Tampilkan postingan dengan label Pariwisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pariwisata. Tampilkan semua postingan

08 Januari 2013

Napak Tilas-Ke Rumah Bung Hatta

Saya tidak pernah merencanakan tahun baru kemana. Bikin acara apa. Sejak kecil saya hanya menikmati pergantian tahun dengan memandang langit malam. Memandang bintang-bintang. Membayangkan kembang api bercahaya di langit malam. 

Pernah sih, satu kali saya ikut merasakan moment tahun baru dengan mendaki Gunung Marapi. Menikmati sunset pertama di bulan Januari dari puncak gunung. Itu adalah hal paling luar biasa yang pernah saya rasakan. Bagaimana tidak, tanpa perencanaan. Tanpa tahu medan, tahu-tahu saya sudah berada di cadas--ikut bergerak bersama pendaki-pendaki lainnya. It's a greats moment. Saya merasa seperti sang petualang sejati.

Tahun ini, saya tidak merencanakan kemana-mana juga. Namun dikarenakan liburan cukup panjang, saya terpaksa harus merencanakan perjalanan juga. Ya, saya sedang jenuh dan ingin bersenang-senang. Jadilah, pada tgl 31 Desember saya dan teman-teman "kabur" ke luar kota untuk merefreshkan otak. Tidak jauh sih. Bukittinggi menjadi tujuan perjalanan kami.

Well, dikarenakan perencanaannya mendadak, jadi kami tidak punya tujuan kemana di Bukittinggi itu. Semua tempat rasanya sudah kami jelajahi. Hmm...Oh, ada. Rumah Kelahiran Bung Hatta. 

Iya, kami penasaran sekali ingin berkunjung ke sana. Ya, sekedar napak tilas pada sejarah Indonesia. This the picture: 

Kalo gak narsis di dekat papan penunjuk, gak seru ya? :)

Mengisi buku tamu

Ruang tamu

Foto-foto bercerita tentang sejarah

Berpose di depan Foto Pak Hatta

Saya mencoba menjadi guide :)

Catatan tentang seorang tokoh proklamator Indonesia

Bersama Ibu Desi--Pengurus Rumah kelahiran Pak Hatta





Saya tidak pandai bercerita mengenai Pariwisata apalagi Sejarah. Tapi mudah-mudahan foto-foto ini bisa menceritakan kepada kalian, bahwa napak tilas itu menyenangkan disamping bisa menambah pengetahuan. Sebagai generasi muda, tentunya kita perlu mengetahui apa yang terjadi dimasa lalu sebelum melanjutkan hidup membangun masa depan. 

Kalo kalian ingin berkunjung ke sini, cukup datang saja ke Kota Bukittinggi (Jam Gadang), dari sana kalian bisa mencari alamat :

Jl. Soekarno Hatta No. 37
Kelurahan Aur Tajungkak Tengah Sawah,
Kecamatan Guguh Panjang, Kota Bukittinggi
Sumatera Barat
Telp. 0752-644488

atau kalo kamu tahu Pasar Bawah (Pasar Banto) Bukittinggi, letaknya nggak jauh-jauh kok dari sana. Kamu cukup tanya saja orang yang lewat. 

Jadi selamat berkunjung ya. 


11 Desember 2012

The Charming of West Sumatra. Please Coming

Santai di Pantai Gandoriah--Pariaman
View Kota Bukittinggi dilatarbekalangi Gunung Marapi
Senja di Taplau--Padang.
Aripan--Solok. Di sela-sela pohon pinus
View Kota Bukittinggi. Diambil dari lantai 3 Rocky Hotel




23 September 2012

Catatan Terakhir Tentang Hari Minggu




@Taplau, 17.45

Perjalananku selanjutnya berhenti di pinggir laut jalan samudera. Taplau kami biasa menyebutnya. Tempat kita menghabiskan sore pada masa lalu. Kita. Ya, kita. Aku dan kenanganku.

