Tampilkan postingan dengan label Wishing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wishing. Tampilkan semua postingan

19 April 2014

Anak Indonesia Tidak Bodoh

 
 


”Tidak ada anak yang bodoh, yang ada hanya anak yang tidak mendapat kesempatan belajar dari guru yang baik dan metode yang benar.”
--Prof.Yohanes Surya


Tahu Yohanes Surya?

Di dunia yang serba canggih dan full information sekarang ini siapa yang tidak kenal dengan Beliau. Namanya bisa dicari dengan mudah di google, profil berikut prestasi-prestasinya akan tersedia dengan segera. 

Prof. Yohanes Surya PhD adalah seorang fisikawan Indonesia yang telah melahirkan segudang prestasi ditingkat Internasional. Cum laude dari Collage of William and Mary, Virginia, Amerika Serikat ini juga dikenal sebagai pembimbing Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI). 

Di bawah bimbingannya, anak-anak Indonesia berkali-kali merebut gelar juara berbagai olimpiade fisika dan sains dunia yang sangat bergengsi. 54 medali emas, 33 medali perak dan 43 medali perunggu telah diraih pelajar Indonesia di dalam berbagai lomba olimpiade tingkat internasional. Bahkan pada tahun 2006, Pelajar Indonesia menjadi juara dunia, mengalahkan 86 negara. 

Prestasi-prestasi dan kegeniusannnya tentu tidak diragukan lagi oleh kita semua. Berbagai penghargaan nasional maupun Internasional menjadi pembuktian akan kehebatannya. Namun ada hal menarik lainnya yang menjadi nilai tambahnya sebagai seseorang yang genius. Yaitu dedikasinya untuk memajukan anak-anak Indonesia khususnya bagi mereka yang berada di daerah tertinggal. Tak terkecuali Papua.
"Carikan saya anak yang paling bodoh dari Papua, akan saya latih."
Bagi saya, pernyataan itu sangatlah mustahil. Bagaimana melatih seorang anak yang paling bodoh dari daerah tertinggal seperti Papua? 

Namun bagi beliau hal tersebut tidaklah mustahil. Pernyataan tersebut ia buktikan dengan menjadikan anak kelas 2 SD dari Papua yang sudah tinggal kelas 4 kali, jadi juara matematika tingkat nasional dan juara membuat robot. Serta banyak lagi anak-anak Papua yang sudah berhasil bicara dikancah dunia di bawah bimbingannya, salah satunya bahkan pernah meraih Nobel Fisika. Briliant! 

Bahkan di daerah yang serba terbatas seperti Papua tidak menyurutkan keyakinan beliau bahwa pada dasarnya semua anak Indonesia itu cerdas jika diberikan kesempatan dan dilatih dengan baik.

Sosok dan pemikiran beliau yang maju, optimis dan berdedikasi mengingatkan saya pada seorang Soekarno. Yup, Bapak Proklamator Indonesia sekaligus presiden pertama Indonesia.

Semangat beliau yang berapi-api menjadi inspirasi tersendiri bagi saya. 
"Berikan aku 10 pemuda maka akan kuguncang dunia."
Itu adalah kalimat paling membakar dari seorang Soekarno. Optimis dan penuh keyakinan.

Saya mungkin bukan seseorang yang diperuntukkan Tuhan sebagai pendidik apalagi motivator tapi entah kenapa soal pendidikan, memberi semangat dan mencerdaskan orang lain merupakan impian terbesar saya. Mungkin karena dulu pernah bercita-cita sebagai guru kali ya. hehe... atau barangkali cita-cita itu masih bersemayam dalam jiwa saya. Entahlah. Tapi suatu hari nanti saya akan mendirikan sebuah perpustakan untuk mereka yang haus akan informasi dan ilmu pengetahuan. Sekaligus membuat gerakan "gemar membaca" dan mengembalikan popularitas perpustakaan dan taman bacaan sebagai tempat favorit menimba ilmu. Semoga. Aamiin...

Prof. Yohanes Surya dan Ir. Soekarno, hanyalah segelintir orang yang mencatatkan namanya sebagai tokoh inspirator dan mendedikasikan dirinya untuk Indonesia, tapi saya yakin diluar sana masih banyak tokoh-tokoh lainnya yang tanpa pamrih berjuang untuk Indonesia. Pahlawan tanpa tanda jasa. 

