Tampilkan postingan dengan label Remember When. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Remember When. Tampilkan semua postingan

07 Maret 2013

Nongkrong Bareng : Eksekutif Muda


Pukul 08.45 WIB, Office.

“Ntar sore ngebakso yuk.”
Oke. Kalo ada undangan makan, pagi-pagi gini, tanpa ada perencanaan berarti, alasannya cuma satu “syukuran”. Gak ada yang lain.

Aku tersenyum sumringah membaca pesan singkat pada Gtalk ku. Makan gratis lagi? Horeeey…

“Okay.” Tanpa basa-basi aku langsung mengiyakan tawaran itu. Siapa yang nggak mau coba? And you know what, kali ini dalam rangka syukuran motor dan new blackberry. All right. You’re rich people, Maya. :p

Pukul 17.54 WIB, Pondok Bakso Mas Pepeng.

Again and again kita kembali ke tempat ini. Entah yang keberapa kalinya aku tak tahu. Yang pasti untuk rasa dan harga cukup terjangkau untuk dompet kami yang setiap bulannya selalu tipis. Okelah ada isinya beberapa lembar 50 ribuan. Tapi lebih banyak berupa kartu-kartu. Kartu ATM, Kartu Kredit, Kartu member di beberapa swalayan, Kartu Mahasiswa, Kartu Tanda Penduduk, Kartu Jamsostek, Kartu NUPWP, Kartu member penyewaan kaset, Kartu member Dufan dan kartu-kartu plastik lainnya. Dari sekian banyak kartu, hanya beberapa yang bisa dicairkan. Kartu ATM yang sudah mendekati saldo minimal dan kartu kredit yang full limit. Selebihnya, cuma buat menuhin dompet. Biar dikira kaya. Hahaha…

Hari itu kita memilih duduk di tempat yang sama, ditempat terakhir kalinya kita berkumpul, hampir setahun yang lalu. Hanya 6 bangku yang terisi. Artinya 2 bangku kosong. Biasanya kita ber-7. Ah, miss u more, guys.

Sudah lama kita tidak tertawa lepas seperti ini. Tanpa beban. Tanpa perduli lirikan-lirikan sebal dari tentangga sebelah. Kalian tahu tidak, aku memergoki abang penjual nasi gorengnya tersenyum mendengar guyonan-guyonan kita. Dia ikut tertawa geli. Mungkin dia teringat masa-masa mudanya. Masa-masa dimana hidup, bisa dengan mudahnya ditertawakan.

Aku tahu, kita tidak semuda dulu lagi. Meski ada diantara kita yang masih berumur dibawah 25an. You will see. Setelah serempat abad, apa yang akan terjadi pada hidupmu. Percaya nggak percaya, memang ada yang berbeda. Ada yang terasa perlu ditemukan. Entahlah apa. Mungkin jodoh. Congrats deh buat kamu yang sudah memiliki seseorang. Tinggal bagaimana mempertahankannya sampai akhir.

Ups, sedikit curcol.  

Aku tidak tahu darimana makhluk Tuhan itu muncul. Tiba-tiba suasana menjadi heboh karenanya.

Seorang makhluk Tuhan yang paling menarik, duduk tak jauh dari meja kami. Berkemeja cokelat muda dan celana cokelat tua, serasi dengan kulitnya yang aku kira sawo matang. Sekilas aku pikir dia salah seorang kasir di tempat kami bekerja, sampai akhirnya aku menertawakan kebodohanku sendiri. Mana mungkin aku melewatkan makhluk setampan itu?

Si Eksekutif muda.

Oke, kita sepakat menamakannya demikian.

Ehmm…ada yang curi-curi pandang padanya. Bahkan ada yang dengan nekatnya langsung curi-curi foto. Aku dapat satu kali jepret. Hahaha…harus kuakui, dia begitu menarik. Tipe-tipe cowok yang digandrungi cewek-cewek. Tapi lebih dari ketampanannya itu, aku lebih menyukai sikap cueknya. Berani bertaruh, aku yakin dia tahu kalo kita lagi memperbincangkan dia, mencuri-curi gambar wajahnya, bahkan tahu bahwa kita mengaguminya.He’s my tipe klo boleh dikategorikan.

Aku cukup beruntung mendapat tempat duduk yang bisa dengan leluasanya menatap wajahnya. Sayang, aku tidak seberani teman-teman lainnya. Aku mencoba jaim biar kalo dia melirik, aku masih terlihat sopan dimatanya. *aseeek*. Tapi itu tak bertahan lama, detik berikutnya aku malah ikutan ngakak. Ya sudahlah, be my self  aja. Aku bukan tipe sok jaim ketika semua orang dengan lepasnya tertawa.

Ada pengamen di depan sana menyenandungkan lagu Menjemput impian dari Kla Project. Tiba-tiba aku kangen Jo-gja. Semenjak BB ku rusak, aku tidak pernah berkabar-kabar lagi dengannya. Kangen cerita-ceritanya tentang kota impianku itu, tentang hujan, juga tentang rumah yang selalu dirindukannya. Apa dia masih menunggu kedatanganku? Maaf, Jo, Maret ini harus batal lagi.Aku harus menjadwal ulang perjalananku. Kamu tidak perlu menunggu. Kita hanya 2 orang asing.

