an kan?
Dia  : Amiiinn ya Allah..
Aku : Mudah2an kita termasuk wanita baik2. :) Tapi gak bisa dipungkiri, abad sekarang wajah #1. So, wanita berwajah pas2an kyk aku ini siapa yang mau ya?
Dia  : Allah udah jamin. Nggak peduli apa kata orang. Daun jatuh aja atas seijin Allah juga kan?? Gak mungkin menurut kita, ternyata begitu mudahnya bagi Allah. Jika sudah bilang Kun Fayakun, Apapun bisa terjadi kan?
Aku : Bener. Everything is possible.
Dia  : Yup. Tapi ngejalanin prosesnya emang butuh sabar ya dan harus kuat. Semangat!!!!!!!
Aku : Haha...SEMANGAT!!!
Dia  : Eh, btw no inspiring maksudnya apa tu? Yang jauh tu masih tetep jd inspirasi kan?? ehem..
Aku : (terdiam)

Dia...dia...dia...
Ngomongin dia, apa yang diperbincangkan tadi jadi mentah lagi.
Dia...dia...dia...
Dia adalah angan-angan yang terlalu tinggi. 


...namun akan selalu menjadi sumber inspirasi......




Padang-Medan.
disuatu sore dalam percakapan kata.


16 Maret 2012

Takdirku. Takdirmu


Wonderful Praha
Kau bilang 3 hari lalu habis dari Prague. Sekarang sudah sampai di Vienna. Tempatnya Einstein dulu berada.

Kau menceritakan bagaimana perasaanmu ketika menginjakkan kaki di kota tua itu. “It’s hard to don’t say I fall in love with Prague. What a  beautifull country. You should be here.” Katamu waktu itu.

“Ya, I wish I could there someday!” itu jawabku sambil tertawa.

Kau tak tahu ya, bagaimana aku tergila-gilanya pada kota itu. Well, aku memang belum pernah ke sana. Tapi aku pernah melihat gambar-gambarnya pada sebuah artikel di majalah harian, kemudian menjadi sering karena mulai mencarinya di google. I fall in love at the first time.

“Aku menghabiskan waktu berjalan-jalan di Old Town, lalu berhenti di Charles Bridge—memandang orang-orang yang lalu lalang menikmati indahnya landscape di sana. Kastil-kastil kuno itu menarik perhatianku. Sangat klasik dan elegan. Tata kotanya, Indonesia tertinggal jauh.”

Apa kau sempat melihat jam tua itu? Prague Astronomical Clock. Impianku ingin melihat jarumnya berputar lalu mendengarkan dentangannya yang khas. Aku memang suka yang antik-antik. Nilai historisnya lebih tinggi. Aku bahkan sering membayangkan semua jam-jam terkenal di dunia dikumpulkan, mana yang paling unik. Prague Astronomical Clock, Big Ben Inggris. Well, Indonesia punya Jam Gadang yang bisa disejajarkan.

“Pertengahan abad 18 Mozart berkelana keliling Eropa mencari dan mengumpulkan simfoni-simfoni indah yang tersebar berserakan tak beraturan. Kemudian Mozart menciptakan simfoni yang luar biasa sewaktu menetap di ViennaAustria. Aku pun sekarang berada di sini. Berharap bisa mencuri sedikit inspirasi, mungkin bisa ku bawakan sebagai oleh-oleh untukmu di sana. Dan aku juga akan ke Universitätsbibliothek Wien. Universitas tempat Albert Einstein menimba ilmu dan meneliti. I can’t believe that.”

Ada tanda titik dua dan sebuah lengkungan di depannya—kutulis ketika membaca kata-katamu.