Suatu hari, jadi apapun kita semua, seberat apapun tugas generasi muda ke depan dan sepelik apapun masalah yang terjadi di Indonesia, kita semua harus selalu percaya bahwa masih dan akan selalu ada orang-orang yang menyanyikan lagu
"Padamu negeri, kami berjanji.
Padamu negeri, kami berbakti.
Padamu negeri, kami mengabdi.
Bagimu negeri, jiwa raga kami"
...dari hatinya.

Semoga.

"Mendidik adalah kewajiban setiap orang terdidik."
--Anis Baswedan

"Kita tidak bodoh, tapi dibodohkan. Kita tidak miskin, tapi dimiskinkan, oleh sebuah sistem.
--Ir. Soekarno


*****


Sumber bacaan :






17 April 2014

Suatu Hari, Pa.



"Kamu sudah terlalu banyak memikirkan kami, nak, kapan kau akan memikirkan dirimu sendiri? Menikahlah, nak. Temukan bahagiamu di sana."

"Apa kau punya seseorang? Kapan kau akan mengajaknya ke rumah? Kenalkan dia kepada kami."

*****

Suatu hari, Pa. Akan ada seseorang yang datang menemuimu. Duduk dengan gugup di ruang tamu--dihadapanmu. Kau akan menyambutnya dengan curiga, lalu mengamatinya lamat-lamat. Kau akan bertanya banyak hal seperti menginterogasi. Kau akan membuat nyalinya menciut. Tapi kau tahu, Pa? Dia berbeda. Dia tidak akan pergi sebelum mengatakan apa yang ingin ia katakan. Dengar, Pa. Dengarkan dulu ia berkata.

Sir, I'm a bit nervous
'Bout being here today
Still not real sure what I'm going to say
So bare with me please
If I take up too much of your time,
See in this box is a ring for your oldest
She's my everything and all that I know is
It would be such a relief if I knew that we were on the same side
Cause very soon I'm hoping that I...

Can marry your daughter
And make her my wife
I want her to be the only girl that I love for the rest of my life
And give her the best of me 'til the day that I die, yeah
I'm gonna marry your princess
And make her my queen
She'll be the most beautiful bride that I've ever seen

Suatu hari, Pa. Akan ada seseorang yang datang menemuimu. Dengan perasaan tulusnya, berani meminta putri bungsumu ini untuk ikut bersamanya--menjadi pendamping hidupnya selamanya. Aku ada di balik pintu kamar, Pa. Mengintip sedikit--mendengarkan apa yang kalian perbincangkan dengan perasaan berdebar-debar. Kau tahu, Pa, aku menangis. Terharu. Bahagia.

Dia bukanlah seseorang yang menjadi tokoh utama dalam semua cerita yang kutulis. Dia bukanlah seseorang yang membuat malam insomniaku menjadi menyenangkan. Dia juga bukan seseorang yang membuat kupu-kupu berterbangan di perutku. Dia juga tidak pernah singgah dalam pikiranku selama ini. Aku tahu dia ada, tapi tak pernah menyadarinya. Aku tak pernah menyebut namanya dalam doa-doaku, Pa. Tapi mungkin dia adalah seseorang yang selalu menyebut namaku dalam doa dan sujudnya. Entahlah. Saat itu aku hanya percaya, dia adalah seseorang yang diutus Tuhan untuk membimbingku ke surga.

Bagaimana denganmu, Pa? Apa kau sama terharunya denganku? Apa kau bahagia? Dia orang pertama yang datang, Pa. Aku berharap dia yang terakhir.

She's been here every step
Since the day that we met
So don't you ever worry about me ever treating her bad
I've got most of my vows done so far 
And till death do us part
There's no doubt in my mind
It's time
I'm ready to start
I swear to you with all of my heart...

Tatap matanya, Pa. Dia tidak menggombal. Aku yakin kau tahu itu.

The first time I saw her
I swear I knew that I'd say I do  

Suatu hari, Pa. Akan ada seseorang yang datang menemuimu. Dengan kesederhanaanya, ia memperlihatkan kesungguhannya memilihku.

Can marry your daughter, sir?

Dan saat itu datang, apa kau siap, Pa?

*****

"Menikahlah, nak. Kau sudah pantas untuk itu."

*****

Aku akan, Pa. Suatu hari....





PS: Lirik By. Brian Mc Knight - Marry Your Daughter


23 September 2012

Catatan Terakhir Tentang Hari Minggu




@Taplau, 17.45

Perjalananku selanjutnya berhenti di pinggir laut jalan samudera. Taplau kami biasa menyebutnya. Tempat kita menghabiskan sore pada masa lalu. Kita. Ya, kita. Aku dan kenanganku.