“…Maafkanlah aku, acuhkan dirimu, saat pertama kali tersenyum padaku. Maaafkanlah aku, jejali dirimu dengan segala kisah, sumpah serapahku…”

Sejak kecil, aku selalu jatuh cinta sama SLANK. Aku besar dengan lagu-lagunya. Tapi mendengar lagu ini, membuatku ingin kembali ke masa remajaku. Lagu ini punya arti tersendiri. Ah, aku sempat merekamnya sedikit ke dalam ponselku. Suatu saat, ketika semua orang harus pergi meninggalkanku, aku akan putar rekaman ini berkali-kali. Sekedar peredam rindu, sekedar flashback.

Oh ya, ada suara cempreng kalian tertangkap. And I guess, will miss you, someday.    

Kira-kira bisa nggak ya kita nongkrong bareng sampai tua?





08 Januari 2013

Napak Tilas-Ke Rumah Bung Hatta

Saya tidak pernah merencanakan tahun baru kemana. Bikin acara apa. Sejak kecil saya hanya menikmati pergantian tahun dengan memandang langit malam. Memandang bintang-bintang. Membayangkan kembang api bercahaya di langit malam. 

Pernah sih, satu kali saya ikut merasakan moment tahun baru dengan mendaki Gunung Marapi. Menikmati sunset pertama di bulan Januari dari puncak gunung. Itu adalah hal paling luar biasa yang pernah saya rasakan. Bagaimana tidak, tanpa perencanaan. Tanpa tahu medan, tahu-tahu saya sudah berada di cadas--ikut bergerak bersama pendaki-pendaki lainnya. It's a greats moment. Saya merasa seperti sang petualang sejati.

Tahun ini, saya tidak merencanakan kemana-mana juga. Namun dikarenakan liburan cukup panjang, saya terpaksa harus merencanakan perjalanan juga. Ya, saya sedang jenuh dan ingin bersenang-senang. Jadilah, pada tgl 31 Desember saya dan teman-teman "kabur" ke luar kota untuk merefreshkan otak. Tidak jauh sih. Bukittinggi menjadi tujuan perjalanan kami.

Well, dikarenakan perencanaannya mendadak, jadi kami tidak punya tujuan kemana di Bukittinggi itu. Semua tempat rasanya sudah kami jelajahi. Hmm...Oh, ada. Rumah Kelahiran Bung Hatta. 

Iya, kami penasaran sekali ingin berkunjung ke sana. Ya, sekedar napak tilas pada sejarah Indonesia. This the picture: 

Kalo gak narsis di dekat papan penunjuk, gak seru ya? :)

Mengisi buku tamu

Ruang tamu

Foto-foto bercerita tentang sejarah

Berpose di depan Foto Pak Hatta

Saya mencoba menjadi guide :)

Catatan tentang seorang tokoh proklamator Indonesia

Bersama Ibu Desi--Pengurus Rumah kelahiran Pak Hatta





Saya tidak pandai bercerita mengenai Pariwisata apalagi Sejarah. Tapi mudah-mudahan foto-foto ini bisa menceritakan kepada kalian, bahwa napak tilas itu menyenangkan disamping bisa menambah pengetahuan. Sebagai generasi muda, tentunya kita perlu mengetahui apa yang terjadi dimasa lalu sebelum melanjutkan hidup membangun masa depan. 

Kalo kalian ingin berkunjung ke sini, cukup datang saja ke Kota Bukittinggi (Jam Gadang), dari sana kalian bisa mencari alamat :

Jl. Soekarno Hatta No. 37
Kelurahan Aur Tajungkak Tengah Sawah,
Kecamatan Guguh Panjang, Kota Bukittinggi
Sumatera Barat
Telp. 0752-644488

atau kalo kamu tahu Pasar Bawah (Pasar Banto) Bukittinggi, letaknya nggak jauh-jauh kok dari sana. Kamu cukup tanya saja orang yang lewat. 

Jadi selamat berkunjung ya. 


17 Oktober 2012

Ini Rindu (Mungkin)



Di sini sepi. Tidak seperti di sana—dulu. Bising. Ramai. Ada bunyi-bunyian kalau minggu sudah tiba. Bunyi gesekan penggorengan dan sendoknya. Suara mesin sanio dan air mengucur dari kran. Kerasnya volume TV yang hidup 24 jam dan sangat memekakkan telinga. Lalu suara tawa dan celotehan-celotehan seru dari bibir-bibir mungil kalian. 

Kini tidak sama lagi. Semua berubah. Terus terang, ada yang hilang. 

Mereka bilang jangan melihat ke belakang. Ya, aku nggak pernah melihat ke belakang lagi saat meninggalkan rumah penuh kenangan itu—meski sangat ingin. Tatapanku jauh ke depan. Kehidupan baru sudah menanti. Tapi rasanya terlalu berbeda dan menyesakkan. 

Andai kalian tahu, rasanya sepi. Aku merasa ditinggalkan atau mungkin sebaliknya—aku belum menuntaskan sesuatu di masa lalu hingga merasa masih mencari-cari kepingan yang hilang? Atau mungkin ini yang namanya rindu. Dadaku seperti dipenuhi gelembung-gelembung kenangan. Ada tawamu, tawaku, tangis kita. Lalu pelukan hangat—semuanya. 

Aku dan kau tahu, waktu tidak bisa diputar kembali. Kita mungkin bisa memutar ulang kenangan, tapi mungkin tidak ada yang bisa menghentikannya di tempat yang sama. Alur itu sudah berbeda. 