Kita manusia sudah menggenggam takdirnya masing-masing, dear. Kau dan takdirmu berjalan-jalan di Eropa sana. Berkunjung dari satu negara ke negara lain. Merasakan empat musim yang berbeda. Menikmati bahasa yang beragam pula. Tentunya warna rambut, mata dan kulit orang-orang yang kau temui juga berbeda kan? Kau dan takdirmu menjadi stranger di luar sana. Sementara aku dengan takdirku cukup mengikutimu beranjak dari titik yang satu ke titik yang lain. Menikmati cerita-cerita yang kau tawarkan sebagai teman minum teh. Membayangkan aroma-aroma musim dalam setiap perjalananmu, sesekali berkomentar dengan bahasa inggris yang terpatah-patah. Haha…pernah juga kuselipkan satu dua bahasa asing yang juga kau kuasai. Paling sering kata “Danke”, sebagai ucapan terima kasih karena kau tak pernah pelit membagi kedua matamu untukku melihat bagaimana indahnya dunia diluar sana. Well, sesekali kita juga sering bercakap-cakap dengan bahasa ibu kita. Satu-satunya bahasa yang bisa kita nikmati bersama tanpa kendala. Bahasa Minang.

Itu takdirku selalu. Selain mengikuti perjalananmu, takdirku tak pernah berlari dari meja sepanjang 1 meter dengan 2 buah computer versi terbaru di depan mata dan kertas-kertas plus angka-angka yang berkeliaran di atas meja. Aku dengan takdirku tak bergeser dari kursi putar yang well, harus ku akui tidak empuk lagi.

Ya, kita sudah menggenggam takdir masing-masing. Dengan jalan, waktu dan tempat yang berbeda. Satu-satunya persamaan takdir yang kita genggam hanyalah sedikit masa lalu dan hari ini. Masa depan? Entahlah. Dan aku yakin, kau tak perlu repot-repot menjadi Einstein untuk mencari tahu takdirmu dimasa depan. Cukup syukuri saja apa yang berlalu di hari kemarin dan saat ini.

By the way, kau ingat kapan terakhir kali kita bertemu? 7 tahun lalu? 5 tahun? 8 atau 11 tahun yang lalu? Mungkin 8 tahun yang lalu ya? Karena rasanya aku pernah bertemu denganmu 8 tahun yang lalu. Maksudku—aku yang melihatmu. Pagi hari kira-kira pukul sembilan di halte bis. Waktu itu kau sedang asik mengobrol dengan temanmu. Aku bisa menangkap sekilas pembicaraanmu. Berkisar tentang tugas-tugas kuliah, teori-teori dan rumus-rumus yang tidak kupahami. Kau tampak serius dengan kemeja dan ransel besarmu itu.

Kemudian aku ingat kapan terakhir kali pernah bertemu denganmu. Di Koperasi sekolah. Tempat takdir mempertemukan kita. Saat itu aku sedang berkemas-kemas—menghitung, merapikan dan membersihkan barang-barang yang seharian ku”tunggui”. Itu hari terakhirku bertugas di sana karena esoknya kita akan mengikuti ujian akhir. Disudut lain kau juga sama sibuknya denganku. Menunduk, mengotak-atik kalkulator dengan cepat dan menuliskan sesuatu di kertas. Tampak serius.

Kau selalu seperti itu. Menunduk dan hanya sesekali mengangkat wajah. Aku maklum dengan hal itu. Kau gila membaca sama sepertiku. Tapi terkadang aku juga bisa mendengar suara musikmu dari tempatku berdiri. Kebanyakan lagu Balad angkatan 90-an.

Kau jarang tersenyum apalagi berbicara. Sekali tersenyum itu disertai dengan perubahan di kedua pipimu. Haha…kau pemalu rupanya! Dan kami, siswi-siswi dari sekolah putri ini sering kali menggodamu. Betah sekali rasanya nongkrong di sana jika ada kamu. Kami seperti melihat manusia tersesat di dunia vampire. Kau yang jadi manusianya.

Hari itu takdir kedua kita. Aku melihat wajahmu sekilas di beranda rumah seorang teman. Sedikit pangling, tapi aku tahu itu kau. Dan rasanya aku seperti kembali ke 11 tahun sebelum itu.

Memang kita telah ditakdirkan untuk mengenggam takdir yang berbeda. Kau beranjak ke ujung sana dan aku tetap berada disini. Kau dengan takdirmu melalang buana ke kota-kota impian diluar sana—bertemu orang-orang berbeda setiap saat.

Dan aku dengan takdirku tidak beranjak dari kubikel berukuran 24 cm x 12 cm dengan sebatang pena sebagai kuncinya. Aku dengan takdirku menulis tentang cerita apa yang masih jelas kuingat dari kamu.