Matahari berwarna orange, lebih tepatnya kuning keemasan ya? Ombak tidak begitu besar, namun deburannya cukup menggetarkan batinku.



Tepian itu penuh dengan sampah. Tidak ada orang-orang bermain voli pantai seperti halnya di tepi pantai di Pariaman—kampung halamanku. Ah, abrasi mengikis daratan perlahan-lahan.  

Oh ya, aku terpaksa menulis dengan buku catatanku kini. Baterai laptopku sudah menunjukkan angka 5%. Sepertinya ia sudah tidak berenergi lagi untuk mengikuti perjalananku yang masih terus berlanjut. Terpaksa ia harus tinggal di dalam ransel pengap itu.

Kali ini aku tidak akan menulis panjang-panjang, hanya menggambarkan apa yang kulihat disekitarku.

Ada pria aneh duduk tak jauh dari sebelahku. Entah turis atau penduduk asli. Penampilannya seperti backpacker. Tapi dia bukan bule. Mungkin seorang petualang.


Aku memesan mie goreng dan sebotol teh dingin. Sambil terus menulis sesekali aku menggulung mie dan menyuapnya ke mulut. Hmmm…hari ini aku mengabaikan kolesterol yang menggila ditubuhku. Tidak apa-apa, kan Ibu dokter? Hari ini saja kok! 

Sunset kali ini tidak seperti biasanya. Aku tidak bisa menikmatinya tenggelam dibatas cakrawala. Awan kelabu menenggelamkannya terlebih dahulu. Langit seolah redup. Mungkin akan turun hujan malam nanti. Sebaiknya aku bergegas menelan mie gorengku. Lalu beranjak pulang.

Tidak ada golden sunset hari ini. 






Masih Tentang Minggu





@Museum Adityawarman, 14.43


Masih tentang hari minggu.
Setelah makan di warung nasi ampera yang kutak tahu namanya, akhirnya aku melanjutkan perjalananku—mencari tempat yang nyaman untuk menulis.

Sebelumnya aku sempat melintasi jalan Permindo yang orang bilang Malioboronya kota Padang. Aku tak tahu apa benar-benar mirip. Aku belum pernah ke sana, namun punya harapan besar untuk berkunjung kesana. Ya, itu impianku. Datang ke Jogjakarta.

Ada banyak keriuhan disini. Mulai dari penjual sepatu yang bersemangat membujuk para shopaholic, cekikikan muda-mudi yang asik nongkrong maupun berjalan kaki, dan musik-musik asik yang diputar oleh penjual kaset bajakan. Ganggam style dan lagu-lagu Noah sepertinya sedang menjadi hits.

Tiba-tiba terlintas di benakku tempat itu. Tempat yang belakangan sering ditinggalkan dan terlihat sepi. Dengan bersemangat, kulangkahkan kaki menuju tempat itu.



“Selamat datang di Musem Adityawarman! Silahkan mengisi buku tamu.”

Saat memasuki tempat itu seorang pemuda menyapaku dengan hangat. Dengan senyumnya yang ramah, ia mempersilahkanku mengisi buku tamu, meminta identitas serta saran untuk pengembangan museum ini.

“Mungkin promosinya lebih ditingkatkan lagi, Uda. Trus bikin even-even menarik yang bisa dinikmati pengunjung selain melihat-lihat koleksi.”

Selanjutnya akupun berkeliling. Sempat terharu, ternyata masih banyak minat orang-orang berkunjung ke sini--melihat-lihat peninggalan sejarah dan kebudayaan Minangkabau.



Aku sempat memotret beberapa koleksinya dan tugu-tugu simbol perjuangan masa lalu. Oh, aku baru tahu apa kepanjangan PADANG itu. Nanti deh, kuperlihatkan fotonya.