Di sini sepi. Tidak seperti di sana—dulu. Tapi satu hal yang harus aku syukuri kini, kota ini masih menyimpan kenangan-kenangan tempo dulu—tidak terkontaminasi waktu. 

Di sini sepi. Memang. Tapi aku masih akan kembali ke kota ini. 



Padang, 13 Mei 2012 






04 Juni 2012

Arti Sebuah Lagu

There was a time in my life
When I opened my eyes and there you were,
You were more than a dream,
I could reach out and touch you, 
Girl that was long ago. 
There are somethings that I guess I'll never know, 
When you love someone You got to learn to let them go.

Katamu sebuah lagu bisa mewakili perasaan kita. Lagu sedih ataupun gembira. Semua punya pesan. Punya kenangan.

Dan kau tahu, dari semua lagu yang pernah kita nyanyikan bersama, aku paling ingat satu lagu dari Stevie B--Dream about you.

Kau tahu kenapa? Karena lagu itu mengajarkanku arti jatuh cinta. Arti memiliki. Arti kehilangan. Dan terutama arti persahabatan. Karena mendengarkan lagu itu membuatku mengingat saat-saat kita berpelukan, tertawa dan menangis bersama.

Bukankah itu pesan yang tersirat dari lagu itu? Saling menguatkan.




Padang, 29 April 2012



31 Mei 2012

Bukan Sekedar Makan Gratis


Source
I still remember all the memories betwen You and me
I do every crazy thing it just to make me, You happy
#Last Child—Memories of you


…di hari berhujan itu, ada tawa-tawa menggelembung di udara.

Aku, kau, dia, mereka—kita. Sengaja memilih duduk di pojokan dengan meja panjang dan 8 kursi saling berhadapan.  Kita ber -7. Satu bangku kosong di depanku—tanpa penghuni.

Horeee…Ada syukuran lagi hari ini. Traktiran—entah dalam rangka apa. Habis gajian, dapat arisan, atau udah jadian? Ups, ada yang mengenang 4th anniversary dengan sang mantan. Hahaha…sayang sekali harus berakhir. But, what ever dalam rangka apa, yang penting makan gratis.  J

Ini bukan yang pertama. Hari-hari sebelumnya kita juga punya moment yang sama di tempat  berbeda. Seperti travelling dan wisata kuliner setelah bubaran kantor. Atau tradisi syukuran tanpa pernyataan tertulis.

Namun ini bukan tentang makan gratis dan ngumpul-ngumpul praktis. Ini tentang memories. Hal terpenting yang akan kita kenang nanti. Setelah tidak di sini atau ketika tua memaksa pergi.

Ada tawa-tawa menggelembung di udara. Ada bahagia di mana-mana. Suatu kebiasaan yang selalu dirindukan ketika tagihan kesehatan menumpuk, payroll gaji yang menunggu diinput, atau dari rasa kesal dengan Miss BB yang tak pernah peka sindiran.

Hahaha…meski berharap untuk bisa melarikan diri dari rutinitas kantor yang menyesakkan, nyatanya tiap pagi kita akan melangkah ke sana—berputar dengan pro kontra yang memusingkan. Dan moment inilah obat kepenatan itu. Kebersamaan dan canda tawa.

Yaaaach, meski terkadang ada yang sedikit galau dan kacau. Berantem dengan pacar karena dikomporin seharian. Biasa, LDR. Cemburu menguras hari. Curiga menjadi-jadi. Haha…atau dengan si dia yang nggak kunjung nembak. Bimbang, mereka-reka hati. Ada juga yang pusing mikirin kredit yang nggak kunjung diverifikasi. But, ajakan makan gratis selalu mendapat sambutan hangat dan cengiran lebar. Siapa sih yang nggak mau diiming-imingi kata GRATIS yang dibold besar-besar? Nobody wants, of course. Jiwa-jiwa galau menepi sejenak. 

Ada perbincangan hangat di sana dengan tema yang tidak terbatas pada satu cerita saja. Gossip harian, tidak pernah tentang selebriti—hanya berkisar dengan orang-orang unik di kantor, bisnis baju, kosmetik dan sepatu cross, politik (yang ringan-ringan saja—seputar pejabat di kantor), cowok-cowok keren (always), cinta dan terutama tak jauh-jauh dari pinjaman dan hutang. Hihihi…Perbincangan kita selalu mengalir kemana-mana. Tidak stuck di satu tempat—tidak membosankan. Kita selalu punya objek untuk ditertawakan atau menjadi objek tertawaan. Selalu dan seperti itu.

Mungkin kita bukan sosialita yang selalu nongkrong di tempat nge-hit tapi bikin dompet terjepit. J-Co, Starbuck, Hardrock, apapun tempat ngopi-ngopi yang biasa dikunjungi sosialita. Paling kaya kita cuma mampir ke Pizza Hut, KFC atau Solaria. Selebihnya warung lesehan dengan atap bambu, tanpa jendela berkelambu.  Ya, kita bukan sosialita dengan semua kemewahannya, wanita karir serba sibuk pun nggak juga.  Kita hanya karyawan biasa dengan keluhan yang itu-itu saja.

Mungkin kita nggak akan selamanya seperti ini. Tapi hari ini, akan selalu menjadi selamanya untuk kita.

Jadi, terima kasih hari ini. Untuk makan gratisnya. Ngumpul praktisnya. Dan hujan yang mengukir memories. I get the happiness with you. Hope this moment will be forever.