Tidak ada yang disesali dengan memiliki itu semua….

12/01/2012
Insp by. Bayu van Adam




19 Juli 2011

Questions

Do you have a place where you can actually speak up your mind?
Do you have true friends?
When sad, you hide your tears?
Mess around with your friends?
Force yourself to laugh and pretend nothing's wrong?


07 Juli 2011

Aku tidak tahu caranya

dan bagaimana harus kuceritakan kepadamu, bahwa semua sudah benar-benar berakhir kini.
No back up plan, no second chance.
dan aku harus kembali ke awal, mengeja langkah satu persatu....

sudut kamar,
disuatu malam yang begitu melelahkan


27 April 2011

Rain Lover



Waktu kecil aku suka hujan karena menjadi alasan yang menyenangkan untuk berlari2 telanjang di lapangan.
Sekarang, aku suka hujan karena memberiku waktu untuk duduk diam menikmati kopi dan musik lirih sembari mengamati hujan yang belum berhenti.
Dulu hujan adalah titik dua,
sebuah awal dari runtutan banyak hal setelahnya
sekarang hujan adalah spasi,
sebuah jeda untuk berhenti





Note :
Aku copas note ini dari kotak komen di blog aku. Suka bgt sama kata2nya.
Just like me, he loves the rain too ^_^
Thanks  Ronitoxid

15 Februari 2011

Hufff....Lonely




Entah kenapa, blog ini semakin hari terasa semakin sepi.
Entah kenapa, tulisan-tulisan di sini terasa tidak lagi membawa inspirasi.
Selalu percakapan yang sama. Menunggu. Kesedihan. Jenuh.
Sejenak melihat ke belakang. Pada tulisan-tulisan konyol yang ternyata bisa membuatku berpikir. "Oh, inilah aku sebenarnya. Lalu apa kabar dia sekarang?"
Dia menghilang. Entah kemana. Dia tidak menutup buku. Belum. Masih banyak cerita yang menyesaki pikirnya. Hanya saja, dia terlalu lelah untuk mengungkapkannya. Tidak hari ini. Mungkin lain kali. Tunggu saja, dia pasti kembali.


Pariaman,   Februari 2011
Ruang yang tertinggal 

16 November 2010

Curhat De Tentang Tomku


 
Siang itu aku melihat Tom..
Ia masih sama seperti yg kau ceritakan..
Aku teringat, akan sebaris pesan yang kau bisikkan padaku
“Salam untuk dia”
Sedikit ragu aku datang menghampiri Tom
Memenuhi permintaan mu..
Tom tersenyum
Kemudian berkata…. Salam balik yaaaa…..
          

                     —Wieke Beliana—
        
(Re)


Dear be,
kau tahu tidak? senyumku kini melebar.
jantungku jumpalitan.
apa kau bisa membayangkan?
dibalik layar monitorku, sejumput malu-malu menggayut diwajahku.
terimakasih, be….
^_^

                   
                   —De Rawit—

Curhat Bee Tentang Belalank


Dear de….
Aku ingin berbagi satu kisah denganmu…
Satu cerita tentang “belalank”
Begitu aku memanggilnya…
Aku tak pernah berfikir untuk lebih jauh mengenalnya
Meski pun aku dan dia sering bertemu di kampus yang sama
Entahlah…..
Perjalanan waktu seakan menuntunku tuk masuk ke dunianya
Kau tau de,
Apa yang membuatku terkesima?
Ia menyukai puisi…
sama seperti ku….
Ia juga mengagumi langit malam dan kunang-kunang
Tak ada yang istimewa antara aku dan dia..
Tapi ia slalu membuat hari-hari ku seindah langit senja..
               —Wieke Beliana—


Re : Autumn Day (Waiting)

Re from :


Dear de…
Aku tak ingin autumn berakhir..
Aroma nya masih ku simpan dipangkuanku..
Aku akan menjemput mu..
di penghujung musim gugur
ketika dedaunan masih bergemerisik lirih..
Semoga masih ada waktu,
Sebelum winter benar-benar membawanya pergi…