Matahari berwarna orange, lebih tepatnya kuning keemasan ya? Ombak tidak begitu besar, namun deburannya cukup menggetarkan batinku.



Tepian itu penuh dengan sampah. Tidak ada orang-orang bermain voli pantai seperti halnya di tepi pantai di Pariaman—kampung halamanku. Ah, abrasi mengikis daratan perlahan-lahan.  

Oh ya, aku terpaksa menulis dengan buku catatanku kini. Baterai laptopku sudah menunjukkan angka 5%. Sepertinya ia sudah tidak berenergi lagi untuk mengikuti perjalananku yang masih terus berlanjut. Terpaksa ia harus tinggal di dalam ransel pengap itu.

Kali ini aku tidak akan menulis panjang-panjang, hanya menggambarkan apa yang kulihat disekitarku.

Ada pria aneh duduk tak jauh dari sebelahku. Entah turis atau penduduk asli. Penampilannya seperti backpacker. Tapi dia bukan bule. Mungkin seorang petualang.


Aku memesan mie goreng dan sebotol teh dingin. Sambil terus menulis sesekali aku menggulung mie dan menyuapnya ke mulut. Hmmm…hari ini aku mengabaikan kolesterol yang menggila ditubuhku. Tidak apa-apa, kan Ibu dokter? Hari ini saja kok! 

Sunset kali ini tidak seperti biasanya. Aku tidak bisa menikmatinya tenggelam dibatas cakrawala. Awan kelabu menenggelamkannya terlebih dahulu. Langit seolah redup. Mungkin akan turun hujan malam nanti. Sebaiknya aku bergegas menelan mie gorengku. Lalu beranjak pulang.

Tidak ada golden sunset hari ini. 






Masih Tentang Minggu





@Museum Adityawarman, 14.43


Masih tentang hari minggu.
Setelah makan di warung nasi ampera yang kutak tahu namanya, akhirnya aku melanjutkan perjalananku—mencari tempat yang nyaman untuk menulis.

Sebelumnya aku sempat melintasi jalan Permindo yang orang bilang Malioboronya kota Padang. Aku tak tahu apa benar-benar mirip. Aku belum pernah ke sana, namun punya harapan besar untuk berkunjung kesana. Ya, itu impianku. Datang ke Jogjakarta.

Ada banyak keriuhan disini. Mulai dari penjual sepatu yang bersemangat membujuk para shopaholic, cekikikan muda-mudi yang asik nongkrong maupun berjalan kaki, dan musik-musik asik yang diputar oleh penjual kaset bajakan. Ganggam style dan lagu-lagu Noah sepertinya sedang menjadi hits.

Tiba-tiba terlintas di benakku tempat itu. Tempat yang belakangan sering ditinggalkan dan terlihat sepi. Dengan bersemangat, kulangkahkan kaki menuju tempat itu.



“Selamat datang di Musem Adityawarman! Silahkan mengisi buku tamu.”

Saat memasuki tempat itu seorang pemuda menyapaku dengan hangat. Dengan senyumnya yang ramah, ia mempersilahkanku mengisi buku tamu, meminta identitas serta saran untuk pengembangan museum ini.

“Mungkin promosinya lebih ditingkatkan lagi, Uda. Trus bikin even-even menarik yang bisa dinikmati pengunjung selain melihat-lihat koleksi.”

Selanjutnya akupun berkeliling. Sempat terharu, ternyata masih banyak minat orang-orang berkunjung ke sini--melihat-lihat peninggalan sejarah dan kebudayaan Minangkabau.



Aku sempat memotret beberapa koleksinya dan tugu-tugu simbol perjuangan masa lalu. Oh, aku baru tahu apa kepanjangan PADANG itu. Nanti deh, kuperlihatkan fotonya.


Ada beberapa pemuda bermain gitar di depanku. Serta beberapa pasang muda-mudi duduk tak jauh dari tempatku berada. Aku tidak merasa iri lagi dengan kesendirianku. Kata orang hidup itu untuk dinikmati, baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama. Jadi aku hanya melirik mereka sesekali sambil ikut bersenandung bersama.