By the way, bubaran kantor besok planning kita kemana?


Padang, 30 Mei 2012
Pondok Bakso Mas Pepeng



04 Juli 2011

Past Time


.......5 menit lagi. Begitu mataku mengeja jarum jam yang terpajang diruang tamu. Mendekati angka 12 dadaku semakin sesak. Seperti vonis atas hidupku. Ah, mengapa detik itu terasa lama sekali?

Selamat ulang tahun.

Pesan pendek itu kukirimkan tepat jam 12 malam, 29 April. Hanya itu, setelahnya aku mengunci diri di kamar--mencoba memejamkan mata. 

"Dedek, lo udah tidur? Dek..." Aku mendengar seseorang memanggil. Aku bungkam--bergelung diam-diam.

Aku tahu seharusnya tidak kekanak-kanakan seperti ini. Meski berpura-pura, seharusnya aku bisa bersikap dewasa dan menghadapinya. Sayangnya saat itu tidak tahu bagaimana bersikap. Aku masih belum dewasa. 

*****

Semestinya aku menemuinya pagi itu dan kembali mengucapkan selamat ulang tahun dan berjabat tangan. Namun lagi-lagi keegoisan membuatku ingin cepat melarikan diri dari kos--bergegas menuju kampus sepagi mungkin. 

"Ntar malam nginap dirumah gue yuk? Dah lama kan kita nggak ngerumpi?" ajakan Mona siang itu terasa bagai oase olehku. Tanpa pikir panjang aku mengangguk cepat. Menjauh dari kos-kosan mungkin adalah keputusan yang tepat untuk menenangkan diri. 

Dan malam itupun aku tak pulang--lagi-lagi menghindarinya.

Tapi harus kuakui, saat itu aku memang benar-benar belum dewasa. Rasa cemburu karena terabaikan kembali membuatku sesak. Kesedihan itu malah berubah menjadi kemarahan. Tanpa pikir panjang aku mengirim sebuah pesan ke nomor ponselnya. Kata-kata yang begitu puitis, manis namun mengandung kemarahan dan membuat sedih. 

20 menit kemudian, aku lantas menyesali kebodohan itu. Ungkapanku menyakitinya--membuatnya menangis. Sambungan telponku pun ia putus tanpa kata.

.....sejak saat itu semua berubah.  

17 Juni 2011

Slide-Slide Kenangan

 Satu hari 5 tahun lalu, 28 April.

Deg.
Jantungku tiba-tiba berhenti ketika melihat dua sosok itu dikejauhan. Bertemu dengan mereka adalah hal yang paling tak ingin kutemui hari itu. Aku lelah sehabis praktek seharian plus capek dengan kegaguan yang membeku diantara kami. 

Andai aku bisa memundurkan waktu selangkah saja, aku tidak akan memilih berjalan kaki dijalan itu, naik angkot hijau jurusan bertuliskan Lurus (Ps.Raya - Ps. Baru Kampus UNAND) itu mungkin dengan senang hati akan kunaiki. Sayangnya hari itu aku sedang ingin berlama-lama diluar dan hanya ingin pulang dengan Bus yang full music. Tapi sepertinya waktu menginginkan aku bertemu mereka disini--di jalan Permindo, Padang.

Aku berusaha malangkah sewajar mungkin, berharap bisa berpura-pura tidak melihatnya. Namun....

"Dedek? Lo baru pulang?" sapaan itu akhirnya mengentikan kepura-puraanku. Aku tersenyum. 
"Iya nih, tadi banyak kerjaan." jawabku seadanya. Mereka balas tersenyum.
"Kalian dari mana?" tanyaku mencoba basa-basi.
"Nggak ada. Cuma jalan-jalan." 
"Oh.." 
Lalu jeda. Kegaguan itu merabat lagi. Ah, aku benci situasi ini. 

Pandanganku menangkap sebuah kotak dalam pelukannya. Aku tahu persis isi kotak itu apa, dan perlahan mulai mengerti kegugupan itu. 

"Ya udah, gue duluan ya" kataku sambil menarik lengan teman disebelahku. Keduanya mengangguk cepat. "OK!" jawabnya tanpa beban. 

Setelahnya kami berjalan menuju arah berlawanan. Sejenak aku sempat menoleh ke belakang, mereka berlalu--memunggungiku. 

Ada sesak terasa ketika itu, sebisa mungkin aku menahan air mata biar tak tumpah begitu saja. Sayangnya ketika tubuhku mulai nyaman dengan salah satu bangku bus di dekat jendela, aku tidak bisa lagi membendung tangis itu. Jadi beginilah akhirnya? Terabaikan.

Sejenak kubiarkan ia meleleh begitu saja. Melepas semua sesak yang menyekap. Namun kemudian aku sempat menangkap lirikan sang supir dari kaca spion. Malu-malu aku menyusut air mata dengan ujung lengan bajuku. Seharusnya tidak disini.

Bus melaju dengan cepat meninggalkan jalan itu. Aku melogokkan muka ke jendela, membiarkan angin menerbangkan kesedihan yang terasa. Sayup-sayup aku bisa mendengar music up beat dari speaker bus, begitu bersemangat dan menghentak. Aku mengulum senyum, seolah berterima kasih kepada sang supir yang sudah menghiburku. 

