Tampilkan postingan dengan label Things I hate. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Things I hate. Tampilkan semua postingan

08 Maret 2012

Hey, Kamu! Jangan ambil karya-karyaku!

...dan seseorang mulai lagi memplagiat tulisan-tulisan saya. Masih orang yang sama--yang dulu pernah saya kasih peringatan keras. Herannya, postingannya mulai lagi dari awal, seolah-olah baru saja membuat blog. Huh, memangnya dia pikir saya nggak tahu apa! Kalo dulu dia menggabungkan tulisan saya dan tulisan teman blog lainnya, kali ini dia mengambil karya saya dari 2 blog yang saya punya. Dear De dan It's Just Tears and Rain. Damn! Masih banyak kah yang seperti ini?





12 Juli 2011

Di Surau itu saya belajar

Mushala. Mesjid. Untuk apa dibangun?

Adakah orang yang tega mencuri di tempat seperti itu?
Belakangan saya mulai mengalami hal-hal menyebalkan ketika berniat untuk sholat di Mushala atau mesjid. Bukan karena tempatnya, tapi karena pengurus yang nggak tahu bagaimana "mengurus". 

Bagaimana tidak? Belum aja 1 jam kelar sholat Zuhur, pintu mesjid/mushala sudah tertutup rapat (baru menjelang sholat Ashar dibuka kembali begitu seterusnya). Nggak ada jalan lain untuk masuk ke dalam untuk sholat bahkan sekedar mengambil air untuk wudhu. 

Saya heran? Kenapa bisa seperti itu? Bahkan saking menyebalkannya, saya sampai menitikkan air mata. Miris melihat hal-hal yang seharusnya tidak terjadi malah sering terjadi.

Nggak jarang juga, bahkan saya harus mengantri di depan pintu tempat wudhu laki-laki karena yang perempuan (lagi-lagi) dikunci rapat. Sekali lagi saya heran, untuk apa? Memangnya ada yang mencuri di tempat wudhu?

Saya kerap mengalami hal seperti ini, nggak hanya dengan Mushala di dekat rumah atau tempat kerja, tapi dalam perjalanan saya pun juga mendapatinya. Tak jarang bahkan sangat sering, hal seperti inilah yang membuat orang-orang jadi mudah meninggalkan sholat, meski ini bukan alasan tapi jujur saja memang kenyataan hal seperti ini bisa menjadi pemicu *pengalaman pribadi* :p

Mesjid/Mushala, sekarang bukan lagi tempat persinggahan bagi orang-orang yang membutuhkan tidak hanya untuk menunaikan ibadah tapi juga untuk melepas penat sejenak.

Saya lantas teringat dengan Surau kecil yang ada di samping rumah saya (sekarang sudah runtuh). Dulu, para penjual ikan keliling sering singgah disana untuk sholat dan istirahat sejenak. Meski hanya surau kecil, dulunya merupakan tempat anak-anak belajar mengaji yang diajar oleh nenek buyut saya. 

Seiring waktu, surau itu mengalami pelapukan. Satu persatu tiang dan atapnya mulai rusak. Meski demikian, tempat itu masih kerap disinggahi oleh penjual ikan keliling. Karena meski itu dulunya surau milik pribadi (karena didirikan oleh keluarga saya), tapi tempat itu selalu terbuka untuk siapa saja. Kami tidak pernah menutup rapat pintunya apalagi mengunci. Meski hanya ada tikar pandan kecil tergantung disudut ruangan, tapi selalu bisa menjadi alas ketika kami sujud. 

Surau kecil itu selalu membuat saya damai. Membuat saya bahagia ketika melihat orang-orang singgah dan bersujud disana. Setidaknya, kebiasaan orang-orang itu mengajarkan saya satu hal, bahwa dalam hidup, kita butuh beberapa saat untuk melepas lelah. Butuh sebuah tempat untuk menyandarkan kepenatan hati, yaitu kepada Allah SWT.

Sekarang, surau itu tidak ada lagi. Dan saya tidak pernah lagi melihat orang-orang dalam perjalanan singgah disana pun penjual ikan keliling itu. 

Seiring waktu, semua melapuk. Begitu juga dengan pandangan orang-orang tentang arti pentingnya sebuah rumah ibadah. 

06 Juni 2011

Copas Again

Hahaha... *ketawa duluan sebelum nulis*
Gw bukannya ikut-ikutan latah nulis tentang plagiator yang belakangan mendapat perhatian khusus dari teman-teman blogger, terutama  yang tulisan-tulisannya kena copypaste. Kayak Mbak Enno, Mbak Iwied, Mbak Gita dll. 