Ada beberapa pemuda bermain gitar di depanku. Serta beberapa pasang muda-mudi duduk tak jauh dari tempatku berada. Aku tidak merasa iri lagi dengan kesendirianku. Kata orang hidup itu untuk dinikmati, baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama. Jadi aku hanya melirik mereka sesekali sambil ikut bersenandung bersama.

Sebelum menulis lagi, kusempatkan mencek e-mail dan inbox facebookku. Dan ternyata banyak pemberitahuan. Baik itu sekedar permintaan pertemanan maupun komen-komen status. Mataku berhenti pada kalimat-kalimat yang dituliskan temanku dibawah cerita yang kupublish beberapa jam yang lalu. Satu persatu air mataku tumpah. Finally. Mendung itu akhirnya menjadi hujan. Ternyata langit masih menyimpan warna-warni pelangi yang sudah kulupa seperti apa bentuknya. Aku tersenyum. Untuk kesekian kalinya merasa lega. Beban dikepalaku terbang entah kemana.

“You’re never walk alone, de.”  




Hahaha…ada pesta di gereja dekat museum. Backsoundnya terdengar sampai ke sini. Mungkin pernikahan atau acara-acara lainnya yang aku tidak tahu. Yang kudengar banyak lagu-lagu batak dinyanyikan. Aku tak mengerti, yang kumengerti ada gelembung-gelembung bahagia di udara—menemani perjalananku.  

Masih ditemani petikan gitar pemuda diseberangku, aku membayangkan wajah-wajah teman lama. Anak-anak UKS yang dulu sering menghabiskan malam-malam bersamaku. Memetik gitar, memandang bintang-bintang dan makan ikan bakar bersama. Teringat juga dengan acara bakar-bakarnya yang berantakan karena salah satu dari kami kerasukan makhluk halus. Apa kabar kalian? Masihkan ingat momen-momen penuh kenangan itu? Rindu kalian sangat.



“Dek, bisa ambilkan fotonya?” 

Hahaha…aku baru saja meminta seseorang untuk memotretku. Still narsis. Look! Ada gadis-gadis mencoba berpose ala chibi-chibu. Nice. Dan itu, ada bapak narsis yang minta difotokan anaknya yang mungkin masih berusia 5 tahun. So funny. Dan mereka, pasangan serasi itu. “Ingat hari ini ya, beb.” Hahaha….ada bahagia dimana-mana.

Banyak kenangan yang berpendar di sini. Di sudut rumah adat itu, di taman, di sela-sela rangkiang, di dekat pelaminan, atau bersama penjual sate dan makanan lainnya. Di sini juga, di bawah pohon kelapa tempat aku dan ransel serta laptopku yang sedang menulis tentang kenangan.



Hari Mingguku kali ini luar biasa. Aku tidak pernah merasa sepuas ini setelah menulis. Sampai sesore ini langkahku tidak bisa dihentikan jemariku masih sama gesitnya dengan angkutan yang lalu lalang di jalanan sana. Aku bertemu banyak manusia. Berpasang-pasang kekasih, sekumpulan muda-mudi, penjaja makanan, pengemis, pengamen jalanan, para pencari kerja, shopaholic, pemburu momen dan sebagainya. 

Aku disini memperhatikan mereka satu persatu, mencoba mereka-reka isi kepalanya, menggambarkan apa yang ada di mimpinya atau sekedar membantu mereka mengekspresikan apa yang tak bisa dimengerti oleh orang lain.

Aku di sini melihat, mendengar dan merasakan bahwa ada banyak bahagia bertebaran di sekitarku—andai aku mau sedikit saja lebih dekat. Tidak ada yang benar-benar sendiri sebenarnya—andai aku mau mengakui. Dalam hidup terkadang kita mencari penyalahan sendiri atas apa yang tidak kita mengerti. Menyalahkan perasaan. Menyalahkan keadaan. Menyalahkan kesendirian.

Benarkan, tidak ada yang salah dalam ke-abnormalanku?  

….dan mungkin untuk itulah hari ini Tuhan menggerakkan langkah dan pikiranku—berkelana ketempat-tempat di mana aku bisa belajar dari hal-hal sederhana.