Sebelum menulis lagi, kusempatkan mencek e-mail dan inbox facebookku. Dan ternyata banyak pemberitahuan. Baik itu sekedar permintaan pertemanan maupun komen-komen status. Mataku berhenti pada kalimat-kalimat yang dituliskan temanku dibawah cerita yang kupublish beberapa jam yang lalu. Satu persatu air mataku tumpah. Finally. Mendung itu akhirnya menjadi hujan. Ternyata langit masih menyimpan warna-warni pelangi yang sudah kulupa seperti apa bentuknya. Aku tersenyum. Untuk kesekian kalinya merasa lega. Beban dikepalaku terbang entah kemana.

“You’re never walk alone, de.”  




Hahaha…ada pesta di gereja dekat museum. Backsoundnya terdengar sampai ke sini. Mungkin pernikahan atau acara-acara lainnya yang aku tidak tahu. Yang kudengar banyak lagu-lagu batak dinyanyikan. Aku tak mengerti, yang kumengerti ada gelembung-gelembung bahagia di udara—menemani perjalananku.  

Masih ditemani petikan gitar pemuda diseberangku, aku membayangkan wajah-wajah teman lama. Anak-anak UKS yang dulu sering menghabiskan malam-malam bersamaku. Memetik gitar, memandang bintang-bintang dan makan ikan bakar bersama. Teringat juga dengan acara bakar-bakarnya yang berantakan karena salah satu dari kami kerasukan makhluk halus. Apa kabar kalian? Masihkan ingat momen-momen penuh kenangan itu? Rindu kalian sangat.



“Dek, bisa ambilkan fotonya?” 

Hahaha…aku baru saja meminta seseorang untuk memotretku. Still narsis. Look! Ada gadis-gadis mencoba berpose ala chibi-chibu. Nice. Dan itu, ada bapak narsis yang minta difotokan anaknya yang mungkin masih berusia 5 tahun. So funny. Dan mereka, pasangan serasi itu. “Ingat hari ini ya, beb.” Hahaha….ada bahagia dimana-mana.

Banyak kenangan yang berpendar di sini. Di sudut rumah adat itu, di taman, di sela-sela rangkiang, di dekat pelaminan, atau bersama penjual sate dan makanan lainnya. Di sini juga, di bawah pohon kelapa tempat aku dan ransel serta laptopku yang sedang menulis tentang kenangan.



Hari Mingguku kali ini luar biasa. Aku tidak pernah merasa sepuas ini setelah menulis. Sampai sesore ini langkahku tidak bisa dihentikan jemariku masih sama gesitnya dengan angkutan yang lalu lalang di jalanan sana. Aku bertemu banyak manusia. Berpasang-pasang kekasih, sekumpulan muda-mudi, penjaja makanan, pengemis, pengamen jalanan, para pencari kerja, shopaholic, pemburu momen dan sebagainya. 

Aku disini memperhatikan mereka satu persatu, mencoba mereka-reka isi kepalanya, menggambarkan apa yang ada di mimpinya atau sekedar membantu mereka mengekspresikan apa yang tak bisa dimengerti oleh orang lain.

Aku di sini melihat, mendengar dan merasakan bahwa ada banyak bahagia bertebaran di sekitarku—andai aku mau sedikit saja lebih dekat. Tidak ada yang benar-benar sendiri sebenarnya—andai aku mau mengakui. Dalam hidup terkadang kita mencari penyalahan sendiri atas apa yang tidak kita mengerti. Menyalahkan perasaan. Menyalahkan keadaan. Menyalahkan kesendirian.

Benarkan, tidak ada yang salah dalam ke-abnormalanku?  

….dan mungkin untuk itulah hari ini Tuhan menggerakkan langkah dan pikiranku—berkelana ketempat-tempat di mana aku bisa belajar dari hal-hal sederhana.



Lain kali aku akan berjalan tanpa terburu-buru. Aku akan lihat sekeliling. Barangkali ada yang bisa kupelajari darinya.

Hei, apa kabarmu senja? Masihkah kau menyimpan golden sunset untukku? Tunggu, aku akan mengabadikanmu disana.

“….teruslah berjalan, de.”







19 Juni 2012

Lelaki Berkaos Putih


Taken by
I think that possibly
Maybe I'm falling for you
Yes There's a chance that I've fallen quite hard over you
--Landon Pigg


....lelaki berkaos putih dengan topi bisbol di kepalanya itu sudah mencuri perhatianku sejak 5 menit yang lalu. Sedari tadi ia duduk di kursi itu dengan sebuah laptop di atas meja. Tidak beranjak. Tidak menoleh. Asik memijit-mijit tombol lappynya.