Dulunya karya gw juga pernah dicopypaste, semuanya lagi. Dari Header ampe isi. Gila. Saat itu gw dengan kerasnya memprotes sampai jor-joran di FB buat memperingatkan beberapa teman blogger yang karyanya juga dibajak. Kalo nggak salah, Mbak Iwied waktu itu juga termasuk. Sayangnya si pengecut itu malah kabooor and menghilang bersama blog kompilasi itu. 

Setelah kasus itu, gw pikir karya gw bakal aman. Secara belakangan gw jg jarang postingan apalagi BW. Tapi setelah melihat hal tersebut kembali mulai meresahkan warga *cieh kayak ketua RT lagi ngomong*, gw pun mulai mencari-cari, siapa tahu karya gw yang "luar biasa" *halah* ini juga diminati si plagiator. 

Dan ternyata.... BENAR. Karya gw pun sudah nangkring dengan manis disebuah blog. Bahkan, deskripsi blognya pun ngambil punya gw yang lama. Hadooooh....gw jadi nggak bisa berkata-kata saking "terharunya". Wish gw saat ulang tahun pun juga dicopypaste. 

Olala...ternyata gw sempat negor dia Tanggal 19 September 2010. Tapi di 25 Desember 2010 and 20 Januari 2011 dia ngambil lagi "TANPA IJIN". Walaaaah...ini anak nantangin kayaknya ya! >_<

Tapi gw nggak tahu harus bilang apa lagi sama orang kayak gini selain, "Belajarlah Menghargai Karya dan Kreativitas Orang Lain".

Yach, hanya himbauan-himbauan seperti itulah yang bisa gw lakukan kini. 

And sebagai seorang manusia yang tak luput dari khilaf dan dosa, tolong ingatkan juga jika sekiranya tanpa sengaja gw melakukan hal yang sama. Gw ini penulis awam, masih ingin belajar lebih banyak. Dan bukankah kita disini sama-sama belajar? 

So, Dear Plagiator, mari kita sama-sama belajar.

^_^ 

*****

Nah inilah dia beberapa karya2 gw yang dicopypaste. 


 dan ini yang gw punya :


Bagi siapa yang sering berkunjung ke blog gw, pasti tahu kesamaan Deskripsi blog dia dengan gw beberapa waktu yang lalu. Hanya saja sekarang sudah gw ganti. 

23 Agustus 2010

Dear Follower

Terimakasih karena Anda telah sudi berkunjung ke blog saya dan membaca tulisan-tulisan saya yang biasa ini. Terimakasih juga karena Anda telah mengikuti blog saya dan memberikan comment-commet yang mungkin terbaik menurut Anda. Sungguh, saya sangat berterimakasih dengan penghargaan kecil itu. 

Tapi mohon maaf, setelah saya berkunjung ke blog Anda, membaca dan melihat gambar profil Anda yang tidak senonoh itu, mohon maaf, saya terpaksa memblokir Anda untuk mengikuti blog ini. Dan link-link yang Anda tuliskan di kotak comment dengan sangat terpaksa juga saya hapus.

Bukankah setiap orang punya hak? Anda berhak membuat blog dengan content-content yang tidak senonoh, dan saya juga berhak untuk tidak mengizinkan Anda melinkkannya pada blog saya. Jadi, saya rasa tidak ada yang perlu dipertanyakan lagi-kan?

Sekali lagi saya mohon maaf dengan semua ini. Saya harap Anda mengerti dengan keputusan saya. Terakhir, saya mengucapkan terimakasih atas kunjungan-kunjungan Anda sebelumnya.


Salam,

wiwit

24 Juni 2010

Penjahat Kata

Jangan bilang aku kafir, hanya karena tidak menulis tentang Tuhanku. Jangan kau bilang aku manusia tak beriman, hanya karena tidak menyertakan nama Tuhan dalam setiap tulisanku.

Hey..jangan sekali-kali kau bilang demikian. Aku ini manusia beragama. Punya iman dan punya Tuhan yang selalu dan akan selalu ku Imani.

Atas dasar apa kau menuduhku demikian. Kau bahkan tidak mengenalku sama sekali. Setiap orang mempunyai dua sisi yang berbeda--kau, juga aku. 

Aku ini hanya manusia biasa yang dikelilingi dengan kealpaan. Manusia yang kadang dihanyutkan dengan cinta. Tapi bukan berarti kau berhak menyimpulkan bahwa aku tidak mencintai Tuhanku. Kau tidak tahu hatiku--dan akupun tidak ingin memberi tahumu. Imanku ada dihatiku, ditempat dimana hanya aku dan Tuhanku saja yang mengetahui.

Aku ini manusia, yang mencintai cinta, mencintai kehidupan yang Tuhan berikan untukku. Aku ini manusia yang bahkan bisa terlupa. Tuhan menciptakan ku hidup untuk berbuat baik dengan sesamanya, bukan memusuhi sesamanya. 