Lain kali aku akan berjalan tanpa terburu-buru. Aku akan lihat sekeliling. Barangkali ada yang bisa kupelajari darinya.

Hei, apa kabarmu senja? Masihkah kau menyimpan golden sunset untukku? Tunggu, aku akan mengabadikanmu disana.

“….teruslah berjalan, de.”







Tentang Hari Minggu





@Lapangan Imam Bonjol, Padang. 11.13

Hai, apa kabarmu siang ini? Di sana masih pagi tentunya ya? Pagiku tidak sebaik biasanya. Rasa jenuhku mengalami titik puncaknya. Aku terpaksa meninggalkan semua kepenatan itu di rumah. Aku meninggalkan cucian yang menumpuk di sudut kamar mandi. Piring-piring kotor di depan pintu. Setrikaan yang mengeriting seperti sampah di atas kasur.  

Aku melarikan diri akhirnya setelah dari kemarin kutahan untuk tidak menghilang. Oh ya, Ibu kos akhirnya mengundangku untuk datang ke upacara pernikahan putrinya 2 jam sebelum acara dilangsungkan. (apa karena merasa tersindir sebelumnya?).

Aku terpaksa bohong pada keluarga untuk tidak pulang karena kuliah, juga pada teman-teman kos yang berharap bisa pergi bersama ke acara pernikahan itu. Aku memang tidak kuliah hari ini, karena jadwal kuliahku baru dimulai minggu depan.

Sebenarnya aku ingin pulang, tapi aku tak tahu ada kekuatan apa yang menahahan langkahku di sini. Sebagian hatiku terasa kosong. Rasanya ingin menangis tapi tak bisa dan akupun tak tahu bagimana bisa dan karena apa?

Tidak ada yang mau kuajak karokean apalagi sekedar menemaniku melarikan diri. Mereka sudah ada acara masing-masing. Janji dengan seseorang. Huh, aku iri. Aku lupa, kapan terakhir kali aku membuat janji berhari minggu dengan seseorang (yang spesial mungkin?). Apa kabar mingguku yang selalu habis tanpa disadari? Sekali disadari, Senin pun sudah menyapa. Kali ini aku mencoba mengingat-ingat, apa yang pernah terjadi dengan minggu-mingguku selama ini.

Baru-baru ini ada satu kata asing yang mengakrabiku. “ABNORMAL”. Apa karena perasaanku yang tidak menentu? Atau karena aku terlalu mendramatisir keadaan? Mungkin aku sedang tidak waras dan ketidakwarasan itu membuat hidupku lebih tenang.

Aku memperhatikan wajah-wajah orang di sekitarku. Di angkot, ada wajah letih sehabis berbelanja di pasar. Wajah cemas mahasiswa yang mungkin terlambat kelas minggu. Lalu wajah tenang tanpa beban. Lalu apa yang mereka lihat dari diriku? Wajah galau ala abege, kah? Atau wajah linglung seorang yang abnormal.

Aku menyusuri jalan-jalan kenangan tempat aku biasa melarikan diri—menghabiskan waktu dengan kesendirian.

Aku melintasi kantor pos. Masih ada orang-orang yang tak menyerah dan tak berhenti untuk berharap. Hampir setahun yang lalu, aku masih menjadi bagian dari mereka, bersyukur, masa-masa sulit itu sudah lewat.

Menyusuri jalanan teduh di sekitar SMA Don Bosco. Aku ingin mengunjungi taman bacaan kecil di depannya. Koleksi-koleksi bapak tua itu membuatku terkagum-kagum. Aku merasa beruntung seseorang pernah memperkenalkan tempat itu padaku. Sayangnya, tempat itu tidak terisi lagi. Entah kemana taman bacaan itu perginya. Pindah ataukah benar-benar mati. Atau terjadi sesuatu pada si bapak tua?