Apa yang dikerjakannya? Aku penasaran. 

Matanya tampak serius menatap layar monitor di depannya. Cool! Begitu para Abegeh bilang kalo melihat wajah kaku bak Rio Dewanto itu. Cool maksudnya dingin apa keren? Mungkin perpaduan keduanya. Seperti halnya dengan perpaduan kaos putih bergambar starbuck dan topi bisbol merah hitam yang dikenakannya. Dia tampak sederhana namun tetap memancarkan daya tarik bak seorang princes charming ala buku-buku dongeng. Well, mungkin dia bukan pangeran tampan dengan kuda putih dan sederet pengawal pribadi dibelakang,  juga bukan aktor hollywood yang diincar paparazi kemanapun pergi. Dia adalah dia. Lelaki berkaos putih yang kulihat sangat menarik dengan kecuekan khas seorang pria.

Anganku terdorong untuk mengamatinya lebih seksama lagi. Mulai dari warna kulitnya yang tidak telalu terang, tidak pula gelap—sampai perkiraan tinggi badannya ketika berdiri. 170 cm mungkin. Ukuran standar untuk seorang cowok asli Indonesia. Cukuplah untuk membuat seorang wanita merasa kagum dan melirik penuh minat.

Apa yang kau kerjakan, hei pangeran berkaos putih?

Aku sungguh penasaran dan ingin melirik isi kepalanya lewat layar monitor itu. Dari penampakan, dia bukan seseorang yang kecanduan jejaring sosial, bukan pula eksekutif muda yang gila kerja bahkan di sebuah kafe beratapkan langit biru seperti ini. Tapi sedari tadi ia asik dengan komputer jinjingnya itu. Aku jadi iri pada tuts-tutsnya, atau pada layar monitornya. Sesekali aku berharap dia menoleh dan mendapatiku sedang menatapnya dan tersenyum. Sayangnya dia masih dengan posisi yang sama ketika pertama kali aku melihatnya—menatap lurus kedepan.

Biasanya aku selalu kesal dengan angkot yang tiap sebentar menepi meski yang berdiri di pinggir jalan itu tidak hendak menyetop, tapi hari ini pengecualian. Harusnya aku berterima kasih kepada sang supir yang agak lama berhenti di depan kafe itu. Di tengah rasa jengkel dan gerutuan kesal, tak sengaja mataku menangkap sosok charmingnya. Satu-satunya pengunjung kafe sehabis magrib berkumandang. Luar biasa indahnya dibawah kerlap-kerlip lampu yang berwarna-warni itu.

Tahukah kau apa yang kupikirkan lelaki berkaos putih? Will i see you again?

Angkutan yang kutumpangi berlahan beranjak dari depan kafe di jalan proklamasi itu. Dan untuk yang terakhir kalinya aku mengagumi lelaki berkaos putih dengan topi bisbol dikepala—mereka-reka, cerita apa yang bisa kutulis untuk mengenang beberapa menit yang menggelikan ini?

Berharap suatu saat dia nyasar ke blogku dan membacanya mesti tak tahu bahwa cerita itu kutulis untuknya....


Padang, 11 Juni 2012
 Pondok bakso di jalan proklamasi  




22 Februari 2012

Apa targetmu tahun ini?

harapan yang berceceran

Semua orang mulai mempertanyakan targetku tahun ini. Ah, mereka nggak tahu ya? Dari dulu aku nggak punya target. Karena bagiku target itu seperti arah bidikan dan harus tepat sasaran. Kalau tidak, itu bukan target. Jelas itu bukan mauku.

Aku tidak punya target apa-apa. Aku hanya punya harapan yang terlampau besar. Menggebu-gebu. Meletup-letup seperti petasan di malam tahun baru.

Jadi ketika mereka menanyakan harapanku tahun ini, aku hanya bilang "Aku ingin ibuku tersenyum melihat matahari yang tidak lagi menembus atap-atap berjendela itu. Aku ingin ibuku bisa menikmati hujan yang tempiasnya tidak lagi memenuhi lantai rumah yang berlumut itu. Aku hanya ingin ibuku bahagia. Itu saja."

....dan sepertinya ini bukan harapan setahun, dua tahun atau bertahun-tahun. Ini harapan selamanya...



19 Februari 2012

Carry Me Home

wanna go home


"Aku merindukanmu. Bisakah datang mengunjungiku?" tanyamu waktu itu. 