Sekali lagi ku tegaskan pada mu, aku ini hanya manusia biasa, bukan malaikat. 

Lantas kau ini siapa? Kau bilang manusia Tuhan yang paling suci. Lalu kenapa kau menyulut api permusuhan denganku, manusia yang kau anggap kotor ini. Bukankah kesucianmu itu bisa memaafkan kekhilafanku? Lantas kenapa kau membiarkan api-api berlemparan dijalanan, anak-anak dibantai, istri-istri menjadi janda, hanya karena kau bilang kau manusia yang paling suci. 

Ah, aku bingung dengan dirimu. Rasanya tidak ada satu agama pun yang mengajarkan umatnya untuk berbuat kejahatan. Lalu kenapa kau menjahatiku dengan kata-kata?

Kau ini siapa?


Ps. Ini hanya sajak biasa. Jangan sampai menyulut emosi juga.

13 Mei 2010

Mungkin Harus Begini

Mereka menatap ku dari seberang ruangan, tajam-menunggu jawaban yang akan ku ucapkan. Aku membisu di kursi pesakitan, tempat mereka bisa memandang ku dengan leluasa. Diam. Masih belum ada jawaban yang ku berikan. Atau memberikan alasan yang tepat.

"Bagaimana? Kau setuju?" tanya seseorang dari mereka. Aku melihat kesungguhan di mata itu, tidak lagi sekedar gertakan. Ku pikir memang, waktu ku sudah tidak banyak lagi. Mereka sudah memberikan ku kesempatan beberapa tahun. Nyatanya aku belum mengenalkan seseorang pada mereka. Barangkali ini lah waktunya untuk menyerah, memasrahkan nasib ku pada keadaan yang tak berpihak.

"Kalau itu yang terbaik, apa boleh buat" jawab ku pasrah. Terdengar beberapa dari mereka menarik nafas lega. Sedangkan aku, tarikannya terdengar lelah dan pasrah. 

"Apa kau yakin?"
"Tidak ada alasan untuk menolaknyakan? Toh, kalian sudah memutuskan. Jadi apa yang akan ku yakinkan lagi?' 

Jawaban ku mungkin terdengar marah, ya aku memang marah. Aku marah pada diri sendiri, pada nasib, pada semua hal yang tak bisa ku kendalikan. Aku marah hingga tak sanggup menolong diri ku sendiri.

Aku beranjak dari kursi pesakitan itu. Berlalu dari hadapan mereka, dari gumanan-gumanan yang membuat ku jengkel. Barangkali memang harus seperti ini dan aku harus menerimanya...

****

22 April 2010

Losers

Beberapa saat yang lalu aku mampir ke blog seorang teman. Baca-baca. Ceritanya menarik, mengingatkan ku akan konyolnya masa lalu. Tapi pas aku baca comment-commentnya. Aku menjadi shock sendiri. Lucu aja, ternyata masih ada pengecut yang beraninya ngomong belakang, alias tanpa indentitas. 

Heran. Nggak tahu apa, masalah dia sama teman ku itu, tapi sepertinya tu orang emang sinis banget sama teman ku itu. Antara sendih dan juga marah. Aku kok sepertinya pengen ngejambak rambutnya ya. *Tapi dia punya nggak ya?* Hehe... kesal aja sama orang kayak gitu. Mending jadi secret admirer, daripada jadi Teoris nggak jelas.

Trus ada juga kritikan yang bilang, teman aku tu nggak boleh nyontek gaya nulis orang lain. Mending jadi diri sendiri aja deh. Hmm...setuju dan nggak setuju juga sih sama kritikannya. Menurut ku, selama dia nyaman dengan nulis kayak gitu, kenapa nggak? Lagian, ada saatnya ketika kita sering membaca sebuah karya orang lain, tanpa sadar, kita akan terbawa dengan gaya orang itu. Bukan bermaksud mencontek atau plagiat. Dan juga, bukankah perubahan itu penting?

Entahlah apa yang dipikirkan orang itu saat ngomong. Tapi memang, kritikan tetaplah harus dihargai, selama itu membangun. 

Haha...aku salut. Ternyata, teman ku itu orang yang sabar juga. Dia tak membalas dengan emosi, hanya ucapan terimakasih. Ah, betapa berbedanya setiap orang itu.

---

Terinspirasi dari kamu, Sari. Hehe...

11 Januari 2010

Satu Malam 15 Tahun Yang Lalu

Satu malam 15 tahun yang lalu.
Aku meringkik dibawah kolong tempat tidur ku sendiri, di dalam gelap, gemetaran dan ketakutan. Aku diam, membekap mulut ku sendiri untuk tak bersuara. Aku menahan nafas ku berharap ia tak mendengar. Satu-satu nya yang bisa ku dengar waktu itu hanyalah degupan jantung ku sendiri.