....sesaat kesedihan itu terlupakan.


source pic here

16 April 2011

Aku = Niah

"Niah, lo lagi ngapain?"
Aku langsung cemberut ketika membaca pesan singkat pada layar ponsel 1110 ku itu. 
"Dasar!" kutukku dalam hati. Meski sedikit jengkel tapi senang juga, ternyata ia masih ingat nama itu. Dia satu-satunya orang yang sering memanggilku dengan nama aneh itu.
"Kenapa harus Niah, sih? Kan masih ada Rani, Shepia, ato Khailila?" tanyaku uring-uringan.
"Ha-ha. Karna cuma nama itu yang cocok sama lo" Jawabnya tanpa perasaan.
"Dasaaaaaaar..." 
Aku mencak-mencak kesal. Selalu jawabnya begitu. Selalu membuat aku cengengesan sekaligus uring-uringan.
"Tapi gue heran, kenapa Niah sih?"
"Tanya Mas Eross lo deh. Cuma dia yang tahu sejarahnya."
"Iya ya. Mas Eross gue selalu punya nama stock nama yang unik-unik. Itu sebabnya gue selalu cinta sama dia..."
"Walaaaaah...cowok ceking plus dekil itu aja lo suka. Manggung aja pake pinyama. Nggak banget deh..."
"Arrrgghhh..."
Lagi-lagi dia membuatku kesal dengan celutukan-celutukannya yang "kejam" itu. 
"Tapi waktu itu lo ketawa-ketawa juga, kan? Buktinya lo masih ingat sama acara itu?"
Hmm..kali ini dia harus mengakui bahwa sedikit banyak dia juga ngefans sama si Mas Eross gw itu.
"Yaa...gimana gue nggak ingat. Baru kali ini gw lihat band manggung pake piyama. Aneh"
"Halaaah...bilang aja lo salut sama keunikan mereka itu yang nggak bisa lo temuin sama Bang Aril lo yang jaim itu."
"Iya sih, tapi..."
"Udeeeh...nggak ada tapi-tapian. Bilang aja lo SUKA. Titik"
Hhihi...kali ini dia tidak berkutik.
"...ya sih" akunya kemudian.
"Tapi sedikit" katanya cepat.
Wkwkwkwk...aku tertawa geli. Puas rasanya membuatnya mengaku. Sedikit dari mana, orang semua lagu dia hapal, kok. Dan sering banget dijadiin soundtrack hidup. Tapi ya itu, dia paling anti mengakuinya.

Percakapan itu sudah lama berlalu, teman? Tapi aku masih saja mengingat setiap detil yang ia katakan. Momen-momen lucu yang sudah lewat itu selalu bisa membuatku tertawa geli dan cengar-cengir. Memang tidak mudah menghapus masa lalu, ya? Suka. Duka. Semua adalah pembelajaran untuk melangkah ke depan. Dan percakapan sederhana itu, bukankah cukup manis untuk dikenang?

"Gue kangen lu na..."


========

Catatan :
Gue adalah fans beratnya Sheila on 7, sehingga dia selalu memanggil gw dengan sebutan NIAH yang diambil dari judul lagu di album "Pejantan Tangguh" SO7. Sedangkan Dia, (dulu) suka banget sama Ariel Peterpen, sampai-sampai gue menyimpan namanya di phone box dengan nama LUNA MAYA. 
Kebiasaan yang aneh memang, tapi gue selalu menyukai percakapan-percakapan konyol itu. 

17 Maret 2011

Semoga Ini Hanya Dialog Sinetron



Waktu itu, aku pernah melihatnya tergeletak tak berdaya. Diam. Benar-benar tak bergerak. Semua teman-teman mengelilinginya, berusaha memberikan pertolongan terbaik agar ia kembali bernafas. Aku berdiri disampingnya, menangis, menggenggam erat jemarinya. Penyakit itu sudah menumbangkan senyumnya, dan itu kali pertama aku melihatnya begitu jelas. Jangan ambil dia, Ya Allah. Dalam diam, aku membisikkan harapan  itu. 

Waktu itu, aku mendengarnya menangis diam-diam--menahan rasa sakit. Tidak ada orang lain disana selain aku. Ya, aku berada tak jauh dari tempatnya bergelung. Aku mendengar semua rintihannya itu. Namun, aku tidak lagi duduk disampingnya, menggenggam jemarinya bahkan hanya untuk sekedar bertanya, "apa kau baik-baik saja?". Aku hanya diam. Terpekur pada tugas-tugas kuliah yang menumpuk sembari menahan air mata. 

Waktu itu, aku merasa jadi orang paling jahat sedunia. Bagaimana mungkin aku bisa dipanggil sahabat, jika disaat ia membutuhkan aku disisinya, aku malah mengabaikannya begitu saja. Demi sepotong kesalahpahaman saja, aku membangun benteng kokoh dihatiku. Aku dibutakan kecemburuan dan rasa rendah diri. Dan aku telah menjadi orang paling bodoh sejagat raya dengan membiarkannya seperti itu. Maafkan aku. Hanya itu yang mampu kubisikkan waktu itu. 

Waktu itu, aku memeluknya erat. Seerat janji yang pernah kami tautkan bersama. Janji persahabatan. Perasaan itu tidak pernah berubah, meski banyak hal-hal buruk yang telah kami lalui. Aku memeluk tubuh kurusnya sembari berbisik, "Aku pergi. Jaga diri baik-baik, ya." Dia mengangguk pelan tanpa berkata-kata. Dan saat kendaraan itu mulai merangkak membawaku pergi, aku bisa menangkap raut kesepian dari matanya.  Dia menahan air mata dan membiarkanku pergi. Kita pasti akan saling merindukan. Begitu yakinku dalam hati.