Aku bilang, "Aku masih sibuk di sini. Mungkin lain kali."

"Kau berubah."

Sejenak aku menghentikan kesibukanku siang itu. Mencerna-cerna kata-kata yang kau ucapkan. Atau sekedar mengingat-ingat, benarkah aku berubah?

Saat itu mungkin. Tapi andai kau tahu, aku selalu mencari cara agar bisa mengunjungi setiap waktu. Aku selalu mencuri-curi waktu sekedar membalas pesan-pesan yang kau kirimkan. Aku tahu kau tidak menyadari kehadiranku. Aku tahu kau bosan dengan kata-kataku yang itu-itu saja. Aku tahu semuanya, namun kupilih diam--saat itu.

Namun hari ini aku memenuhi janjiku. Perjuanganku melebih batas untuk segera menemuimu--andai kau tahu. Hari ini aku berada disini. Melangkah ragu-ragu memasuki duniamu kembali. Bahkan sekedar mengetuk pintu dan mengucapkan salam pun, gerakanku terasa kaku. Tapi aku tahu, di dalam sana kau sedang terpaku di depan jendela, menghitung waktu--mereka-reka kapan aku datang menemuimu.

Ruangan ini sangat berdebu, dear. Semua yang terlihat tampak usang. Aku bisa melihat kalender lama yang masih terpajang di dinding, juga abjad-abjad yang bercecaran tak berwujud kata. Ruangan ini sudah lama tak berbenah ternyata.

Aku masih melihatmu duduk di sana. Di tempat yang sama ketika terakhir kali aku meninggalkanmu. Tempat harapan-harapan bisa segera kau bisikkan, agar angin membawanya kepadaku. Di depan jendela dengan tingkap yang masih terbuka lebar.

"Aku datang, dear. Angin tidak pernah ingkar janji mengirimkan pesan-pesanmu padaku."

Kau menoleh, sedikit terkejut. Kemudian senyum itu kulihat menerbangkan debu-debu usang yang menyelimuti duniamu.

"Welcome back, dear de!"





10 Desember 2011

This is My December



December come to me
I hope I can see
You not just in dreams

10 Desember.
Ini hari ulang tahunku, temans.
Aku tahu kau selalu ingat dengan hari ini.
Aku tahu bahwa kau selalu membisikkan doa-doa ke udara, biar semilirnya menyampaikan doamu berlabuh padaku.
Dan aku tahu, tidak ada yang berubah meski kita tak lagi satu langkah.

 I will let you be
Why can't you believe
How much you really mean?

1/4 Abad.
Dulu kau bilang seperti itu, kan?
Dan kau dengar aku tertawa.
Tahukah kau? Sebenarnya saat itu ada sebuah kristal pecah di mataku. Aku menangis terharu. Haha...aku tidak pernah berubah ya? Terlalu sensitif. Tapi bukan cengeng.

December won't you come
Back with snow, even some
Don't say that it's done

Terima kasih, temans.
Karena kau pernah ada dalam 1/4 abad hidupku yang telah lewat.
Terima kasih untuk butir-butir telur, tepung terigu, dan cat semprot yang kau lukis pada seragam Putih Merah, Putih Biru, dan Putih Abu-abuku. Kau tahu? Saat itu tawa-tawamu bergaung ke angkasa. Mengalahkan warna-warni pelangi yang bertengger di sudut lengkung bumi. Kau membuat segalanya menjadi lebih berwarna. Like the sunrise. Like the sunset. Like the starlight. Seperti semua hal yang pernah sama-sama kita sukai.

Terima kasih untuk kue tart, lilin berangka 20 dan gumpalan-gumpalan cream yang berlepotan di wajahku. Saat itu rasanya aku terlihat seperti adonan. Tapi tahu kah kau? Pelukanmu malam itu mengalahkan hangatnya matahari yang membakar kulitku ketika siang itu berlari berebut bus bersamamu. Kau ingat berapa jumlah balon yang kau hias waktu itu? Aku ingat. Meski tidak dapat menghafal seluruh warnanya. Tapi aku tak pernah lupa dengan hukuman-hukuman yang kau berikan kepadaku. Sehangat pelukanmu, sehangat itu juga kurasakan kasihmu melekat. And I never forget it. Selalu tertinggal disini bersama kenangan tentangmu.