Aku tahu, pria itu tidak mencari ku. Ia hanya "mengamankan" ibu agar tak mengganggu tidurnya. Satu-satunya cara, dengan menyakiti ibu ku. Ibu kesakitan. Jeritannya terasa menyayat-nyayat jantung ku. Aku menangis dalam gelap itu. Luka rasanya.

Ingin aku melindungi ibu ku, mengejar pria itu dan memukulnya dengan apapun yang bisa ku dapat. Aku ingin ia berhenti menyakiti ibu. Tapi waktu itu aku masih kecil dan ketakutan masih menghantui ku.

Yang ku lakukan hanya diam dalam gelap. Terisak tertahan. Lalu menanamkan dendam di hati ku.

Aku benci pria itu, aku benci mereka yang telah menyakiti ibu ku.

***

Satu Malam 15 Tahun yang lalu
Aku berpelukan bersama kakak, dalam gelap ketakutan dan saling bertangisan. Pria itu mengejar papa ku dan ingin membunuhnya. Setelah tak berhasil, ia malah menyakiti ibu ku.

Aku menangis dalam pelukan kakak. Satu-satunya pelukan yang pernah ku dapat darinya. Kami hanya diam, tanpa tahu bahwa hati kami sama-sama terluka. Hati kami menaruh dendam pada orang yang sama.

Aku benci pria itu, aku benci padanya yang telah membuat papa pergi. 

***

Satu malam 15 tahun yang lalu
Waktu itu aku denci malam hari. Aku selalu berharap tak akan pernah ada malam. Aku hanya ingin pagi, dimana aku bisa menghabiskan waktu ku hanya di sekolah. Kenyataan, malam selalu datang. Dan aku selalu dihantui ketakukan karnanya.

Setiap malam, aku selalu berdoa agar hujan turun. Lebat. Biar aku bisa tidur di kasur ku sendiri, bukan di bawah kolong tempat tidur. Biar aku bisa tidur nyenyak tanpa terbangun oleh jeritan kesakitan ibu. Atau ketika musim ujian tiba, aku bisa konsentrasi belajar. Selama aku memakai seragam merah putih itu, aku merasa tak pernah belajar. Beruntung aku dianugerahi otak yang cemerlang. Jadi, kakak tak perlu malu menjemput rafor ku ke sekolah.

Setiap malam, aku selalu berharap agar ibu bisa tenang. Agar aku tak merasa sesak lagi. Jujur, aku lelah menyembunyikan tangis ini. Sangat lelah, hingga pernah menyalahkan Tuhan. Rasanya sungguh tak adil jika ini terjadi pada ku.

Aku pernah marah pada Tuhan, hingga tak mau sholat bertahun-tahun, tak mau membaca Al-Quran, sampai-sampai aku menjadi buta akan huruf Arab. Tapi nyatanya, setiap malam aku terus meminta hujan pada-Nya.

Sungguh, aku benci pada malam-malam 15 tahun yang lalu. Dan selalu berharap malam-malam itu tak akan pernah terjadi lagi. Aku hanya bisa berharap, kenyataannya malam-malam itu tak pernah enyah dari kehidupan ku. Ia terus mengantui ku bahkan sampai 15 tahun kemudian.

***


--True story : di suatu malam--

17 November 2009

Sinis

Enak ya jadi penguasa
Bisa dengan mudah menyalahkan hamba yang tak berdaya
Bisa dengan leluasa memberi harta lalu meminta kembali tanpa merasa berdosa
Bisa dengan mudah melempar umpan kemudia berlalu
Tanpa peduli sang peminta lelah menunggu jawaban

Enak banget ya jadi penguasa
Lalu bagaimana dengan kita--sang peminta
Apa enaknya jadi kita
Hanya bisa mengulum senyum untuk sebuah penghinaan
Untuk sebuah tangis yang tak sempat tertumpahkan

Oh, kata mereka kita bisa meminta
Kita bisa menikmati pemberian sang penguasa
Lalu kita bisa tertawa melihat sang pengusa melempar koin keberuntungannya
Begitu kata mereka--kaki tangan sang penguasa
Apa enaknya coba
Toh yang kita dapatkan cuma sisi hitamnya
Sisi yang bagi mereka pantas untuk kita
Bagi sang peminta yang buat mereka hanya sebagai sampah

Uh, enak banget ya jadi penguasa
Andai suatu saat roda berputar sebaliknya
Apa mereka masih bisa merasakan enaknya jadi penguasa?




--Puisi yang tercipta tanpa sengaja. Awalnya nggak mau bikin puisi yang sinis kayak gini, tapi ternyata kata-kata dan jemari tak bisa dihentikan--