Lalu, waktu-waktu itu pun menguap seiring berputarnya bumi. Waktu juga menyimpan semuanya menjadi kenangan. Tidak lagi berupa luka. Semua berlalu. Dan hujan menghadirkan pelangi diatas langit yang kami pandang bersama. Hangat dan nyaman. Rasa bersalah itu terhapuskan. 

Hari ini, bayang-bayang masa lalu itu kembali menggelinding di depan mataku, seiring pesan pendek yang dikirimnya pukul 11:06 pagi tadi,

De, andai kamu tiba-tiba melihat ada "benda asing" pada hasil Ct Scan mulut rahimmu, yang kata dokternya harus segera diangkat. Apa yang kamu pikirkan? Apa kalimat pertama yang terlontar setelah selama bertahun-tahun belakangan kamu juga diberi "anugrah" pada usus besarmu? Yang selama bertahun-tahun kamu juga sudah menanggung sakit karnanya. Dan sekarang, DIA memberinya lagi ditempat yang hanya dimiliki perempuan. Apa kamu masih bisa ikhlas dan tidak marah pada Nya De?

Sungguh, pesannya kali ini membuat saya tak kuasa menahan sesak. Bergulir, air mata pun jatuh satu persatu. Semoga ini hanya dialog sinetron. Hanya itu yang mampu aku bisikkan untuk menguatkan hatiku. 

....aku kehilangan barisan abjad yang biasa memenuhi blog ini, note-note di facebook, bahkan buku harianku. Aku tak mampu merangkai kata. Bibirku hanya sempat bilang, 
Serahkan semuanya pada Dia yang memberi "anugerah" itu. Jalani saja tanpa menyesal. Just stay strong. And should you know, you're not alone. There are best friends who are willing to stay by your side. Allah itu Maha Pengasih. Dia sudah mempersiapkan kado terindah diujung perjalananmu....
Pesan yang sangat biasa sebenarnya, namun kuharap, kata-kata itu sangat luar biasa efeknya bagi dia.

Semoga......

------------


Untuk sahabatku yang sedang berjuang. 


26 Februari 2011

Anugerah Terindah



Entah apa yang terjadi padaku belakangan ini. Setiap malam, aku selalu bermimpi dengan Band idolaku Sheila on 7, sehingga setiap pagi mau tak mau penghuni kos harus mendengar suara merdu milikku menyanyikan lagu-lagu sang idola.
Taukah lagu yang kau suka
Taukah bintang yang kau sapa
Taukah rumah yang kau tuju
Itu Aku…
Taukan lagu yang kau suka
Taukah bintang yang kau sapa
Taukah rumah yang kau tuju
Itu Aaaaaaa…

Dor…dor…dor…
            “Dedeeeeek….buruan dong. Gue udah telat nih?” gedoran di depan pintu membuatku terkejut dan menghentikan konser tunggalku di kamar mandi pagi itu.
            “Iyeee…gue selesai nih”
            Dan depan pintu kulihat wajah-wajah kucel yang sedang mengantri—menatap jengkel padaku. Aku hanya berlalu sambil memberikan cengengesan khasku.
            Ternyata keanehanku tidak hanya sampai di sana. Setiap pagi, akupun bergegas ke kampus dengan semangat yang menggebu-gebu, tentunya diiringi dengan senandung Sheila on 7 juga.
            “Loe kenapa, sih? Belakangan lagu loe Sheila on 7 mulu?” Tanya Rita suatu hari.
            “Suka aja” jawabku sambil mengendikkan bahu.
            “Apa karena mereka mau datang?” Tanyanya lagi. Aku spontan menatapnya curiga—mencari keseriusan dari ucapannya.
            “Loe nggak tahu?” ulangnya lagi. Aku menggeleng, semakin penasaran padanya.
            “Ya ampun dedek, katanya loe suka banget sama Sheila on 7, masa mereka mau datang aja loe nggak tahu?”
            “Serius loe? Kapan?”
            “Sabtu depan. Dan loe tahu jumpa fansnya dimana?”
            Aku menggeleng bego—membuat Rita, Rona, Mimi dan Bebel serentak tertawa.
            “Di auditorium Unand” jawab mereka berbarengan. Aku terbelakak tak percaya. Benar-benar surprise.
            “Kampus kita?”
            “Iya bego. Dimana lagi”
            Aku tak bisa menahan tawa saat itu, rasa haru dan deg-degan juga. Berharap Sabtu itu cepat tiba.