I will carry you home
Take you from the loneliest place
You have known

Ini 10 Desember, temans.
Hari jadiku.
Hari dimana ibu berjuang melahirkanku kedunia. Biar aku bisa melihat betapa indahnya hidup itu. Biar aku bisa bertemu orang-orang seperti kamu. 
Hari dimana semua orang tertawa ketika aku menangis meminta dekapan.
Hari dimana aku mulai melangkah.
Hari ketika cerita hidupku dimulai.



Dan ini lembar pertama setelah 1/4 abad berlalu.
Lembar dimana kutuliskan perasaanku kepada orang-orang yang telah mencintaiku dengan sepenuh hati. Tanpa pamrih dan tanpa basa-basi.

 Jika boleh mengutip sebuah ungkapan dari seorang temanku, maka aku juga akan mengatakan "I don't need 2 ask U such a special gift.. I know U deserve it much better than I ever had before.."
Kepada Tuhan. Keluargaku. Teman-temanku.

I will carry you home
Take me from the loneliest place
I have known

...dan kepada KAMU. Kamu yang ada dimasa depanku (still waiting for you to find me). Thanks for being love me :)

and finally, let's make a wish for something better in the future. HAPPY BIRTHDAY FOR ME


Love,

11 Juli 2011

Mengabjad kenangan. Semoga tidak satupun yang terlewat

Dear Bee,
Pernahkah kau membaca catatan #28 hari? Sebuah catatan yang meninggalkan jejak yang acak tapi saling berkisah. Aku sedang melakukannya kini. Dengan redup cahaya senter, ditemani lagu-lagu ten2five. Malam ini.
Sendiri.

Pernahkah kau baca? Jika belum, kuharap suatu hari aku bisa menecritakan kepadamu bagaimana kisahnya. Ya, suatu hari, aku, kamu--kita, akan duduk bersama. Bercerita lagi.

*****

Dear De,
Aku pernah mendengar dan melihatnya walau sekilas. Tapi benar, aku sama sekali belum pernah membacanya. Aku begitu ingin. 

Nanti. Ya, semoga selalu ada kesempatan dan hari esok....

*****

Dear Bee,
I Miss us, and all the things we've accidentally missed.
*****

Dear De,
Me too... and let the stories tell ho much we're missing.

*****

Dear Bee, 
Ya. Karena kenangan ternyata terlalu sedih ketika hanya diingat seorang diri. Semoga suatu saat aku bisa memenuhi janji untuk membagi kisah itu bersamamu. 

Semoga.

*****

Dear De,
Ya. I wish, de. Karena hanya kenangan itu yang kita punya.

Semoga....


*****

Beberapa waktu yang lalu, tanpa sengaja saya menemukan catatan #28 hari untuk selamanya dari sebuah dokumen scribd. Penasaran saya mem-print dan baru semalam sempat untuk membacanya. Briliant. Catatan itu benar-benar bagus. Dalam dan penuh kata-kata indah. Saya sampai berulang-ulang membaca saking terpesonanya.

Kemudian saya ingat, saya dulunya juga pernah melakukan hal yang sama bersama teman. Saling berkirim puisi melalui sms, sambung menyambung dan berkisah. Hahaha...saya bahkan menyalin sms-sms itu kedalam buku harian saya. Semalam, sehabis membaca catatan itu, saya kembali membongkar memori lama itu. Diary usang yang sudah lusuh, terhimpit kertas-kertas coretan tangan saya. Berdebu.

Saya ingat pindora itu. Dan ingat dengan janji saya untuk menyelesaikan Novel November Rain yang hampir setahun terbengkalai. 

Saya sedang berusaha mendata kenangan itu lagi. Merinci dan mengabjadkannya menjadi cerita. Semoga tidak satupun yang terlewat....

04 Juli 2011

Hari ke 4 di bulan Juli

seperti menengadahkan kepala menatapi langit berbintang dimalam hari, berharap salah satunya akan lebur di depan mata.
seperti berharap pada detik-detik waktu di bulan Juli. Berbisik lirih untuk keajaiban esok hari.
Dear Juli, please be magical...