“Kau catat saja, buku apa yang mau kau pinjam?”
“Tanpa jaminan, pak?”
“Jaminan? Ah, sudahlah. Aku percaya padamu”

Aku ingat percakapan kami waktu itu. Hanya dilandasi rasa percaya, aku bisa membawa setumpuk bacaan pulang.

Tidak ada tempat itu lagi sama halnya dengan Perpustakaan Daerah yang kini menjadi puing-puing tak berbentuk. Tidak ada tempat lagi yang nyaman untuk melarikan diri.

Lalu akhirnya aku teringat tempat ini. Memang tidak ada buku-buku, tidak ada musik melankolis, tidak ada tempat duduk yang empuk atau karpet yang licin. Hanya ada rumput-rumput hijau tak terawat. Sampah-sampah bertebaran. Ada orang di setiap sudutnya. Sendiri-sendiri. Berpasangan. Ataupun bersama-sama.

Aku sengaja memilih tempat di bawah tiang besar menghadap ke lapangan besar tempat orang-orang bermain bola. Ada sepasang kekasih tidak jauh dari tempatku duduk. Yang kudengar mereka tidak bicara tentang cinta. Hanya bersekedar bicara meski tanpa tema. Apa benar mereka pasangan? Entahlah. Yang kulihat mereka tampak bahagia.

Beberapa kali penjaja kue, menawarkan dagangannya padaku. Telur asin, kacang rebus, bakwan, asinan dan berbagai minuman kaleng.

“Terima kasih, bu. Saya sedang tidak ingin mengemil.”

Aku hanya ingin menulis di sini sembari mendengarkan lagu-lagu favorit dari ponsel genggamku. Ah, sepertinya itu tidak akan bertahan lama. Baterainya sudah memerah.

Aku teringat suara pengamen jalanan tadi. Dengan gitar akustik di tangan, ia memetik dan berdedang tanpa beban. Oh, suaranya begitu tenang begitu juga dengan wajahnya. Tidak kalah tampan dari Ariel yang sedang hangat-hangatnya diperbincangkan. Sepertinya selembar ribuan tidak pantas kuberikan untuknya. Kendati sedikit ia sudah membuat hatiku mulai damai.

Hei, sudah berapa lama aku di sini? Orang-orang sudah mulai menghilang. Lapangan sudah kosong, taman-taman mulai terkena panas, tidak banyak yang lesehan dengan tikar di rumput. Tapi aku masih disini. Masih harus menyelesaikan catatan yang tidak berjudul ini.

Apa kabarmu di siang ini? Sedang menjelajahi kota-kota asing itukah? Apa hari minggumu menyenangkan?

Aku sebenarnya iri padamu. Di kota ini aku hanya bisa berjalan beberapa kilo yang aku mampu. Backpackeran sendiri? Kemana? Apa ada orang yang mengerti bahwa kadang kala seseorang ingin menghabiskan waktunya sendiri—mendatangi tempat-tempat yang indah lalu menikmatinya sendiri. Di sini tidak ada yang seperti itu. Kalau kau sendiri, maka kau terlihat aneh. Kadang aku ingin tak perduli apa yang mereka bicarakan. Tapi nyatanya, aku menyimpan kata-kata itu dalam benakku. Betapa kesepiannya aku.

Aku tidak perduli dengan penampilan. Bahkan dengan umur yang mendekati “tua” pun seolah tidak berarti lagi kini. Masa-masa 17an sudah lewat dan setelah itu, hanya masa-masa ketika kau butuh hidup dan terus berjalan maju.

Hari ini aku memakai stelan yang tidak matching. Temanku bilang, ini terlalu preman. Tapi what ever. Aku hanya ingin mengenakan ini. Celana gunung yang kubeli sebulan yang lalu terasa nyaman dipakai daripada jeans yang kancingnya sudah tanggal karena mamakainya terburu-buru. Beberapa jam yang lalu aku sudah mempersiapkan dress biru bermotif batik di atas kasur. Rencananya akan mengenakannya untuk acara pernikahan anak ibu kos, sayangnya yang kukenakan kali ini malah kaos putih bertuliskan I LOVE PARIAMAN dengan cardigan abu-abu diluarnya. Aku merindukan pulang jadinya.