                —Wieke Beliana—

22 Oktober 2010

I Surrender


entah sudah berapa bait kutinggalkan puisi itu
beratus-ratus kata kubiarkan menari-nari,
mengendap begitu saja.
entahlah yang kurasakan kini,
hanya kehampaan,
sewaktu-waktu berbisik lirih
"aku merapat pada senjaMu Tuhan,
memasrahkan diri pada kuasaMu"

26 Agustus 2010

Memo

Katamu, langit akan tetap menyenja, meski sudah tidak berderap langkah kita memburunya. Dia akan tetap menjingga, membiru, lalu menghitam tersaput malam.
Lalu pagi akan datang setelahnya. Dan akupun harus terbangun--bergegas memburu embun.
Katamu, teruslah berjalan, meski tangan tak lagi berpaut....

Disudut pagi yang cerah

22 Juli 2010

Blank

"Bagaimana rasanya bila kau sudah menuliskan sesuatu di kertasmu berkali-kali, tapi kau hanya melihat kertas yang sama. Putih dan kosong. Pada akhirnya kau mungkin akan merobek-robeknya begitu saja lalu beranjak pergi"


Jenuh Tingkat Tinggi


Jarum jam sudah ribuan kali berdetak dan aku masih di sini. Terdiam dengan lembar-lembar kertas kosong. 

Entah apa yang akan ku ceritakan pada dunia, bila pada akhirnya ketika membuka mata esok hari, aku masih melihat pagi yang sama, hari yang sama, menghirup udara yang sama. 

Lalu aku bergegas memakai baju yang sama, berlari di jalan yang sama dan duduk di kursi yang sama. Di depan ku bergeming komputer yang sama. Masih dengan aktifitas yang sama. 

Setelah itu, sore pun mulai beranjak dan aku harus pulang dengan senyum yang sama, kemudian bermimpi dengan mimpi yang sama. 

Itulah duniaku setiap hari. Berputar pada jalur yang sama, meski rasanya berlalu begitu cepat.

Aku tak tahu, entah sejak kapan waktu menjauhi ku. Rasanya dia tak berjalan dengan seharusnya, tapi seperti bergegas meninggalkanku terlalu jauh. 

Aku tak tahu, entah apa yang salah pada diriku, hingga waktu tidak memberikanku kesempatan untuk menghirup napas barang sejenak. Rasanya, ia sudah tidak sudi lagi berkompromi dengan ku.

Ketika semua orang bergegas memburu waktu, aku malah tak tahu harus berbuat apa. Rasanya aku masih berjalan di tempat, belum kemana-mana.

Dan kau tahu bagaimana rasanya "Jenuh tingkat tinggi"??

Itulah yang ku rasakan kini....

****

Disuatu malam yang lembab

14 Juli 2010

Journey


Kita berjalan dari tangga yang berbeda,
tapi sama-sama memulainya dari hitungan PERTAMA.
Kau dan aku seperti LANGIT dan AWAN yang saling melengkapi.
Dan tanpa HUJAN, bias pelangi tidak akan tercipta.
Maka sudah ku putuskan bahwa yang menjadi hujannya adalah kerikil-kerikil itu.
Aral yang membuat kita bertahan untuk terus melangkah jauh.
Dan kini kita sudah sampai pada hitungan ke SEMBILAN, tanpa tahu kapan akan mengakhiri hitungan itu.
Tapi aku yakin, ketika semua mulai berakhir, kita akan kembali menghitungnya dari awal--tanpa lelah....



Ps. catatan ini ku bingkiskan utk teman-teman yg tak lelah mengejar mimpi. Seperti perjalanan, semua pasti akan berujung.