04 Mei 2011

Aku = Pelabuhanmu Suatu Hari (I wish)



meskipun aku di surga mungkin aku tak bahagia,

bahagiaku tak sempurna bila itu tanpamu


lama sudah kau menemani langkah kaki di sepanjang 
perjalanan hidup penuh cerita

kau adalah bagian hidupku dan akupun menjadi bagian 

dalam hidupmu yang tak terpisah

 kau bagaikan angin di bawah sayapku

sendiri aku tak bisa seimbang, apa jadinya bila kau tak di sisi

meskipun aku di surga mungkin aku tak bahagia

bahagiaku tak sempurna bila itu tanpamu
aku ingin kau menjadi bidadariku di sana
tempat terakhir melabuhkan hidup di keabadian

bila nanti aku kehilangan, mungkin itu hanya sesaat

karena ku yakin kita kan bertemu lagi

tanpamu tak akan sama

(Lirik Tempat Terakhir by Padi)


10 Desember 2010

Bingkisan Spesial



Seharusnya ada seseorang disini menemaniku meniupkan harapan itu.
Seharusnya ada seseorang yg merangkulku memberikan kekuatan.
Seharusnya ada tawa dan air mata haru melengkapi saat ini.
Dan seharusnya aku tidak merasa hampa dan kesepian.
Ya, seharusnya ada mereka disini, menemaniku.
Nyatanya aku masih meraba mimpi dalam harapan itu.
Mungkin sudah saatnya terjaga bahwa memang aku tidak lagi memilikinya disini.
Hanya kenangan.
Ya, hanya itu.

Seharusnya ada kamu disini, temans.
Tapi aku tahu doamu akan slalu menyelimuti decemberku...

****

Beberapa waktu yang lalu, aku menuliskan 2 buah cerita untuk seorang teman yang berulang tahun. Meski ceritanya tidak begitu sempurna dan masih sangat sederhana. Tapi aku tahu, dia begitu menyukainya. Dan istimewanya, cerita itu aku tulis berdasarkan perjalanan panjang kami. Ya, kami. 

November Rain, Dongeng Bee dan Belalank--begitulah judulnya. Cerita itu aku kirimkan tepat di malam pergantian usianya--membuatnya menangis terharu. Dan aku sadar, tidak ada yang lebih indah sebenarnya, selain melihatnya tersenyum sembari menitikkan air mata haru. 

Dan dia menuliskan puisi ini disela pergantian usianya, membuatku menitikkan air mata juga.
Wieke Beliana 26 November jam 22:29  
Dear God.....
Dari kisah yang pernah ku dengar...
Mereka selalu mengatakan
bahwa permintaan di malam pergantian usia itu seperti keajaiban..
Seiring dengan padamnya lilin yang ku tiupkan..
Aku tak meminta banyak...
Karena aku percaya Kau telah memberikan kebahagiaan dan anugerah
yang tak terhingga kepadaku..
Seandainya keajaiban itu masih milikku...
Aku ingin meminta 1 detik saja untuk merasakan kembali perasaan itu..
Ketika aku berada di tengah-tengah mereka..
Melepas tawa,mengurai air mata...
Aku menikmati getirnya..
Mendamba tangis bahagianya..
Mungkin ini terdengar konyol
Tapi ku tak peduli..
Karena air mata terindah yang pernah ku teteskan
adalah ketika ku terluka dan tertawa bersama mereka.....

De Rawit 26 November jam 23:17
Dear God,
tolong kabulkan harapan kecil itu sebagai hadiah ulang tahunnya.
sekali saja, biarkan ia membuka pindora kenangan itu. lalu merasakan hangatnya mengalun ke dalam sukma.
kabulkanlah Tuhan, karna ia percaya keajaibanMu...
*****

10 Desember.
Ketika mengingat tanggal itu, rasanya ingin melewatinya begitu saja, tanpa harapan dan doa-doa selamat ulang tahun. Nyatanya, setiap tanggal itu kembali berhenti di depanku, aku sadar sangat merindukan kenangan yang menghiasinya.

Tapi aku tahu, hidup tidak melulu tentang hari kemarin dan kenangan. Hidup terus berjalan, begitupun aku. Jadi, aku membiarkannya lewat dengan lambaian selamat tinggal. Sebab aku tahu, meski melangkah lebih jauh, sesekali ia akan menoleh ke belakang--memastikan bahwa aku baik-baik saja di sini.

*****

Close my eyes and make a wish :
"Dear God, jika satu kali saja boleh meminta, tolong beri nama pada harapan ini. Jangan biarkan ia berjalan tanpa berujung titik. Amiin.."  

"..dan jalan itu semakin mendaki.
dan aku harus berjalan merunduk untuk sampai ke sana. 
berikan kekuatan Tuhan, agar tidak tergelincir lebih jauh lagi. Amiin..."

Happy b'day to me...