Tak terasa sudah 4 lembar halaman kuhabiskan. Jarum jam di pergelangan tangankupun mulai merangkak pelan-pelan. Sudah jam 1. Artinya sudah 3 jam aku disini. Orang-orang mulai memperhatikanku. Mulai penasaran dengan apa yang kutulis. Selangkah dua langkah mereka mendekatiku, melirik diam-diam pada laptop dipangkuan. Atau sekedar menatapku bertanya-tanya, “Apa perempuan ini wisatawan yang sedang menuliskan cerita petualangannya? Atau wartawan?”

Ah, mereka mau tahu saja. Ya, aku memang orang asing yang tersesat ke tempat kumuh ini. orang asing yang rela duduk lesehan bersama sampah-sampah penjaja makanan yang tidak bertanggung jawab akan kebersihan. Aku juga wartawan yang sedang menulis cerita untuk dibaca oleh orang-orang yang ingin membacanya.

Hohoho…ada manusia tak tahu malu disini. Seenaknya kencing di antara bunga-bunga yang sedikit rimbun. Hey…kau sebagai seorang lelaki yang sudah matang, di mana malumu? Di mana jiwa kepemimpinanmu? Kenapa memberi contoh yang tidak baik bagi generasi muda yang ada di sini. Nah, itu juga. Di depanku seorang ibu-ibu juga membiarkan anaknya kencing sembarangan padahal tak jauh dari tempatnya ada ruangan dengan tulisan yang dibold tebal, TOILET.

Saya mengerti, kenapa generasi muda sekarang tidak perduli dengan lingkungannya? Kenapa tidak ada rasa malu dan menghormati sesama. Karena tidak ada lagi contoh yang baik yang seharusnya mereka dapatkan. Tidak ada yang mengajarkan kebaikan sedini mungkin. Ah, aku segan, budaya malu sudah menipis di negaraku.

Hei…waktu sepertinya sudah benar-benar beranjak. Perutku mulai terasa lapar. Sebaiknya aku mencari makanan dulu sembari melihat-lihat, mungkin saja ada tempat nyaman lainnya untuk aku melanjutkan catatan tentang minggu ini.

Ya, sudah. Terpaksa kumatikan laptop, memasukkanya ke ransel dan menyampirkannya ke bahu. Ugh, terasa berat dan mengesalkan, penitipan tas itu menyuruhku untuk terus membawanya.

Sampai nanti ya. Aku masih akan menceritakan tentang minggu ini padamu. Tunggu saja, aku sedang lapar.   



07 Mei 2010

Hogwart Express in West Sumatra??

Do you believe that? Hogwart Express in West Sumatra. Hehe...Judulnya bikin penasaran bangetkan? Sengaja aku bikin kayak gitu, biar banyak yang protes sekalian penasaran. Hehe..makanya baca ya... :p
Tahu sama kereta yang ini? Pasti tahu lah ya, apalagi buat kamu yang suka sama film Harry Potter.  Ini adalah Hogwart Express, kereta api ajaib yang mengangkut para pelajar antara kota London dan Hogsmeade. Kereta api bermula dari Platform 9¾ stesen kereta api King's Cross.   

Kereta ini adalah jenis kereta yang sudah terkenal. Pantai Barat rel kereta di dataran tinggi Skotlandia menyediakan mesin dan kereta api untuk filmnya. Banyak dari rute yang dilalui dalam film itu adalah sama dengan Yakobit Uap. Kereta ini berangkat dari Fort William dengan pelayanan pulang-pergi ke Mallaig, melewati pemandangan indah di sepanjang jalan.