****

            Pantai Padang siang itu tampak sepi. Angin yang berhembus kencang membuat orang-orang lebih memilih duduk di dalam rumah atau barak-barak penjual makanan laut. Tapi tidak denganku. Aku lebih memilih menyepi di bebatuan bibir pantai meski angin kini juga membawa rinai kehadapanku.
            “Dek, kita pulang yuk. Gerimisnya semakin lebat nih” bujuk Bebel mengajakku pulang. Sementara di sebelahku Mimi asik bersandar memandang pada ombak yang berkecamuk di lautan.
            “Bentar lagi deh, bel. Kita masih pengen menikmati laut” jawabku diikuti anggukan Mimi.
            “Di kos, teman-teman pasti udah siap-siap ya? Loe nggak ikutan, dek. Loe kan ngefans baget sama  Sheila on 7?”
            Aku mengangguk lesu menanggapi pertanyaan Mimi itu. Wajahku berubah mendung—seperti suasana pantai yang kami nikmati saat itu.
            “Nggak apa-apa, deh. Gue nggak punya duit” jawabku lesu. Mimi dan Bebel menatapku iba.
Memang, pada hari H konser idolaku itu, aku mendadak bokek. Membuatku mengurungkan niat untuk melihat sang Idola. Meski sebenarnya kalau boleh jujur, aku sangat kecewa sekali. Namun, aku berusaha menahan air mata yang sedari tadi ingin meledak. Dadaku sesak menahan kesedihan. Untunglah ada Mimi dan Bebel yang kebetulan hari itu juga sedang ingin menyepi. Jadilah hari itu kami mengungsikan diri ke tepi pantai—jauh dari teman-teman yang sedang bersemangatnya untuk menonton konser.
            Pukul 17.00, hujan mulai turun satu persatu—memaksa kami beranjak dari tepian pantai.
            “Kita pulang sekarang, ya”
            Kami pun akhirnya pulang, berlarian dibawah hujan.

*****

            Aku, Bebel dan Mimi sampai di rumah tepat waktu, di saat semua teman-teman sedang berkumpul di ruang tamu, memberi semangat pada teman-teman lainnya yang akan berangkat ke LANUD Tabing Padang—tempat diadakannya konser.
Aku tergungu dibalik pintu kamarku. Mengintip dan menatap hampa pada Rona, Rita dan Enli yang sudah bersiap-siap. Dari seberang jalan, Arif dan Adhi anak kos depan juga ikut bergabung.
            Perasaanku saat itu jelas bisa dibayangkan sedihnya. Ini adalah kesempatan yang langka bagiku—bertemu sang idola. Bertahun-tahun aku mengkhayalkan kesempatan ini. Demikian juga beberapa minggu belakang. Hari ini adalah hari yang sangat kunanti-nati. Dan kini, aku malah melewatkannya begitu saja.
            “Dedek, loe beneran nggak mau ikut? Rugi lho nggak ngelihat senyuman Eross malam ini?” Rona mulai memanas-manasiku. Aku tersenyum kecut menanggapinya. Berusaha biasa dengan itu semua.
            “Gue nggak apa-apa. Udah loe aja yang pergi. Ntar sampein salam gue buat dia” jawabku berbohong.
            “Loe yakin?” lagi-lagi mereka meyakinkanku. Aku membisu, kemudian mengangguk ragu-ragu. Semua teman-teman kos yang saat itu sedang berkumpul di ruang tamu menatapku iba, meragukan keputusanku.
            “Ya udah” ujar Rona yang kemudian menuruni tangga kos—bergabung dengan Arif, Andhi, Rita dan Enli yang sudah menunggu.
            Detik kemudian, air mata yang seharian ini sudah kutahan-tahan, akhirnya jatuh juga. Aku terisak pelan, menyembunyikan wajah dibalik gorden jendela—membuat teman-teman spontan tertawa.
            Rita dan Rona melihat itu, langsung kembali ke atas. Keduanya menarik dan merangkulku erat.
            “Gue bilang juga apa? Loe pasti bakal nyesel. Udah. Jangan nangis lagi. Nih duit buat beli tiket. Sekarang loe pake sepatu dan kita berangkat” ujarnya sambil mengetuk dahiku pelan. Selembar dua puluh ribuan kini sudah berada dalam genggamanku. Aku melongo—menatap tak percaya pada mereka.
            “Buruan” ujar mereka lagi. Aku tersenyum dan mengangguk mantap. Dengan sedikit gemetaran karena semangat, aku bergegas memakai sepatu yang dari kemarin sudah kupersiapkan di depan pintu.
“Semangat ya, dek. Sampaikan salam gue buat Duta, Sakti, Anton, Eross dan juga Adam” ujar teman-teman kos memberi semangat.
            Aku tersenyum sambil mengangguk mantap. Rasa bahagia dan haru bercampur menjadi satu hingga menghasilkan genangan air di mataku.
            “Loe nangis lagi?” tanya Rita melihat butirannya jatuh di pipiku.
            Aku tertawa dan menggeleng cepat sembari mengusap buliran itu.
            “Gue cuma gemetar saking bahagianya” jawabku diikuti tawa mereka semua.
            Sungguh, aku tidak bisa melupakan saat-saat itu. Saat dimana semua terasa dekat. Ya teman-teman, ya mimpi-mimpiku.
            Konyol memang jika menganggap kebetulan kecil ini sebagai keajaiban. Tapi nyatanya aku percaya, bahwa ketika kamu mencintai impianmu dengan sungguh-sungguh, keajaiban itu akan datang dengan sendirinya—meskipun dengan cara sederhana dan tak terduga.
            Langit malam itu terlihat terang, meski bau tanah sehabis hujan masih terasa menusuk. Aku melayangkan pandangan ke luar jendela, menatap pepohonan dan lampu-lampu jalanan yang berlari ke arah berlawanan. Sebuah senyum menguntai di bibirku.
            Rasanya sudah lama tidak menikmati langit malam di luar rumah. Menyaksikan dinginnya yang menggigit hingga bergemerutuk di gigi. Ya, sudah lama sekali semenjak aku meninggalkan dunia “alam” yang penuh tantangan.
            “Gimana perasaan loe, dek?” bisik Rona di sampingku.
            Tanpa menoleh, aku menjawabnya. “Wonderful”
Gadis itu tertawa dan merangkulkan sebelah tangannya padaku.
Sembari mengikuti lagu-lagu Sheila on 7 yang diputar sang supir, kami berceloteh ria mengkhayalkan pertemua indah dengan sang idola.
            Mungkin aku salah. Bukan pertemuannya sebenarnya yang membuatku sangat bahagia, melainkan perjuangannya. Betapa sulitnya memperjuangkan untuk memiliki waktu seindah ini. Apalagi bersama dengan orang-orang yang kita cintai—yaitu sahabat. Anugerah terindah yang pernah kumiliki.
            Sayup-sayup aku mendengar intro pembuka dari hits lawas milik sang idola dari tape angkot yang kami tumpangi. Seperti tidak ingin ketinggalan, berebutan kami menyenandungkan lagu itu dengan kompak.