12 Juli 2010

Aku Hanya Ingin Menghitung Derai Kenangan


aku hanya ingin rumah,
aku hanya ingin persinggahan,
aku hanya ingin ruang,
aku hanya ingin tempat bersandar,
aku hanya ingin bercerita,
tidak ada yang ku inginkan selain itu,
tapi kenapa rasanya sulit sekali??

mereka tidak menerima ku ada,
mereka tidak membiarkan ku bercerita,
bahkan sebuah tangis yang ku bagi di bawah hujan pun tidak dia beri sedikit ruang.
kenapa rasanya sulit sekali untuk berkata-kata??

izinkan aku pulang ke rumah yang sepi ini,
izinkan aku bernaung di persinggahan ku yang lengang,
tidak apa bila kau tak mau menyisihkan rinai bersamaku,
tidak apa bila kau tak sudi membagi tawa dengan ku,
tidak apa bila pada akhirnya aku sendiri yang menghitung derai kenangan itu,
tidak apa-apa.

yang ku inginkan hanya rumah,
hanya ruang,
hanya persinggahan,
dan biarkan aku merenda tawa bersama hujan....

26 Juni 2010

Aku dan Dia

Aku melihatnya bernafas. Aku melihatnya merangkak. Lalu aku melihatnya berjalan. Kini ia berlari meninggalkan ku dengan segenap kekuatan yang ia punya. Aku melihat punggungnya menjauh. Tubuh kecilnya tampak kesepian dan rapuh. Tapi tidak ketika aku melihatnya dari depan. Ia tampak kuat, bersemangat, dan ceria.

Dia bilang, ingin sepertiku. Tidak pernah menyerah dengan keadaan. Dia selalu melihatku sebagai sosok yang bisa menyemangatinya. Aku sempat bangga dengan pujian itu. Namun sebenarnya, aku juga menginginkan hal yang sama. Aku ingin jadi dirinya yang sabar, ikhlas dan berjuang dengan ketidakmampuannya. Diam-diam aku mengidolakannya meski tak ku katakan.

Aku melihatnya berlari mengejar mimpi. Mimpi yang kerap kita perbincangkan sewaktu senja tiba. Mimpi yang menjadi petunjuk ketika kita melangkah ke depan. Kami mempunyai mimpi yang sama, tapi kami melangkah dengan jalur yang berbeda.

Aku melihatnya berlari semakin jauh. Tidak ada kebencian melihat sosoknya membelakangiku. Sungguh. Tidak ada rasa sedih ketika dia meninggalkanku. Kami berdua tumbuh bersama. Aku tahu dirinya, begitupun sebaliknya.

Jadi ketika senja menghapus bayang-bayangnya di ujung jalan, aku harus ikhlas melepasnya untuk yang terakhir kali. Aku percaya, dia akan baik-baik saja di sana--meski tanpa ku. 

I believe that...


02 Mei 2010

Kata


Aku malu pada mu
sekeping kata yang ku tulis sia-sia
tak berusaha merangkainya menjadi mimpi
yang terbesit ketika pagi membuka mata

Ku hiraukan kepingan hurufnya
tak mengawali yang mana dan akhirnya seperti apa
hanya membiarkan lengah
tersudut begitu saja dalam selembar kertas berdebu

Apa kabar jiwa ku?
sudahkah tak berasa lagi
tuk melirik gerombolan huruf yang biasa menjadi kawan?
Sudahkah lelah begitu saja?
tanpa menyadari bahwa kau baru saja membuang mimpi?
Ah, sudah berapa lama kata itu terabaikan?
Kesepiankah ia??

****

26 April 2010

Aku Ingin

Ingin aku menggantikan tempat mu di situ

Dan mengambil rasa sakit itu dari tubuh mu

Biar aku bisa menyaksikan semburat pelangi dari wajah mu nan lugu

Rindu rasanya

Lalu bagaimana dengan ku?

kiranya rasa sakit itu juga milik ku….

23 April 2010

Biarkan



Habiskan sesak itu
biarkan kesenyapan menemani sejenak
tak perlu ada kata-kata
hanya biarkan angan melayang mencari peraduannya
hingga saatnya tiba, ia akan kembali pulang....

----

16 April 2010

Bingung


Tik..tik...tik...
suara itu mungkin terdengar nyaring
bersemangat
nyaris tidak terlihat seperti kebingungan
ketikannya berjalan lancar
tapi nyatanya layar itu masih terlihat kosong
tak sedikitpun abjad yang menodainya
beberapa kali sempat tercipta dengan indah
namun secepat kilat, tombol backspace menghapusnya seperti bosan
ah...ada apa dengan ku kini
satu jam akhirnya terbuang percuma...

****