Nah kalo yang ini tahu?? Pasti nggak banyak yang tahu deh, kecuali penduduk setempat or warga Sumbar pada umumnya. But, nggak semuanya juga yang tahu dengan kereta yang ini. 

Ini adalah kereta api route Padang-Padang Panjang. Sudah sekian lama nggak dipakai, kabarnya route ini akan dibuka kembali. Hanya saja, sampai saat ini belum terlaksana, pasalnya banyak  sekali bencana yang datang di daerah Sumbar, apalagi di daerah sekitar route. Longsor dan jembatan yang ambruk, membuat perbaikan pengoperasian rel kereta api, menjadi terganggu. Tapi tenang saja, masih ada route lain yang bisa dioperasikan, yaitu Padang Panjang - Sawahlunto. So, kereta api yang dinamakan "Mak Itam" ini tetap akan beroperasi. Viewnya nggak kalah menarik kok, melalui route ini kita bisa melihat pemandangan Danau Singkarak yang cantik. Hanya saja, aku nggak dapat fotonya. Ntar deh. ^_*

Lalu, apa yang membuat ku membandingkannya dengan kereta Harry Potter?? Sebenarnya nggak jauh beda sih. Viewnya sama-sama menarik, diperbukitan nan hijau. Routenya sama-sama menantang, seperti menggantung di awang-awang. Trus sama-sama dikendalikan dengan lokomotif uap. Hanya saja, satu di luar negeri, satu didalam negeri. But, dari sini kita bisa tahu kan, Indonesia punya semuanya, hanya saja belum dipugar dan dimanfaatkan dengan baik. Yach, mudah-mudahan aja ntar. Siapa tahu, daerah ini  beneran bakal jadi tempat syutingnya Harry Potter and Hogwart Expressnya. Secara viewnya memungkinkan banget kan? Hehehe...


Oh iya, kalo kamu penasaran ini daerahnya dimana, baiklah akan aku jelaskan. Hihihi...lagaknya. Ini adalah daerah menjelang pintu gerbang masuk kota Padang Panjang tepatnya di daerah Silaing Bawah terdapat jembatan tinggi. Jembatan tinggi ini merupakan jalur rel kereta api Padang Panjang - Padang.  Jembatan ini dibangun pada zaman penjajahan Belanda dengan ketinggian kurang lebih 20 meter dari atas permukaan jalan raya.  

Dengan kerangka besi baja yang kuat, jembatan ini membentuk setengah lingkaran menghubungkan bukit barisan  di sebelah kanan dan kiri jalan dan berada tepat di atas jalur sungai Batang Anai. Jembatan tinggi ini memiliki keunikan tersendiri karena merupakan satu-satunya rel kereta api di Indonesia yang berbentuk setengah lingkaran, melengkung ke bawah.  

Wow, satu-satunya di Indonesia. Keren nggak tuh?? Biar dikata Sumbar rawan gempa, tapi nggak membuat ku berhenti mencintainya kok. Aku bangga jadi orang Sumbar, orang Minangkabau, dan yang pastinya aku bangga jadi orang Indonesia.

MERDEKA...!!! 

****
Gambar dicopas di sini, di sini

15 April 2010

Landscape of West Sumatra Vol. 1

Teman aku nambah lagi, kali ini dari dunia fotografer. Kenalnya lewat Facebook. Aku suka sama hasil jepretannya, makanya aku add. Eh, dianya mau dijadiin teman. Aku kenalan and ngobrol. Sebagian mereka ada yang tergabung sebagai dalam thePATIAKers Genk Fotografer Sumbar.

Meski nggak begitu ngerti sama fotografi, tapi aku ngerasa bangga aja, mereka motret landscape di Sumatera Barat. Semuanya indah-indah. Makanya aku tertarik buat menuliskan latar dari foto-foto tersebut. Sekalian ngenalin Indahnya Ranah Minang pada teman-teman semua.


paralayang di Puncak lawang, dengan latar Danau Maninjau

Puncak-Lawang adalah suatu daerah yang terletak di Kabupaten Agam, sering digunakan sebagai tempat diselenggarakannya kejuaraan olahraga paralayang internasional. Menurut para penggemar paralayang, Puncak Lawang merupakan lokasi terbaik di Asia Tenggara untuk olah raga tersebut. 