Saat kau disisiku
Kembali dunia ceria
Tegaskan bahwa kamu
Anugerah terindah yang pernah kumiliki



Terimakasih utk teman2 yg ada dlm cerita ini. Luv u all...
(Kos2an B'yuss no. 7)

-----------------------------------------


Kisah ini benar2 true story. Malam itu saya bermimpi ketemu Sheila on 7, paginya saya jadi gila SO7, sorenya dapat kabar bahwa mimpi itu bakal menjadi nyata. Wah, tak terkira banget senangnya. Hehe..

Dan, belum lama ini saya sempat bergumam sendiri, "Kapan ya, dengar lagu baru SO7 lagi?"  Sim salabin....mimpi itu jadi nyata lagi. 21 Februari 2011 kemarin, S07 merilis album terbaru "BERLAYAR".

Makanya saya memposting ulang, tulisan ini. Tulisan ini saya buat akhir November lalu. Merupakan rangkaian salah satu rangkaian cerita yang ada dalam Novel Pribadi saya, berjudul "November Rain (unforgetable moment)". 

Meski dibilang PRIBADI, beberapa cerita pernah juga saya publikasikan untuk dinikmati teman-teman. Tapi tidak keseluruhannya. Next time maybe. 

So, beruntunglah anda yang sempat membaca tulisan ini. ^_^

Happy reading, guys..

08 Desember 2010

Untitled


"Loe nggak lihat koran?"
"Ngapain?"
"Lihat hasilnya"
"Ha-ha. Nggak usah repot-repot. Gue udah tahu hasilnya kok"
"Hopeless banget ya?"

Aku menatapnya lurus. Seolah tersadar dengan pertanyaannya. Hopeless? Apa benar, segitu putus asanya aku hingga mengabaikan semua kemungkinan yang ada.

"Gue tahu bagaimana beratnya perjuangan loe, bagaimana sulitnya kemungkinan untuk mengharapkannya. Tapi setidaknya loe bisa menghargai diri loe sendiri dalam memperjuangkannya"

Aku mengangguk lesu. Entah sudah berapa ribuan kata yang diucapkannya untuk mengingatkanku. Aku tidak pernah lupa namun tidak pula menanggapinya. Mungkin benar, aku sudah hampir putus asa. Harapan itu rasanya sudah tanpa nama. Melangkah pun aku tidak tahu akan kemana. Aku hanya ingin terus berjalan meski kehilangan kompas. Siapa tahu, nanti di jalan menemukan sesuatu sebagai panduku. Entahlah. Aku hanya ingin beranjak dari sini--meski selangkah lebih jauh.

"Percayalah, wit. Keajaiban itu pasti ada"

Ya. Aku pun berpikiran yang sama--dulunya. Sekarang? Entahlah. Aku sudah terlalu lelah berharap, terlalu penat menunggu, terlalu sesak menangis diam-diam saat tiba-tiba terjaga dari tidurku. Semua seolah berputar-putar saja disekitarku--menertawakanku.

Lama melangkah, aku tidak menemukan kosa kata baru untuk menggambarkan perjalananku. Hanya GAGAL dan LELAH. Lalu ketika orang-orang mempertanyakannya, aku hanya mampu menjawab ENTAHLAH.

Jadi, aku pun membiarkan semua berjalan seperti seharusnya. Akan kuikuti mau Tuhan untukku--meski harapan itu tanpa nama.


---

Source Gambar  disini

02 November 2010

November Rain


Aku menemukan kotak kenangan,
Sedikit berdebu dimakan usia,
Tak ada yang berubah ketika pertama kali aku menyimpannya,
Ia akan tetap sama meski waktu tlah jauh beranjak pergi...
(Wieke Beliana, 281010)


kita adalah perjalanan panjang yg bertutur pada waktu. 
kelak, ketika senja mulai memudar, 
kita akan memungut jejaknya diangkasa.
diujungnya kan kita lihat jingga tersenyum,
sesaat sebelum langit menua...
(Desfirawita, 011110)

----

Sudah November lagi, temans. Langit sudah berubah warna, angin dan dedaunan berebut kisah bersamaku. Hujan di bulan November itu masih terekam jelas dibenakku. Hujan yang menyisakan luka sekaligus cerita  berharga. 

Sudah November lagi, temans. Dan aku merindukan kalian.  


--Untuk mereka yang pernah tertawa dan menangis bersamaku--