Di atas puncak yang berketinggian ± 1.210 m di atas permukaan laut, kita dapat menikmati keindahan kawasan Danau Maninjau dan Samudra Indonesia. 

Untuk mencapai kawasan Puncak Lawang, kita akan melewati perjalanan dengan 44 belokan. Itu sebabnya rute ini dinamakan Kelok Ampek Puluah Ampek, yang dalam bahasa Indonesianya tikungan 44. 
Danau Maninjau nan sepi
Danau-Maninjau merupakan danau vulkanik, luasnya sekitar 99,5 km². Cekungannya terbentuk karena letusan gunung yang bernama Sitinjau (menurut legenda setempat), hal ini dapat terlihat dari bentuk bukit sekeliling danau yang menyerupai dinding. 

Menurut legenda di Ranah Minang, keberadaan Danau Maninjau berkaitan erat dengan kisah Bujang Sembilan. Danau ini tercatat sebagai danau terluas kesebelas di Indonesia. Sedangkan di Sumatera Barat, Maninjau merupakan danau terluas kedua setelah Danau Singkarak. 

Danau Maninjau merupakan sumber air untuk sungai bernama Batang Antokan. Di salah satu bagian danau yang merupakan hulu dari Batang Antokan terdapat PLTA Maninjau. Puncak tertinggi diperbukitan sekitar Danau Maninjau dikenal dengan nama Puncak Lawang. 

Untuk bisa mencapai Danau Maninjau jika dari arah Bukittinggi maka pengunjung akan melewati jalan berkelok-kelok yang dikenal dengan Kelok 44 sepanjang kurang lebih 10 km mulai dari Ambun Pagi sampai ke Maninjau. 
 Cubadak Islan nan hijau

Pulau cubadak atau Cubadak Island adalah salah satu pulau yang terletak di Kabupaten Pesisir Selatan Sumatera Barat, yang telah dikenal  hingga ke mancanegara. 

Pulau Cubadak menawarkan keindahan wisata bahari yang sangat memukau dan tidak kalah dari objek wisata lainnya. Pasir pantai di pulau ini berwarnah putih dengan air laut yang juga sangat bersih dan tenang. 

Di pulau ini terdapat sejumlah penginapan yang didesain alami dan menyatu dengan alam. Pengunjung pulau cubadak kebanyakan wisatawan mancanegara yang berasal dari negara eropah. Pengelola pulau cubadak menetapkan tarif 150 dollar atau sekitar 1 juta 5 ratus ribu rupiah satu malam untuk satu orang. Pulau dengan luas 16 koma 5 hektar, saat ini dikelola warga negara Itali dengan sistem kontrak selama 40 tahun.

Untuk bisa sampai ke Pulau Cubadak,  harus menggunakan kapal wisata sekitar 15 menit dari pelabuhan Mandeh Kabupaten Pesisir Selatan. Perjalanan selama 15 menit, tidak akan membosankan karena banyak keindahan alam yang bisa dinikmati dari atas kapal.
 
 Puncak gunung yang misterius
Gunung Singgalang merupakan sebuah gunung yang terdapat di provinsi Sumatera Barat, Indonesia dan mempunyai ketinggian 2,877 meter. Gunung Singgalang mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung.

Dari bentuknya, gunung ini sangat mirip dengan Gunung Merbabu di Jawa Tengah. Gunung ini mempunyai telaga di puncaknya yang merupakan bekas kawah, Telaga itu dinamai Telaga Dewi. Singgalang sudah tidak aktif lagi dan hutannya sangat lembap karena kandungan air yang banyak.


...be continue...